<HAPPY READING>
Matahari mulai menampakan sinarnya, beberapa orang mulai melakukan aktivitasnya setiap pagi, sinar tersebut tampaknya tidak menggangu seorang namja yang masih tertidur lelap di atas kasurnya. Terdengar langkah seseorang menuju kamarnya dan mengetuk pintunya.
Tok tok tok...
Ceklek....
"LEE JISUNGGG!!!!"
"KAU BELUM BANGUN DARI TEMPAT TIDUR MU!!!"
"KAMU MAU JADI ANAK PEMALAS HAHH!!! MAU JADI APA KAMU JIKA TERUS BEGINI"
Lelaki yang tertidur itupun tersentak dari tidur nya itu adalah Lee Jisung, anak bungsu dari keluarga Lee, berumur 10 tahun yang duduk di sekolah dasar kelas 4.
"Appa menyekolahkan mu, bukan untuk jadi anak yang pemalas"
"Seharusnya kamu menjadi anak yang disiplin!!!". Ucap Donghae marah
Donghae menatap jisung kesal, yang ditatap hanya menunduk mendengar amarah sang appa. Ya...dialah Lee Donghae, tuan rumah keluarga Lee sekaligus Ayah Jisung dan ke 3 saudara nya.
"Sekarang bersihkan dirimu, dan bersiap berangkat sekolah". Ucap Donghae sebelum meninggakan kamar Jisung. Jisung hanya bisa mengangguk dan menunduk mendengar perintah sang Appa.
Dimeja makan sudah terlihat Donghae bersama kedua anak nya yang baru saja bergabung dengannya di meja makan.
"Pagi Appa". Sapa Karina dan Jeno bersamaan
"Pagi juga Karina dan Jeno, Kalian ingin sarapan apa? Biar Appa suruh Bibi siapkan sarapan untuk kalian". Sapa balik donghae
"Aku ingin sarapan dengan roti saja Appa". Balas Jeno, dan di angguki oleh Karina
"Ouh yasudah" "Bi! Tolong bawakan susu, roti tawar dan selai coklat ke meja makan ya".
"Loh, Jaemin kemana jen? Kok belom turun juga". Tanya Donghae ke Jeno
"Tadi dia masih menyiapkan buku Appa, sebentar lagi juga turun". Dan di angguki oleh Donghae.
Dan benar saja Jaemin turun dari kamar nya dan baru bergabung. "Pagi Appa". Sapa Jaemin. "Pagi juga Jaemin, Ayo duduk dan habiskan sarapanmu"
Setelah itu terlihat Jisung yang baru saja menuruni tangga, menuju meja makan untuk bergabung sarapan bersama Appa dan juga saudaranya. "Pagi Appa, Onnie, Hyung". Sapa Jisung kepada keempatnya. "Hmm, ya Cepatlah duduk". Balas Donghae.
Suasana hening, hanya ada suara aduan antara sendok dengan piring, sehingga suara Donghae memecah keheningan di antara mereka. "Karina dan Jeno hari ini bukankah hari pertama kalian masuk Sekolah Menengah Atas ? sebaiknya kalian segera berangkat takut nanti terlambat".
"Iya Appa". Balas Jeno setelah itu meminum susunya. "Kami berdua berangkat ya Appa!". Seru Karina kepada Donghae dan diikuti oleh Jeno keluar pintu rumah.
Kini tersisa Jaemin dan Jisung yang belum berangkat ke sekolahnya. "Jaemin dan Jisung diantar oleh paman Taeil ya, Appa akan berangkat ke kantor sekarang".
"Iya Appa, Appa hati hati di jalan". Balas Jaemin dan Jisung hanya mengangguk mendengarkan perintah sang Appa. "Ayo cepatlah, aku tidak ingin terlambat". Ajak Jaemin
Dihalaman depan rumah Paman Taeil sudah menunggu mereka berdua. Paman Taeil adalah supir andalan keluarga Lee dengan sang istri yang juga bekerja sebagai pembantu kepercayaan disini, Donghae sekeluarga sudah mengganggap mereka berdua sebagai bagian dari keluarga Lee.
"Pagi paman". Sapa Jaemin dan Jisung bersamaan. "Pagi juga tuan muda, mari saya antar nanti terlambat lagi ke sekolahnya". Balas Taeil seraya membuka kan pintu mobil untuk keduanya.
Tidak ada yang membuka pembicaraan di mobil, mereka hanya menikmati suasana pagi dan melihat beberapa orng yang sudah melakukan aktivitasnya.
Tak terasa mobil yang mereka gunakan sudah sampai di sekolah yang dituju. Sekolah Jaemin dan Jisung bersebelahan atau bisa dibilang masih satu yayasan yang sama, Jaemin duduk di bangku SMP kelas 8 dan Jisung SD kelas 4.
"Terima kasih Paman". Ucap Jaemin sembari keluar dari mobil dan menuju kelasnya. Taeil mengangguk dan tersenyum, lantas tatapannya menatap tuan muda nya yang masih belum beranjak dari mobil. "Jisung? Kau ingin di tempat biasa?". Tanya Taeil kepada Jisung.
"Iya paman, kita berhenti di tempat biasa saja". Balas Jisung.
Taeil hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan tuan mudanya. "Kita sudah sampai tuan muda".
"Paman, sudah kubilang jangan memanggil ku dengan sebutan tuan muda". Ujar Jisung yang sedikit kesal. "Iya iya, paman minta maaf". Balas Taeil dengan tersenyum nakal kepada Jisung.
Jisung hanya bisa terkekeh dengan kelakuan paman nya ini, "Terima kasih ya paman sudah antarkan Jisung, dadahh". Ucap Jisung sembari keluar dari mobil dan melambai kearah paman nya itu.
Ada alasan mengapa Jisung tidak ingin di turun kan di tempat yang sama dengan Jaemin. Semenjak ia masuk sekolah dasar kelas 1, Jisung tidak ingin mempermalukan ketiga kakak yang dimana Jeno dan Karina masih bersekolah di dekatnya.
Alasannya, karena Jisung merasa dia sangat bodoh berbeda dengan ketiga kakaknya yang selalu mendapatkan peringkat dan mengikuti beberapa olimpiade, ketiga kakak juga dikenal oleh beberapa orang di luar sekolah karena notabe nya adalah seorang anak dari Lee Donghae yang di kenal sebagai salah satu pengusaha tersukses.
Berbeda dengan Jisung yang untuk mendapatkan nilai di atas KKM saja belum mampu, bahkan Jisung tidak mempunyai 1 orang pun teman yang bisa berteman dengannya dan bahkan Jisung tidak pernah muncul di depan publik tanpa alasan yang jelas dari Donghae sendiri.
Kini Jisung sedang berjalan menuju kelas nya, dengan orang orang yang berada di dekat nya menatap jisung dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Hai Jisungg! Selamat pagi anak tampan". Ucap salah satu dari beberapa laki-laki yang kini berada di hadapannya menghalangi jalannya. "Aku sedang tidak ingin diganggu, tolong jangan halangi jalan ku". Balas Jisung dingin kepada mereka
"Ayo teman teman kita bawa dia dan bermain-main sedikit". Ucap salah satu dari mereka.
Mereka membawa Jisung ke halaman belakang sekolah secara paksa.
BUGH!
DUAGH!
SREET!!
Mereka mulai memukul wajahnya, menendang perutnya dan melempar tubuh Jisung ke sembarang arah "h-hentikan a-aku m-mohon". Lirih Jisung
Saat Jisung mulai terkulai lemas mereka menyiram seluruh tubuh Jisung dengan air.
BYURRRR!!!
"HAHAHA lihat dia! Sudah seperti jemuran basah saja HAHAHAHA". Ucap salah seorang dari mereka disertai tawa mereka semua. "Ayo kita pergi dari sini, bel akan segera berbunyi". Mereka meninggalkan Jisung yang masih belum bergerak dari tempatnya.
Jisung berjalan ke menuju toilet untuk mengganti pakaian nya yag sudah basah kuyup. Jisung sudah menduga hal ini pasti akan selalu terjadi pada dirinya jadi dia selalu membawa seragam tambahan di tas nya. Setelah itu Jisung menuju ke kelasnya berada dan mengikuti KBM seperti biasa. Bisakah kita sebut bahwa kejadian yang Jisung alami ini adalah sebuah Pembulyan.
FLASHBACK ON
Awal semua ini terjadi saat Jisung berada di kelas 1 sekolah dasar, saat itu Jisung sedang berjalan dan tubuhnya tidak sengaja bertabrakan dan menumpahkan air yang sedang dibawa oleh beberapa kakak kelas diatasnya yang terlihat cukup brandal.
"Hey!!! Apa apaan kau ini!!! Baju ku jadi basah semuaaa!!". Ucap Sungchan. "M-maaf kak a-aku tidak sengaja".Ucap Jisung.
"Apakah dengan maaf mu itu baju ku bisa kering seperti semula!!!". Ujar Sungchan kesal, tetapi setelahnya lelaki itu membuat senyuman smirk di wajahnya.
"Bawa dia! Kita harus beri anak manis ini sedikit pelajaran". Jisung dihajar habis habisan tanpa belas kasihan "Kumohon h-hentikan". Ucap Jisung lirih menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Setelah itu Sungchan dan beberapa temannya meninggalkan Jisung kecil yang sudah tidak berdaya sendirian sampai ada Guru, Siswa/i ataupun satpam sekolah yang menemukannnya di belakang sekolah dan membawa nya ke UKS.
Kejadian itu masih terus berlanjut, bahkan terkadang Jisung mendapat bully an yang lebih dari ini. Sungguh meyedihkan Jisung kecil sudah merasakan apa itu bully dan harus menahan segala rasa sakit yang ia terima.
FLASHBACK OFF
TRINGGGG!!!!!
Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring, semua para murid mulai berhamburan keluar dan pulang kerumahnya masing-masing.
Kini Jisung tengah berjalan ke tempat dimana ia di turunkan oleh paman Taeil saat berangkat sekolah tadi pagi. Tidak perlu menunggu lama, kini mobil jemputannya telah berada di hadapannya. "Nak Jisung ayo kita pulang" Ucap Taeil ramah.
Jisung pun segera masuk kedalam mobil itu, dan sudah terdapat Jaemin yang duduk di kursi belakang, sebenarnya Jisung sedkit was-was khawatir ada yang melihatnya pulang bersama Hyung nya tersebut.
Jaemin sedikit memperhatikan adik nya tersebut, lalu ia meihat beberapa luka lebam tampak di wajah sang adik. "Kau bertengkar lagih?!". Tanya Jaemin sedikit kesal, yang ditanya hanya menunduk mendengar tuduhan Hyungnya itu. "Kau pasti akan mendapatkan hukuman dari Appa lagi malam ini". Ujar jaemin
Kini mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman depan rumah keluarga Lee. Ketiganya kini telah keluar dari mobil, Jaemin berjalalan masuk duluan kedalam rumah meninggalkan Jisung dan Paman Taeil yang masih berdiri di depan halaman.
"Ada apa Jisung, ada masalah? Bisa paman bantu" tanya Taeil.
"E-eh tidak apa apa Paman. Jisung masuk duluan ya" balas Jisung dan segera masuk kedalam rumah.
Sementara Taeil masih berdiri diluar, Taeil tahu kalau Jisung khawatir dimarahi sang Appa karna Luka yang ia bawa pulang kerumah.
"Aku pulang"
"Ouh kau sudah pulang, bagaim....."
"Astaga Lee Jisunggg!!!!!! KAU BERTENGKAR LAGIH!!!!". Bentak Donghae.
Tubuh Jisung mulai gemetar takut akan amarah Appanya. Donghae menghampiri jisung dan menatap tubuh jisung dari bawah kaki sampai kepala.
"Appa sudah sering memberitahu mu, JANGAN PERNAH BERTENGKAR!!!! APA KAU MAU JADI BERANDALAN HAHH!!!"
"A-aku.....a-aku.....aku tidak bertengkar Appa". Ucap Jisung.
"Lalu kenapa wajahmu bisa lebam seperti itu??!!"
"A-ku.....a-aku...."
"Jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya, kau akan Appa hukum". Balas Donghae dingin dengan penuh amarah. Jisung mengangguk dan segera berlari pergi ke kamarnya.
Kini Jisung tengah duduk di tepi kasurnya, ia melamun memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Appa nya nanti, ia bingung harus jujur atau tidak tentang lukanya ini.
Ceklek
"Jisung?"
Jisung menoleh kearah pintu yang terbuka. "Iya. Ada apa bi Seulgi". Balas Jisung
"Boleh bibi masuk?". Ucap Seulgi dengan tangan yang memegang kotak P3K, Jisung membalas dengan sebuah senyuman manis.
Didepan Jisung kini terdapat kotak P3K dengan bibi seulgi yang sedang mengobati luka di wajahnya. "sssttt sakit bi", desis Jisung. "Tahan sebentar lagi ya", balas bi Seulgi ramah.
"Jisungie.... sungie tahukan kalau berbohong itu tidak baik dan berbohong juga bisa meyakiti hati seseorang yang kita bohongi, maka Jisungie harus bisa jujur terhadap diri Jisung dulu agar Jisungie tidak membuat diri Jisung dan orang lain terluka, bibi memang tidak tau apa yang sedang Jisungie sembunyikan jadi bibi hanya bisa memberitahu Jisung tentang hal ini, Jisung mengerti kan?", ucap bibi seulgi sambil terus mengelus surai rambut Jisung dengan kasih sayang.
"Jisungie paham bibi, terima kasih", balas Jisung sambil memeluk tubuh seulgi.
Jisung sedikit terisak dalam pelukan Seulgi, dan Seulgi tahu bahwa anak manis ini tengah menagis karena tubuhnya bergetar karna ketakutan. "Jisung adalah anak yang baik", ucap seulgi masih sambil mengelus surai rambut Jisung.
Kini Jisung berada di depan pintu ruang kerja Donghae, sebenarnya Jisung masih ragu untuk masuk kedalam sana, ia takut mendapatkan hukuman yang sangat ia benci dan ia hindari.
Ceklek
"Appa"
"Jisung? Cepat kemari", balas Donghae
'bagaimana ini, jika aku berbohong pasti aku akan di hukum lagi, tetapi kalau aku jujur maka Appa pasti akan khawatir ataupun tidak akan percaya dengan yang aku katakan', Monolog Jisung dalam hati.
"Apa benar kau bertengkar lagih?!"
"A-aku....a-akuu....iya benar appa"
"A-aku bertengkar". Ucap Jisung berbohong
PLAKK!!
"APA KAU BELUM JERA DENGAN HUKUMAN YANG APPA KASIH HAH?!"
"Appa tidak habis pikir dengan mu Jisung, lebih baik waktu mu itu kau pakai untuk belajar!!!"
"Lihatlah ketiga kakakmu ituu!!, mereka tidak pernah mengecewakan Appa!!"
"Mereka membuat Appa bangga, walaupun tidak Appa suruh!!"
"DAN KAU APA??!!"
"Sekarang lepaskan bajumu dan menghadap ke dinding, Appa akan menghukum mu". Ucap keputusan final Donghae.
Jisung menatap Donghae panik, ia mengulum bibirnya dan menggenggam tangannya kuat, jisung sungguh ketakutan sekarang ia sangat benci dengan hukuman ini.
Dan kini Jisung kecil hanya bisa pasrah dan mulai membuka bajunya dengan tangan gemetar.
Melihat Appanya telah memegang sebuah ikat pinggang, ia segera menghadapkan tubuhnya kearah dinding. Ini untuk pertama kalinya ia mendapatkan hukuman cambuk, Jisung tdak menyangka bahwa appanya akan benar-benar melakukannya
CTARRR
CTARRR
"Itu karna kau bertengkar"
CTARRR
"Sshh", Rintih Jisung menahan perih di tubuhnya.
"TAHAN!!! Kau bertengkar saja bisa, kenapa menahan ini saja tidak bisa"
CTARRR
CTARRR
"Itu karna kau tidak menuruti perkataan Appa".
"C-cukup appa s-sakit", Lirih Jisung tetapi tidak dihiraukan Donghae.
CTARRR
CTARRR
"Itu karena kau mempermalukan Appa"
Tubuh Jisung ambruk di lantai yang sangat dingin itu, ia tidak kuat menahan hukuman yang Appanya berikan. Punggung, tangan dan kaki Jisung penuh dengan luka cambukan bahkan darah sampai mengalir ke lantai.
"Hari ini tidak ada makan malam untuk mu!!"
"Cepat pergi dan bersihkan tubuhmu". Ucap Donghae masih dengan amarah.
Jisung pun segera bangkit dan bergegas pergi ke kamarnya.
Tetapi bersamaan dengan Jisung keluar dari ruangan kerja Appanya, Jeno dan Karina yang baru saja masuk kedalam rumah terkejut melihat keadaan adik bungsunya yang keluar dari ruangan Appa nya dengan penampilan acak-acakan serta punggung dengan luka menganga dan wajah penuh dengan lebam.
Mereka berdua pun segera menghampiri adik bungsunya itu.
"Apa yang terjadi? Apa kau membuat kesalahan lagi?" Tanya Jeno. Bukannya menjawab, Jisung malah mempercepat langkah nya menuju kamar.
"Apa yang terjadi pada Jisung?" Tanya Karina pada Jaemin yang baru saja datang dari kamar mandi.
"Jisung? Aku tidak tahu"
"Tadi kami melihat nya keluar dari ruangan kerja Appa dengan luka di seluruh tubuhnya, seperti luka cambukan" Jelas Jeno
"Ahhh, mungkin dia mendapatkan hukuman karna bertengkar" Balas Jaemin
Mendengar penjelasan Jaemin, kini mereka bertiga sedang melamun dengan pikiran masing-masing mengenai Jisung.
Mereka bertiga sebenarnya menyayangi dan tidak tega dengan Jisung, mereka bisa saja membela Jisung saat ia tengah di hukum oleh Appa mereka, tetapi itu hanya akan menambah hukuman Jisung saja karena Appa mereka tidak suka jika ada orang membela Jisung itu sama saja seperti Jisung sedang mencari perlindungan, karena Donghae ingin anak mereka tidak memiliki ketergantungan antara satu sama lain.
Jaemin berjalan menuju kamarnya tetapi ia melihat pintu kamar Jisung yang tidak tertutup rapat, adiknya itu tampak sedang menangis.
Jaemin berjalan kembeli kearah ruang keluarga untuk mengambil kotak P3K, ia kembali kearah kamar Jisung dan membuka pintunya.
CEKLEK
Jisung sedikit terkejut dengan kehadiran Jaemin. Namun kejadian selanjutnya membuat Jisung sedikit tersentuh, Jaemin membuka peralatan P3K dan mulai mengobati luka-luka Jisung.
"Sshh aaww s-sakit hyung". Rintih Jisung
"Kau kan anak laki-laki, tahan sebentar". Balas Jaemin
Jaemin sedikit meringis saat melihat luka Jisung, ia marah dengan kelakuan sang appa bagaimana bisa appanya berbuat seperti ini. Sebenarnya ia tidak percaya dengan pengakuan Jisung yang mengatakan bahwa dia bertengkar.
"Kau tidak ingin jujur saja kepada hyung, hyung tahu kau tidak bertengkar kan?". Tanya Jaemin setelah selesai mengobati luka Jisung.
"Bertanya nya besok saja ya hyung aku ingin istirahat". Balas Jisung
Jaemin yang tidak tega melihat tatapan sayu sang adik akhirnya mengalah dan hendak keluar dari kamar Jisung.
"Ayo makan malam dulu, kau kan hanya makan roti tadi pagi"
"Aku.....di hukum appa hyung".
Mendengar hal itu, Jaemin sedikit tidak menyangka appa nya sudah terlalu berlebihan menghukum Jisung.
"Nanti hyung akan membujuk appa". Setelah mengatakan itu Jaemin segera meninggalkan Jisung di kamarnya.
Saat makan malam tiba, sudah ada Donghae dan semua anaknya tanpa Jisung Suasana makan hening sebenarnya sedikit tidak nyaman munkin karena Donghae yang masih dalam keadaan marah. Karina, Jeno dan Jaemin saling menatap satu sama lain berusaha membuka topik dan membujuk appanya agar membiarkan Jisung makan malam.
"Appa...hmm...Jisung belum makan malam, apa sebaiknya Karina panggilkan Jisung". Ucap Karina memberanikan diri
"Iya appa Jisung hanya makan roti sarapan saja tadi pagi". Bela Jaemin
"Tidak! Appa menghukumnya. Awas saja sampai ada seseorang yang memberinya makan, maka appa akan menambahkan hukuman yang lebih berat lagih"
"Appa menghukum nya juga bukan tanpa alasan, dia sendirilah yang mengakui kesalahannya". Setelah mengatakan itu, Donghae langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Karina dan yang lainnya pun tidak ada yang berani melawan perkataan sang ayah mereka hanya bisa menuruti perkataan sang ayah.
Kini telah larut malam, Jeno sedikit terbangun dari tidurnya karna kehausan ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur mengambil air.
Mata jeno melirik pintu kamar Jisung yang sepertinya sedikit terbuka, ia mengintip apa yang sedang adiknya lakukan. Jeno sedikit terkejut mendapati Jisung masih berkutat di meja belajar padahal sudah larut malam, Jeno teringat bahwa Jisung belum makan malam jadi dia segera menlanjutkan niatnya tadi.
Jeno sedikit was-was takut dirinya ketahuan appanya membawakan makanan untuk Jisung, dengan cepat dan hati-hati Jeno berhasil membawakan sepiring makanan untuk Jisung.
CEKLEK
"Jisung?"
"J-jeno h-hyung, hyung belum tidur?". Tanya Jisung sedikit terkejut
"Belum, kau masih belajar? Jangan terlalu memaksakan dirimu, ini sudah sangat malam"
"Iya hyung sebentar lagih"
"Hyung bawakan ini, kau belum makan kan?"
"T-tidak hyung nanti appa akan memarahi hyung, a-aku tidak lapar kok". Bantah Jisung
"Kau harus makan, apa perlu hyung suapi?"
"T-tidak hyung aku makan sendiri saja".
Jeno merasa gemas sendiri dengan adiknya ini. "Habiskan perlahan-lahan hyung akan tunggu sampai kau selesai".
Setelah Jisung selesai, Jeno menyuruh Jisung untuk segera tidur dan ia kembali ke kamar nya dengan piring kotor bekas Jisung agar seolah-olah dia yang memakannya. Mereka tidak tahu bahwa ada seseorang yang menyaksikan interaksi keduanya dari luar pintu kamar Jisung. "Mianhae...."
LEE JISUNG
LEE DONGHAE
LEE JENO
LEE JAEMIN
LEE KARINA
Jangan lupa votenya ya Yeorobun^___^
Maap kalo cerita nya kurang ngefeel ㅠㅠ