Penglihatan Angga sudah mulai kembali. Ia perlahan bisa melihat dengan jelas. Matanya langsung melihat ke arah dada. Di sana tertancap sebulah katana. Katana itu seharusnya menusuk jantung dan bahkan menghancurkan tulang punggungnya. Tapi, tidak terjadi pendarahan sama sekali. Seakan katana itu hanya menikam jiwa dan mengurungnya pada ilusi tidak terbatas di dunia jiwa. Menikam seseorang ketika tidur adalah perbuatan licik menurut Angga. Dan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan.
Angga menggenggam katana itu. Membuat pria di depannya terkejut dengan apa yang dilakukan Angga. Katana itu ditarik oleh Angga hingga terlepas dari tubuhnya. Karena terkejut, pria itu mundur beberapa langkah dengan cara melompat. Ia memgambil sebilah katana yang disandarkan di samping dirinya. Kemudian, pria itu menarik katana yang ia genggam. Memperlihatkan katana dengan bilah berwarna merah menyala.
"Menikam seseorang ketika sedang tidur, itu adalah perbuatan yang licik," ujar Angga dengan nada kesal ketika berhasil menarik katana yang memerangkap jiwanya itu dari dada. Sebenarnya, Angga bersyukur karena hanya jiwanya saja yang diperangkap dan itu tidak melukainya secara fisik. Jika katana itu menikam jantung hingga menghancurkan tulang belakangnya, Angga akan merasakan rasa yang lebih sakit daripada tusukan preman di kehidupan sebelumnya.
Pria itu menarik napas dan mengembuskannya sekali. Ia memasukan kembali katananya lalu menaruh di pinggang. Kemudian, pria itu membungkukan badan layaknya seorang ksatria. "Salam kenal, mungkin? Namaku adalah Anzel. Sepertinya kau sudah tahu, aku adalah perwujudan dari kelicikan."
Seperti yang dikatakan oleh Anzel, ia adalah perwujudan dari dosa kelicikan. Sosok pria yang bisa dikatakan tampan itu merupakan kelicikan itu sendiri. Ia adalah salah satu sosok iblis perwujudan dosa yang memegang atas konsep dosa. Kekuatannya tidak dipertanyakan lagi. Dalam wujud aslinya, ia bahkan melampui konsep ruang-waktu dan hierarki dunia yang berisi dimensi yang tidak terhingga. Menghancurkan hierarki dunia adalah sepotong kue untuknya. Namun, saat ini seharusnya berbeda.
Dalam wujud manusia, Anzel haruslah sangat berhati-hati. Jika sampai terbunuh, ia tidak akan bisa kembali ke dunianya sama seperti Dewa. Prinsip Dewa dan Iblis ketika menuruni dunia memanglah berbeda. Di tambah, kekuatan Anzel saat ini hanyalah setara dengan petualang kelas S. Apalagi untuk saat ini, Anzel benar-benar tidak diuntungkan dengan beberapa alasan.
"Ternyata, iblis mempunyai sopan santun, ya." Angga mengikuti apa yang dilakukan oleh Anzel. Ia membungkukan badannya untuk memperkenalkan diri. "Salam kenal, namaku adalah Angga Andreas. Karena kau adalah iblis, aku akan melen---"
"Iblis Kelicikan : Tebasan Kelicikan!"
Ting!
Apa yang terjadi sangat sulit untuk dijelaskan. Itu pada dasarnya adalah serangan yang dilakukan oleh Anzel. Ia mengirim serangan dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata dengan kekuatan yang dimilikinya. Seharusnya, manusia seperti Angga tidak akan mampu untuk bereaksi terhadap serangan itu. Namun, apa yang terjadi mengejutkan Anzel. Angga berhasil menangkis serangan itu dengan sangat mudah. Tidak, itu bahkan lebih cepat dari serangan Anzel.
"Benar-benar licik, kurasa," ujar Angga dengan tatapannya yang tidak menyenangkan. Kalau saja dirinya tidak menahan serangan itu, dapat dipastikan katana Anzel akan memenggal kepala Angga dengan mudahnya.
Anzel tidak terkejut dan mencoba untuk bersikap tenang. "Tenyata kau bisa menahan serangan itu. Kuakui kalau dirimu itu hebat. Bersyukurlah!"
Ketika mendengar itu, Angga terlihat lebih kesal dibandingkan sebelumnya. "Dipuji oleh iblis sepertimu itu adalah penghinaan."
"Dan hinaan darimu merupakan pujian bagi iblis," balas Anzel dengan senyumnya yang dipenuhi kelicikan. Ia memasang kuda-kuda seolah bersiap untuk menyerang Angga.
Karena latihan menggunakan kekuatan yang Angga lakukan ketika siang hari, ia bisa mengendalikan kekuatannya dengan cukup baik. Ia bahkan bisa bereaksi dengan kecepatan yang hampir menyamai cahaya. Itu adalah pada titik di mana Angga bahkan bisa melihat partikel-partikel cahaya di udara. Walau tidak secepat cahaya, kecepatan reaksi Angga sangatlah luar biasa.
Angga memasang kuda-kuda sembari menggengam katana dengan satu tangan. Katana itu ia genggam di tangan kanannya dan menariknya hingga hampir menyamai bahu. Tangan kirinya ia arahkan ke depan seakan sedang membidik Anzel yang juga memasang kuda-kuda. "Petir Aliran Kelima Belas : Tarian Dewa Petir!"
"Iblis Kelicikan : Tanpa Keadilan!" Api berwarna merah menyala berkobar dengan sangat besar di katana milik Anzel. Itu adalah api yang tercipta dari energi super padat sehingga menciptakan api dengan panas yang hampir sama dengan inti matahari.
Waktu perlahan melambat, begitulah yang mereka rasakan. Tapi sebenanarnya, mereka lah yang bertambah cepat. Mereka semakin cepat dan terus bertambah cepat hingga pada titik menyamai kecepatan cahaya. Pada titik ini, seharusnya hanya benda tidak bermassa saja yang bisa melalukannya. Tapi, ini adalah dunia keajaiban. Hukum fisika di dunia Angga sebelumnya tidak berlaku di sini.
Petir tercipta dari aliran energi yang dikeluarkan Angga menutupi katana. Menciptakan percikan petir berwarna biru keunguan. Cahaya petir itu seharusnya bisa membutakan mata siapapun yang melihatnya dari jarak seratus meter. Tapi itu pengecualian untuk penggunanya dan iblis perwujudan kelicikan di depan Angga. Itu karena mereka memiliki semacam penglihatan khusus yang membuatnya kebal terhadap kebutaan cahaya.
Dengan kecepatan cahaya itu, Angga dan Anzel menebaskan katana mereka. Gerakan mereka bahkan bisa saja menciptakan dentuman dan kerusakan yang berat. Dan kini, kedua energi super padat yang ada di katana mereka akan beradu.
Ting!
Bunyi itu terdengar sesaat, lalu diikuti dengan cahaya yang sangat terang hingga membuat sekitar menjadi berwarna putih. Setelah itu, dentuman besar tercipta bersamaan dengan ledakan luar biasa yang bisa menghancurkan planet ini. Tapi, ruang tamu Anatasya adalah ruangan yang memiliki pertahanan lebih kuat dari ruangan ujian petualang. Jadi, itu hanya menghancurkan isinya tanpa menghancurkan ruangan itu sendiri.
Karena serangan dasyat itu, Anzel dan Angga terpental hingga ke sisi ruangan. Tubuh mereka terbentur dengan dinding tembok yang sangat keras, membuat tulang punggung mereka merasakan sakit.
"Cih!" Angga mencoba bangkit kembali dengan menggunakan katana sebagai tumpuan. Ini adalah pertama kalinya ia bisa menahan serangan seperti itu. Itu karena serangan yang dilancarkan oleh Anzel lebih kuat dari serangan Astrid. Membuat Angga merasa ngeri ketika memikirkan bagaimana Astrid mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Di depan Angga hanyalah sebuah ruangan yang terbakar oleh api dan terdapat percikan petir di beberapa bagian. Seluruh barang yang ada di ruang tamu sebelumnya benar-benar menghilang dan tidak memiliki jejak sekalipun, kecuali satu barang. Itu adalah buku yang sebelumnya Angga baca, buku yang berisi tentang pengguna petir dan pahlawan dengan julukan Thunderian.
"Hahaha!" Suara tawa keras terdengar di sisi lain ruangan, itu adalah Anzel. Ia nampak begitu bersemangat ketika mengetahui kalau Angga berhasil menahan serangan. "Hebat sekali! Kau bahkan bisa selamat dari serangan yang menghapus jiwa dan raga. Benar-benar hebat!"
"Aku tidak perlu pujianmu." Sebenarnya, Angga juga terkejut karena dia bisa selamat. Serangan Anzel benar-benar sesuatu yang dihindari olehnya.
Anzel mulai berdiri dengan tertatih-tatih. Ia melihat seisi ruangan dan tampak terkejut dengan pemandangan yang dirinya lihat. "Ya ampun! Ini akan menjadi sangat bahaya kalau terus begini!"
Memiringkan kepalanya dengan bingung, Angga sama sekali tidak paham apa yang dimaksud Anzel.
"Hey! Aku memiliki usulan!" ujar Anzel yang sepertinya sedikit panik.
"Usulan? Apa itu?"
"Bagaimana kalau kita bertarung di luar? Kita tidak akan bisa bertarung dengan leluasa di sini, bukan?"
Apa yang dikatakan Anzel memang benar. Ruangan ini memanglah kuat, namun sangat kecil. Itu tidak akan efektif untuk mereka yang akan bertarung mati-matian. Apalagi, setiap serangan yang mereka keluarkan malah akan berdampak pada mereka karena ruangannya terlalu kecil. Jadi satu-satunya cara untuk bertarung dengan leluasa adalah berpindah tempat.
"Bagaimana caranya?" tanya Angga dengan wajah penuh tanda tanya.
Anzel memberikan senyuman aneh kepada Angga. Itu bukanlah senyuman licik, tapi juga bukan senyuman biasa. Itu lebih cocok digambarkan sebagai senyuman aneh. "Aku bisa memanipulasi ruang dan memindahkan kita berdua menuju tempat yang kutuju."
"Terdengar bagus. Usulanmu kuterima," jawab Angga yang menerima usulan Anzel untuk berpindah tempat.
Anzel mendekati Angga. Tidak ada penyerangan, terlalu bahaya untuk menyerang di sini, itulah yang dipikirkan oleh Anzel. Jadi, ia harus melakukan pemindahan ruang agar bisa menyerang. Ketika berpindah, Anzel berencana untuk menyerang Angga langsung. Namun mengingat kecepatan bereaksi milik Angga yang tidak masuk akal, itu sangatlah susah untuk melewatinya. Jadi, Anzel akan melakukannya dengan cara lain.
Mereka berdua berdiri berhadapan dengan jarak satu meter. Lalu, lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka. Itu sempat membuat Angga bingung, tapi ia membiarkannya. Lingkaran sihir itu berwarna merah dengan struktur yang cukup rumit. Terlalu banyak pola sehingga Angga tidak bisa memahaminya dengan benar.
"Iblis Kelicikan : Perpindahan Ruang Licik!"