Malam itu ada seorang pemancing yang sedari pagi belum mendapat ikan sama sekali untuk dibawa pulang. Pasrah akan keadaan, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba menyusuri rawa menghampiri kail-kail yang tadi ia pasang.
Di seberang rawa, ia melihat ada seorang wanita dengan mata penuh dengan kemarahan.
"Hei! Hei! Mbk! Jauhkan pistol itu dari kepalamu!"
Melihat wanita itu tampak ingin mengakhiri hidupnya, pria itu lantas berlari mencari arah untuk bisa sampai ke daratan seberang guna mencegah wanita itu tidak menembakkan peluru ke kepalanya.
"Aduh, udah gila"
****
Semester baru sudah menyambut mahasiswa-mahasiswi untuk kembali belajar. Kampus yang dua bulan ini sepi tanpa aktivitas mahasiswa kini kembali terlihat rutinitas wajarnya.
Mulai dari mahasiswa yang asik mengobrol di parkiran, kantin pagi hari yang sudah cukup ramai, tempat duduk di luar ruang kelas yang terlihat sesak, hingga mahasiswa rajin yang sudah siap di dalam kelas.
Berbagai macam latar belakang perasaan hari pertama masuk kuliah tak mudah ditebak. Mereka terlihat senang dan antusias. Namun sepertinya beberapa dari mereka yang menunjukkan ekspresi malas adalah mahasiswa yang mengulang.
Ruangan M-202
Daun pintu yang sedari tadi ditunggu-tunggu itu hanya terisi oleh lalu lalang mahasiswa. Tampak ruang kelas mulai terisi penuh. Perkuliahan yang seharusnya sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu kini molor sesuai dengan dugaan. Yah, sedikit mengecewakan, bagi beberapa mahasiswa.
"Kamu tau kan ya salah satu dosen kita ada yang kena teror?"
"Iya deh. Dengar-dengar sih katanya karena berhenti meneliti"
"Kalo kata ku sih ya. Kayanya beliau berhenti bukan karena penelitiannya yang sulit deh. Tapi kayanya sih beliau tau sesuatu"
"Bisa jadi sih, soalnya juga ga masuk akal banget kan ya mundur penelitian terus di teror?"
Perbincangan antara mahasiswi baris ketiga itu cukup terdengar jelas dan sedikit mengganggu Tama.
“Berisik banget sih” Pratama Hilmi adalah salah satu seorang mahasiswa semester akhir, belakangan ini ia sering merasa sensitif karena ia baru menyadari beberapa hal dari hidupnya telah menghilang.
Tak lama, beberapa mahasiswa yang semula berada di luar ruang kelas kini tiba-tiba masuk. Dari dulu hal seperti ini selalu menandakan bahwa dosen yang mereka tunggu-tunggu sudah terlihat batang hidungnya dan segera menuju ke ruang kelas.
Gemuruh ramai langkah beberapa mahasiswa seakan-akan membuat ruangan kelas terasa sesak. Kelas yang semula ramai dengan berbagai obrolan dari Sabang hingga Merauke tiba-tiba diam dan menjadi tegang.
“Maaf saudara-saudara sekalian, saya hari ini agak terlambat” ucap bu dosen yang beramah-tamah . “Mulai hari ini saya akan mengajar dengan ditemani seseorang”
Gosip penganiayaan bu dosen sudah cukup sampai ke telinga mahasiswa satu persatu. Tetapi tetap saja pernyataan itu berhasil menimbulkan rasa penasaran bagi seluruh mahasiswa hingga membuat seisi kelas berbisik-bisik.
Percuma, tak ada yang berani bertanya apa maksud dari perkataan dosen itu. Tebakan demi tebakan terlontar begitu saja dengan pelan. Berhasil membuat seisi kelas penasaran, dosen itu berjalan menuju mejanya seolah tak peduli.
“Padahal belum mulai apa-apa tapi kok aku udah pusing ya?” ucap Tama pelan melihat ibu dosen yang sedang membolak-balikkan buku di atas meja.
Tok tok tok....
Seorang gadis berekspresi kaku memasuki ruang kelas. Jas dan setelannya yang serba hitam ditambah lagi headset ala FBI menunjukkan bahwa dia adalah seorang pengawal. Mungkin dialah orang yang dimaksud akan menemani ibu dosen selama mengajar.
Dengan sumringah beliau memperkenalkan pengawal barunya hingga meminta salah satu mahasiswa mengambilkan bangku untuk si pengawal. Kini bodyguard itu duduk tepat di sebelah pintu dan menghadap mahasiswa, memantau jauh majikannya.
“Duduk di sini saja ya nak” lagi-lagi beliau tersenyum lebar pada si pengawal lalu berjalan ke arah tengah ruangan.
Seperti biasa perkuliahan dijalankan dengan tahap pertama penjelasan materi dan tahap berikutnya sesi diskusi. Tiga pertanyaan sudah tertampung dengan sempurna dan kini kesempatan bagi mahasiswa yang ingin menjawab bahkan menyanggah jawaban. Namun sepertinya suasana canggung tercipta sebab adanya si pengawal, terpaksa mau tak mau bu dosen sendiri yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kesempatan diskusi kedua dibuka dan mahasiswa diharapkan untuk lebih aktif bertanya dan menjawab. Tiga pertanyaan tertampung kembali. Kali ini mereka aktif seperti biasa.
Sepuluh menit lagi kelas usai. Bu dosen memberikan penjelasan tambahan sedikit berdasarkan diskusi yang telah berlangsung. Setelah selesai beliau kembali ke mejanya dan mengemasi buku-buku yang dibawa.
Bagi sebagian dosen melakukan penelitian bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun resiko yang tak dapat diprediksi membuat sebagian dosen mundur. Beberapa tahun ke depan akan diprediksi bahwa antar negara terlibat perang dingin. Serangan yang diluncurkan dari tiap negara mengalami perubahan dari perang dunia sebelumnya.
Beberapa bulan lalu dosen dengan gelar profesor itu diminta untuk meneliti sebuah senjata biologis. Senjata yang berbahaya ini ternyata diperoleh melalui seorang teroris yang tertangkap.
Dari jauh pengawal itu memerhatikan setiap gerak-gerik majikannya. Ia kembali memikirkan beberapa hal. Benar kata sebagian orang, dunia sudah tua. Ketamakan dari orang-orang elit dengan gamblang diperlihatkan. Orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa pasti berperan sama sebagai kelinci percobaan.
Pengawal itu teringat pada wawancara kemarin, dosen itu menjelaskan jika hidupnya mulai terancam setelah memutuskan untuk berhenti melakukan penelitian. Ancaman yang diberikan petinggi elit itu bisa kapan saja dan dimana saja. Beberapa pengawal yang ada di rumahnya terasa belum cukup untuk dijadikan tameng.
Tak lama pengawal itu melihat ada sesuatu benda yang menempel pada dinding kaca tepat dosen itu berdiri. Alih-alih tak ingin membuat seisi kelas khawatir, si pengawal meminta tolong sesuatu.
"Permisi, apa boleh kalian berdiri sebentar saja di sebelah saya?"
Para mahasiswa refleks saling tatap pada sesama rekannya. Bu dosen yang tiba-tiba merasa gelisah itupun mendekat "Ada apa?"
"Saya mohon, ini untuk memastikan saja, saya hanya akan menghitung sampai tiga. Setelah itu apapun resikonya kalian terima sendiri" pengawal itu mulai menghitung
"Ayo anak-anak turuti saja perintahnya, Ibu mohon" ucap Bu dosen setengah berteriak
Tak sampai hitungan ketiga semua sudah berkumpul di dekat si pengawal dengan perasaan bingung. Kaca yang semula baik-baik saja itu mulai retak perlahan.
Pranggg
"Sudah ku duga ada yang tidak beres" pengawal itu menghela nafas "Kalian keluar saja lebih dulu, aku masih ada urusan" lanjut si pengawal.
Bersama bu dosen para mahasiswa serentak pergi dengan berdesak-desakan keluar karena takut. Hanya Tama satu-satunya mahasiswa yang tidak keluar. Tama berdiri dan menatap pengawal tersebut dengan rasa penuh kebingungan.
“Ada apa?” tanya pengawal itu yang tengah melipat lengan bajunya “Pergi juga sana” tambahnya.
Tama masih berusaha meyakinkan dirinya untuk bertanya apakah yang ia lihat sekarang benar-benar manusia atau arwah dari seseorang yang telah meninggalkannya.
“Aku boleh bertanya?” si pengawal mengangguk, tanda bahwa ia menerima pertanyaan dari Tama
“Apakah kau Amera?”

YOU ARE READING
Fase Bulan Mati
ActionBercerita tentang pembalasan dendam seorang gadis yang menguasai beberapa jenis martial art. Setiap penjahat yang ia incar memiliki riwayat kriminalitas yang cukup mengerikan. Hal ini membuatnya menjadi buronan karena mengganggu ekosistem kriminalit...