Bumi rasanya begitu terburu-buru mengitari matahari. Tanpa sadar Rena sudah kembali mengganti kalendernya. Berlalu sudah empat tahun sejak 'Infinite War' hiatus, tapi seperti musim dingin yang berlalu, dia menjalani satu tahun terakhirnya seperti musim semi. Satu tahun itu adalah waktu untuk 'anaknya' tumbuh dalam kandungannya.
"Kau yakin begini saja sudah cukup?" Rena mencoba meyakinkan dirinya. Matanya menatap Lily yang duduk di sebelahnya dengan mata berbinar.
"Tentu saja! Itu sudah bagus, pasti lolos ke Suna-Shinsha!" Lily bersemangat.
Rena mengerucutkan bibirnya. Dari kursinya, dia melihat Lily yang memeluk boneka bebek kuning sambil memandangi layar laptop milik Rena, bolak-balik membaca tulisan-tulisan yang ada di sana. "Memang apa lagi yang kurang? Semua ketikanmu sudah oke, kok!" kata Lily lagi seakan meyakinkan si gadis Igashira.
Helaan napas berat akhirnya meluncur dari kamar Rena. Yah. Satu tahun harusnya jadi waktu yang cukup untuk 'anaknya' lahir. Dia beradu pandang sejenak dengan Lily, dan ketika Lily mengangguk, naskah Eternity of The Sorrow akhirnya sampai ke tangan Suna-Shinsha.
Seperti mimpi yang jadi nyata.
***
"Ayolah, Kanzaki, jangan seperti itu! Tidakkah kau lihat covernya cantik?"
Rena berdiri seperti seorang politikus yang sedang memamerkan visi dan misi. Bedanya dia berdiri dengan ponselnya, menunjukkan konten yang dipublikasikan di situs resmi Suna-Shinsha pada seorang laki-laki berpakaian turtle neck di depannya. Terpampang cover web-novel dengan nuansa hitam, emas, dan merah, dihiasi huruf-huruf dalam style serif yang cukup tegas namun entah bagaimana elegan di saat yang bersamaan meskipun rangkaian huruf itu bertulis "Eternity of The Sorrow", atau diartikan dengan "keabadian dari sebuah duka."
"Tidak sulit juga, kok. Hanya perlu sign-in ke situs resmi Suna-Shinsha lalu kau bisa baca ini gratis di sana," sambungnya terdengar begitu meyakinkan.
Kanzaki yang berdiri di pintu kamarnya—yang sedikit dibuka—hanya menggeleng. Rayuan panjang lebar Rena hanya masuk ke kuping kanannya, lalu keluar lagi dari kuping kiri.
"Baiklah, memang cantik. Tapi mereka bilang, 'don't judge a book by it's cover', jadi aku tetap tidak mau baca," gayanya tengil sambil mengorek kotoran di telinga kanannya dengan jari kelingking, lalu menyentilnya lepas dari jarinya.
"Ewh." Kedutan di salah satu ujung bibir Rena terlihat setelah pemandangan Kanzaki melempar kotoran kuping sembarangan. Jika bisa memilih, Rena lebih baik tidak berurusan dengan laki-laki tengil itu, tapi sekarang dia butuh orang untuk membaca karangannya. Tiga bulan sudah berlalu sejak terbit, tapi jumlah pembaca yang didapat setiap publikasi chapter baru tidak pernah meningkat. Jangankan meningkat, bertahan di angka seratus kali dibaca saja sulit. "Cobalah baca satu chapter dulu, baru kau simpulkan apakah peribahasamu itu pantas kau berikan padaku, atau tidak" desisnya.
"Tidak mau! Sudah ya, aku sibuk!"
Bunyi benturan pada pintu membuat Rena mengerenyit. Dia lihat pintu bertuliskan angka 23 itu sudah kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan Rena berdiri sendirian di lorong yang diapit kamar 23 dan 26 Rumah Bebek. "Anak kura-kura¹ sialan!" rutuknya terdengar Kanzaki yang ada di sisi lain pintu.
"Bukan anak kura-kura! Aku Kameko! Kanzaki Kameko!" teriaknya dari dalam kamar.
Tangan Rena menutupi wajahnya, desahan berat meluncur sambil dia mengucek mukanya yang sudah sedari tadi kusut. Dia berkumur dengan kata-kata menjadi gerutuan tak jelas yang mengisi rongga mulutnya. Kenapa mencari pembaca saja sesulit ini, sih? batinnya.
"Jadi penulis itu tidak semudah itu, loh."
Kata-kata Kento malam itu kembali terlintas dalam benaknya, dan sejak malam itu Rena bertanya-tanya. Dia tidak pernah menemukan struggle saat menulis. Tapi yang sulit justru kali ini—ketika harus membuat orang lain mau membacanya. Jadi sebenarnya yang susah itu jadi penulis atau bagaimana?
Rena menarik matanya ke seberang pintu kamar Kanzaki, melihat pintu warna putih dengan gantungan angka 26 berwarna kuning menggantung, ciri khas setiap kamar yang ada di Rumah Bebek Sharehouse, lalu pada nama 'Kento Tenryu di bawahnya. Penghuni kamar itu adalah orang yang sama dengan yang malam itu memperingatkan Rena tentang duka menjadi penulis, dan akan jadi target kampanyenya kali ini.. Kaki Rena mendekat, lalu mengetuk tiga kali pada pintu, menunggu si empunya keluar.
"Kento, kau di dalam tidak?" tanyanya sambil mengetuk lagi tiga kali setelah tidak ada jawaban terdengar.
Terlihat tidak ada lampu menyala saat Rena mendongak pada ventilasi, seperti penghuninya sedang tidak ada di dalam. Baru ketika Rena hendak menyerah, dia sadar kalau pendingin ruangan di kamar itu masih beroperasi. Tangannya mengetuk sekali lagi, merasa tidak mungkin kalau Kento tidak di dalam saat pendingin ruangannya menyala.
"Sebodoh itukah dia keluar tanpa mematikan pendingin ruangan?" dia mendengus.
Kakinya melangkah mundur saat tidak ada jawaban terdengar. Mungkin memang lebih baik aku tidak usah menemui Kento. Lagipula dia juga sudah tahu kalau aku menulis, batin Rena.
Dia ingat malam itu ketika Kento menolak penasaran dengan tulisan yang dia buat—dia bahkan tidak menanyakan judul! Jelas sekali Rena sadar kalau pemuda Tenryu itu tidak tertarik. Kalau dia bertanya lagi, reaksi yang sama seperti malam itu mungkin jadi reaksi yang akan Rena terima. Dan sejauh ini 26 kamar sudah dia kunjungi—dari 33 kamar di Rumah Bebek. Rena hanya mendapatkan Lily yang setuju jadi pembaca setianya, dan beberapa pembaca paksaan seperti Saki (sepupunya), dan Sagi (sahabatnya).
Masih ada kesempatan mendapat pembaca dari penghuni kamar 27 sampai 33, pikirnya sedikit optimis, walau akhirnya frustrasi juga karena reaksinya tidak jauh beda dengan Kanzaki.
"Sehat selalu kalian para penulis di luaran sana!"
-oOo-
1: Jokes Rena pada Kanzaki adalah permainan kata dalam bahasa Jepang. Nama marga Kanzaki=Kameko (亀戸), ditulis dengan kanji 亀 "Kame": kura-kura, dan 戸 "To" [cara baca onyomi: "ko"]: pintu. Tapi Rena mengganti 戸 dengan 子 (anak), yang sama-sama dibaca "ko", menjadi 亀子 (Kameko; anak kura-kura)
-oOo-
3 Juli 2024
819 kata
KAMU SEDANG MEMBACA
[SEGERA TERBIT!] (UN)POPULAR DRAGON SWORD ✔
General Fiction-"Memangnya ada pembaca gila yang mau menunggu author favoritnya hiatus sampai empat setengah tahun?" Dragon Sword sudah hiatus selama empat tahun lebih. Keadaan memaksanya untuk kembali menulis. Tapi ketika kembali, masa kejayaannya sudah lewat, y...
![[SEGERA TERBIT!] (UN)POPULAR DRAGON SWORD ✔](https://img.wattpad.com/cover/372074535-64-k730116.jpg)