Chapter 2

1.1K 133 2
                                    

Sejak hari itu, aku tahu bahwa Jaemin adalah seorang pria baik hati yang selalu tersenyum kepada siapapun walaupun ia tidak tahu apakah orang yang ia senyumi itu memberikan senyuman balik untuknya atau tidak. Ia adalah pria yang jarang sekali marah dan sangat rendah hati. Ketika orang menyalahkan dia akan suatu perbuatan, dia adalah orang pertama yang akan meminta maaf walaupun bukan dia yang berbuat salah.

Hari ini, tepat seminggu aku mengenal pria bernama Na Jaemin itu. Dan hari ini juga aku kembali berjalan di taman yang sama dengan minggu lalu dan senyumku terkembang ketika kulihat orang yang sangat ingin kutemui ada di sana. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku sangat sukar bergaul apalagi dengan seseorang yang bukan tipeku, tapi di sinilah aku sekarang berjalan dengan santai dan bahagia menuju arah seorang pria yang sibuk menceritakan sesuatu kepada keponakan kecilnya.

"Jadi, ketika si suami istri dari keluarga kaya yang kikir itu berusaha mendapatkan kekayaan seperti yang diperoleh keluarga si miskin, mereka justru mendapatkan petaka Chenle-ya."

"Uh, uncle Jeno!" Chenle yang mengerti akan kehadiranku berseru seketika membuat Jaemin menolehkan pandangannya ke arah lain, walaupun ia tidak tahu dimana aku berada.

Aku melambaikan tanganku dan tersenyum pada mereka berdua,"Chenle-ya, annyeong!"

"Annyeong uncle," dia berlari memeluk kakiku, maklum saja aku terlalu tinggi untuknya yang baru saja berumur empat tahun.

"Jaemin-ssi, apa kabar?" aku menggendong Chenle dan duduk di samping Jaemin yang sekarang ikut tersenyum.

"Kabar baik Jeno-ssi."

"Uncle, kenapa uncle kemari?" Chenle bertanya padaku.

"Hm? Wae? Apa uncle tidak boleh datang kemari?" aku menunjukkan muka memelasku pada Chenle yang langsung tersenyum,"Ani, tentu saja uncle boleh datang kemari. Chenle senang sekali uncle datang kemari, jadi Chenle dan uncle Jaemin punya teman bermain," aku begitu gemas mendengar jawaban lugu dari anak kecil di gendonganku itu, sehingga membuatku mencubit pipinya yang sedikit tembem.

"Hahaha ngomong-ngomong apa yang sedang kalian lakukan di sini?" aku menoleh ke arah Jaemin yang tentu saja tidak bisa mengetahui posisi wajahku secara tepat.

"Uncle Jaemin sedang menceritakan kisah Nolbu dan Hongbu uncle."

"Benarkah? Apakah ceritanya sudah selesai?"

"Aigoo, uncle sudah terlambat. Ceritanya baru saja selesai waktu uncle datang," Chenle menggembungkan pipinya membuatku kembali mencubitnya.

"Ya sudahlah kalau memang sudah selesai. Ehem, sekarang bagaimana kalau kita membeli es krim? Uncle yang akan membelikannya? Eotte?" kupandang pria kecil di hadapanku itu.

"Es krim? Jincha?" mata bulat Chenle berbinar ketika mendengar kata es krim keluar dari mulutku.

"Jincha. Chenle mau yang rasa apa akan uncle belikan. Kau juga Jaemin-ssi," aku mengalihkan pandanganku pada Jaemin yang sibuk memilin-milin tepi sweater yang dipakainya.

"Chenle ingin es krim coklat yang beeeesar uncle," kedua tangan Chenle terkembang menggambarkan betapa besarnya es krim yang ingin ia beli.

"Geurae, ayo kita beli sekarang!" aku berdiri, masih tetap menggendong Chenle.

"Chenle-ya, jangan minta yang macam-macam pada uncle! Nanti kalau ayahmu marah bagaimana?" Jaemin berusaha berdiri dan menggapai lengan kecil Chenle.

"Jaemin-ssi, aku hanya membelikan Chenle es krim dan tidak membelikannya mobil. Tidak ada salahnya kan?" tangan kananku mencoba melepaskan tangan Jaemin yang memegangi lengan Chenle.

Kamu akan menyukai ini

          

"Tapi Jeno-ssi."

"Tenanglah, sebaiknya kau duduk di sini dan tunggu sampai kami kembali. Kami tidak akan lama," aku menepuk pundaknya pelan seolah memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja dan agar ia berhenti untuk khawatir.

"Ba..baik..baiklah Jeno-ssi," dia menganggukkan kepalanya menyetujui usulanku barusan.

"Uncle Jaemin, kami akan segera kembali," ucap Chenle yang begitu riang.

"Nde."

🍀🍀🍀

Kami membeli tiga es krim coklat - rasa favorit Chenle. Satu es krim dengan ukuran besar dan dua dengan ukuran sedang. Lengan kiriku masih menopang tubuh mungil Chenle yang sekarang tengah asyik-asyiknya menjilati es krim yang barusan kami beli. Kulihat Jaemin sedang menggumamkan sesuatu sambil tubuhnya bergoyang mengikuti irama. Kabel earphone terjulur dari kedua telinganya dan mengarah pada telepon genggamnya. Dia pasti sedang mendengarkan lagu sembari menunggu kami kembali.

Aku kembali tersenyum melihat tingkah Jaemin yang menurutku sangat imut. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnnya. Benar, umurku memang sudah dua puluh empat tahun dan aku sudah sering bergonta-ganti pacar, namun aku belum pernah merasa begitu kasmaran seperti saat ini.

Aku duduk di samping Jaemin dan menepuk pelan pundaknya untuk memberikan tanda bahwa aku sudah kembali. Dia segera melepaskan earphone yang ia kenakan dan meletakkannya di bangku taman. Dengan sedikit gugup ia menatapku dan memberikan senyuman yang tidak bisa kulupakan selama seminggu ini.

"Your ice cream Jaemin-ssi," aku mengulurkan es krim yang kuambil dari kantong plastik.

"Kamsahamnida Jeno-ssi," dia menerima pemberianku itu dan menganggukkan kepalanya.

"Hanya es krim. Ehm, Jaemin-ssi, boleh aku bertanya sesuatu," aku menatap Jaemin yang sedang asyik membuka bungkus es krimnya. Dia mendongakkan kepalanya seolah penasaran mengenai apa yang akan kutanyakan.

"Oh, tentu saja Jeno-ssi."

"Apa hubunganmu dengan Chenle?" aku menatap Chenle yang berlari-lari kecil bersama beberapa anak kecil lainnya di tengah taman.

"Chenle? Dia anak dokter yang merawatku Jeno-ssi. Ada apa?"

"Ani, aku kira dia keponakanmu."

"Semua orang mengira begitu. Tapi, sebenarnya bukan. Ibu Chenle sudah meninggal dunia dan ayahnya sangat sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurus Chenle. Sedangkan aku, setelah aku kehilangan penglihatan aku merasa bosan berada di rumah sakit terus menerus, jadi aku pikir tak ada salahnya mengajak Chenle keluar jalan-jalan," dia bercerita sambil menarik-narik tepi lengan sweaternya.

Betapa mulianya hati pria ini. Ada orang yang sangat baik hati di dunia ini, tapi kenapa dia diberi kekurangan yang sangat ini. Tuhan memberikannya cobaan yang sangat berat. Pria yang tampan dan baik hati ini pasti hidupnya akan lebih bahagia jika dia tidak buta seperti ini.

"Uhm, Jeno-ssi, berapa umurmu sekarang?"

"Hah umurku?"

"Ne."

"Aku dua puluh empat tahun. Wae?"

"Ah, ternyata kita seumuran."

"Jadi bisakah aku memanggilmu Jaemin saja tanpa embel-embel -ssi?" tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu membuat wajah Jaemin langsung merona.

"Kalau kau mau Jeno-ssi."

"Baiklah Jaemin," aku kembali tersenyum. "Ah, kau juga boleh memanggilku Jeno saja, Jaemin."

Gimme The Light (Nomin) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang