"Menjauhlah dari sarang sampah itu!"
Satu kalimat cukup menggambarkan betapa buruknya tempat yang kami tinggali. Meski tembok besar ini menutupi, tapi aku tetap mendengarnya. Suara orangtua yang melarang anaknya. Siapa juga yang ingin tinggal di tempat tidak layak ini?
Bau busuk yang menguap bercampur dengan debu, menempel di kulit seperti kutukan. Tarikan napas yang terasa berat, seolah dunia enggan berbagi kenikmatan. Kami hanya bisa bertahan, terbungkus dalam keputusasaan.
Sekarang mari kesampingkan hal itu sebentar, aku masih harus bekerja. Untukku, juga untuknya. Mengacak acak tumpukan sampah mencari barang yang dapat digunakan. Mengumpulkan ranting dan dahan kayu hanya untuk sepeser koin rusak.
Berkeliling di pasar, mengantar barang orang lain. Bersyukur bila mereka memberi koin lebih meski rusak, atau setidaknya aku harap ada koin jatuh yang bisa kutemukan.
Dirinya masih kecil, terlalu kecil untuk memahami arti penderitaan. Setiap kali ia tersenyum, aku berpura-pura lupa bahwa kami tinggal di tempat yang benar-benar buruk. Aku ingin dia terus tersenyum.
Dia selalu mengikutiku, berlari kecil di belakangku saat aku membawa tumpukan ranting di punggung. "Aku juga ingin membantu," katanya dengan suara ceria.
"Aku bisa melakukannya sendiri," jawabku sambil menahan ranting yang hampir terjatuh dari pundakku. "Tunggulah sebentar lagi."
"Tapi aku tidak suka menunggu sendirian..."
Aku menoleh, menatap matanya yang berkilau. Aku tidak ingin dia terlalu lelah, tapi juga tidak ingin dia merasa sendirian. Maka, seperti biasa, aku membiarkannya ikut. Dia menggenggam ujung bajuku, langkah kecilnya berusaha menyamai langkahku.
Beberapa orang berkata bisa terus hidup merupakan kebahagiaan tanpa tara. Aku tidak tahu apakah mereka benar atau apa ada yang salah dengan standar kebahagiaanku? Mungkin yang mereka maksud bukan kehidupan itu sendiri.
Kau tahu, hal hal lain yang membuat mereka menganggap kehidupan itu adalah kebahagiaan. Hal yang bahkan secara tidak sadar telah mereka nikmati.
Makanan dan minuman sehari hari yang mereka konsumsi, pakaian yang mereka gunakan, tempat tinggal untuk kembali, kecukupan finansial, keutuhan dalam hubungan, dan hal kecil lainnya. Pernah dengar kebutuhan primer?
Terkadang aku ingin menjadi seseorang di dalam gereja, aku dengar mereka menjamin kebutuhan primer di sana. Tapi uang dibutuhkan untuk menjadi pekerja di sana. Aneh, bukan? Haruskah aku mencuri? Terkadang aku berpikir tentang hal itu, tapi aku bukanlah orang yang akan melakukan kejahatan.
"Tuhan juga butuh uang, ya?" tanyanya polos.
Aku tertawa, "Iya, Iya, Tuhan juga perlu uang." Aku menggosok tubuhku.
Tidak seperti tempat tinggal kami yang tidak mempedulikan hal kecil seperti bau tubuh dan penampilan. Orang orang di dalam tembok sangat mempedulikan hal kecil yang tidak berguna.
Karena itulah, kami juga harus membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelum pergi ke pasar. Rasanya cukup sayang Ketika aku membeli baju, tapi inilah salah satu faktor yang membuat kami bisa masuk ke sisi lain dinding.
Matahari mulai tenggelam, malam pun datang. Aku berjalan pulang bersamanya. Dalam sejuknya pagi, panasnya siang, dan dinginnya malam, aku akan selalu bersamanya, berusaha untuk tidak kehilangannya.
Entah mengapa aku terbiasa dengan tempat ini. Tempat yang kotor, gelandangan yang tertidur di pinggir jalan, sampah yang berserakan, maraknya pencurian, penculikan, juga pembunuhan. Semua bukan hal asing lagi bagiku.
Jalan berbeda pun, kupikir tak ada bedanya di sini.
Terbiasa dengan semua itu, membuat kepercayaanku terhadap konsep "Tuhan" pun berkurang. Bukankah "Tuhan" itu Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyanyang, Maha Adil..., ku rasa sifat baikNya terlalu banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersamamu
Short StoryDi sudut kota yang dilupakan, dua saudara kecil hidup di antara bangkai besi dan sampah yang menjulang seperti dinding penjara. Dunia mereka bukan tentang masa depan, melainkan tentang bertahan hari ini... dan mungkin besok, jika keberuntungan belum...
