Follow juga ya guys akun ku✌️
Annyeong 👋
Happy reading 💜~~
Atas permintaan Taehyung. Kini mereka berada di toko buku, rencananya ingin membelikan buku sebagai hadiah Ulangtahun untuk Namjoon.
Kedua mengelilingi toko buku. Bau buku ini sangat di rindukan oleh Taehyung. Biasanya dia sering datang kesini bersama Namjoon.Taehyung menarik Hosoek ke Rak Buku Fiksi. Namjoon akan membaca buku apa saja. Taehyung rasa Fiksi cukup bagus untuk Namjoon yang terlalu serius.
Berkeliling di toko buku menghabiskan waktu cukup lama. Hoseok memaksa Taehyung untuk segera membayar dan kembali ke Rumah sakit. Tapi, bukan Taehyung namanya kalau tidak membantah. Tanpa sengaja ia melihat Jimin dan Jungkook sedang bergelut saling menjahili disana.
Dia hanya ingin melihatnya lebih lama.Hosoek yang memegang Kendali pada kursi roda yang di gunakan Taehyung. Seberontak apapun dia Hoseok tetap melajukan kursi itu ke meja kasir dan keluar.
Hosoek kesal, sebab Taehyung sedari tadi dia ajak bicara hanya diam. Tak merespon sama sekali. Hoseok berhenti lalu melangkah berdiri tepat di depan Taehyung.
Hoseok terkejut bukan main saat melihat adiknya. Matanya tertutup dan keningnya di banjiri keringat dingin."Taehyung-ah," panggilnya. Hoseok mensejajarkan tubuhnya dengan Taehyung. Memegang tangan dingin sang adik. Dan terus memanggil namanya.
Bukan Hoseok namanya kalau tidak panikan, Hoseok dengan lantang meminta tolong pada orang sekitar.
Berujung dibawalah Taehyung ke rumah sakit tempat dia di rawat dengan mobil salah satu orang baik disana.~~
Dua hari sudah Taehyung tak diizinkan kemana-mana oleh dokternya. Dia harus istirahat dan wajib mengurangi aktifitas. Hoseok juga sudah dua hari tidak kembali kerumah, juga tidak mengabari siapapun.
Menurutnya menemani Taehyung adalah hal terpenting sekarang.Langkah tergesa-gesa dengan wajah yang sulit di artikan menghampiri pria bersenyum kotak yang sedang duduk di atas kasur rumah sakit. Pemuda dengan langkah tergesa-gesa itu melemparkan map coklat yang sama sekali tak di ketahui isinya.
"Kita pulang sekarang! Aku akan memberi tahu semuanya pada mereka. Tidak ada penolakan untuk ini!" tegasnya tak terbantahkan.
Pemuda bersenyum kotak yang di yakini adalah Taehyung mengeluarkan isi map tersebut. Lagi, ini hasil CT scan yang memperlihatkan kondisi jantungnya. Semakin parah. Adalah dua kata yang menggambarkan hasil itu.
"Aku tidak ingin mereka menyesali kematian mu!" cicitnya. Pemuda itu menunduk dengan kedua tangan memegang pundak Taehyung.
"Jadi ... aku akan mati, Hyung." Taehyung mengucap dengan polosnya tapi masih dengan senyum kotaknya.
Hosoek. Lawan bicaranya adalah Hosoek. Hosoek benci senyum adiknya itu. Apalagi dengan wajah pucat yang setiap hari semakin tirus. Genggaman pada bahu Taehyung menguat. Taehyung tau hyungnya ini sudah muak dengan tingkahnya.
Seorang suster masuk dengan sebuah kursi roda yang di dorongnya. Suster itu meletakkan kursi roda tepat di sebelah Hoseok lalu membungkuk dan pergi.
Tanpa bicara diangkatnya adiknya dan didudukkannya di kursi roda itu. Melaju meninggalkan rumah sakit.Sebenarnya dokter Kang tidak setuju dengan tindakan Hoseok yang membawa Taehyung. Kenapa tidak saudaranya saja yang ia bawa kerumah sakit?
Paling terpenting adalah kesehatan Taehyung, saat ini.
Tapi seluruh keluarga ini beranggotakan tujuh pemuda yang sangat keras kepala.
Hoseok tidak memperdulikan ucapan Taehyung yang terus mengeluh atau marah padanya. Yang ada di kepalanya saat ini adalah dia harus mengungkapkan kebenaran. Tidak akan ada rahasia antara mereka.
~mianhae~
"Tae hyung?"
Keterkejutan yang tidak bisa di ungkap saat melihat pemuda itu duduk dengan lemah di kursi roda.
Jungkook.
Dia sudah menangis sekarang. Sudah lama tak melihat hyungnya dan sekalinya melihat dia berada di kursi roda.
Bukan hanya Jungkook itu juga berlaku pada yang lainnya. Mereka mungkin tak menangis tapi seperti tergores sebuah luka yang amat dalam melihat ketidak berdayaan Taehyung.Entah ada apa dengan Jin, Yoongi dan Jimin. Mereka seperti tak merasakan apa apa. Wajah datar tanpa bekas kasihan. Mereka mungkin adalah kesuksesan Taehyung.
"Kau masih ingat dengan rumah?" tanya Jin dengan dingin pada Hoseok. Tanpa menjawab Hoseok mendorong kursi roda Taehyung masuk menuju ruang tamu. Diikuti Namjoon dan Jungkook di belakang.
"Aku tidak tertarik dengan drama baru, keluar lah."
"Hyung!" Hosoek memaksa Jin untuk duduk begitupun dengan yang lainnya. Tidak ada waktu yang tepat selain hari ini. Ini sudah terlalu lama untuk di sembunyikan.
Hoseok mengambil nafas dalam lalu menghembuskan perlahan. Dia sangat gugup tiba tiba. Saat ingin mengucapkan kata pertama, Taehyung menarik ujung bajunya. Memberi kode. Jangan mengatakannya.
"Kau diam saja!" tegasnya.
Hoseok mulai bercerita dari awal hingga akhir. Di iringi air mata yang mulai berjatuhan seperti mata air. Jungkook dan Namjoon saling menguatkan. Rasanya sangat teriris.
Jimin menahan tangisnya. Genggaman pada sofa itu sangat kuat. Itu seperti bagian dari penyesalannya.Setiap kata yang keluar tampak sangat meyakinkan. Taehyung juga merasakan sakit. Bahkan lebih sakit daripada serangan jantung. Melihat air mata keluar dari pelupuk mata saudaranya.
Cerita itu seperti sebuah drama yang mungkin berujung sad anding. Sebuah emosi yang terus di permainkan. Entah lah terlalu rumit untuk di pahami.
"Dan keadaannya semakin memburuk." Akhir dari sebuah cerita di lontarkan oleh Hosoek.
Seokjin berdiri dan melipat kedua tangan lalu meletakkannya di depan dada. Seluruh atensi tertuju padanya. "Sudah? Cerita yang bagus." Jin bertepuk tangan lalu melenggang pergi.
Hoseok menggenggam kuat pergelangan tangan Jin. Ternyata hyungnya ini sudah hilang kepercayaan pada Taehyung. Seharusnya Hoseok memukulnya saja. Ini menjadi rumit karena tindakannya dulu yang sangat sulit di artikan.
"Dia sudah sembuh, Kang ajhussi mengatakan itu padaku," ucap Yoongi santai.
"Sembuh? Maksudnya ... Itu-" Jin menggantung kalimatnya. Mungkin dia sedikit percaya sekarang. Itu jauh lebih baik.
"Sudah ku bilang itu bohong, Hyung!" kekeuh Hosoek.
"Jika itu jantung. Kardiovaskular itu tidak dapat di sembuhkan. Bukan hanya jantung, otot, pembuluh darah dan sekitarnya ikut terserang." Penjelasan Namjoon seperti ribuan jarum yang menusuk tepat di hati.
Suasana hening setelahnya. Mereka seperti kehabisan kata-kata. Antara percaya dan belum menerima. Perasaan itu sulit di artikan.
Bahkan Jimin sekarang pun belum membuka suara. Dia hanya diam."HYUNG! HOSEOK HYUNG! "
"NAMJOON HYUNG!"
"HYUNG!"
~mianhae~
"Hoseok, Taehyung. Dimana kalian?" Pria paruh baya itu sedari tadi mondar-mandir cemas. Dia juga terus mengajukan pertanyaan yang sama. Entah dengan siapa.
"Ku harap dia baik baik saja."
Cemas? Pasti. Pasiennya sudah sangat parah. Ini sudah lebih dari dua jam mereka pergi dan belum kembali. Walau mereka pulang kerumahnya. Penting bagi pasiennya untuk mendapatkan perawatan intensif.
Dokter itu mengganti kegiatan. Dia bertanya pada setiap perawat yang melintas dihadapannya.
Dia sangat khawatir. Seperti seorang ayah pada anak laki-laki nya.Deerrtt!
Dering ponsel tanda panggilan masuk membuatnya sedikit terkejut. Diambilnya ponsel itu dan menekan tombol hijau pada layar.
Kim House
Dari keluarga Kim. Keluarga pasiennya.
"..."
"MWO?!"
"..."
"Akan aku siapkan segera! Kalian cepatlah!"
!!
Akhirnya ku update juga hhihi:)
Sorry karena lama✌️
Di rl sibuk soalnya.Besok aku bakal update lagi. Tapi ga janji sih hihihi
Jangan lupa
Vote
KomenSee you✌️