Jangan lupa bintang dan komentarnya yah, supaya aku lebih semangat nulisnya...
Happy Reading🖤🖤🖤
🌹🌹🌹
Levin mengangguk dan tersenyum. "Aku berharap seperti itu juga nek. Apapun yang terjadi kedepannya selama Valen bahagia maka aku juga ikut bahagia. Karena bagiku, Valen adalah seorang adik kecil yang selalu ingin aku lindungi."
Mendengar itu membuat hati Veny bergetar tak karuan. Air matanya langsung mengalir.
~~~
Setelah beberlanja keperluan yang semestinya masih lengkap di apartement. Mau bagaimana lagi, itu salah satu jalan untuk bisa keluar dari perusahaan tadi.
Veny dan Levin sudah sampai di apartement yang ditempati oleh wanita paruh bayah ini.
Levin mengantar sampai lift.
"Nak Levin mau naik juga?."tanya Veny.
"Hm sepertinya tidak usah nek. Aku masih ada urusan setelah dari sini."Levin menolak. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan wanita itu. Cukup lamaa tidak melihatnya. Bahkan ia sengaja tidak mau menelfon dan mengirimkan pesan.
"Oh gitu yah nak. Padahal nenek mau masak. Sekalian makan siang."
"Hm... lain kali saja yah nek."
"Nenek..."teriak wanita yang tak jauh dari sana.
Saat mendengar suara tidak asing itu Levin sudah dibuat semakin canggung.
"Valen, kamu dari mana nak?."tanya Veny sedikit khawatir.
Valen memperlihatkan es cream yang ia pegang. "Beli ini nih nek."ucapnya.
Saat ia sudah semakin dekat, langkah cepat Valen perlahan melambat. Ia melihat sosok pria yang sudah sangat jarang bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Kini berada di samping neneknya.
"Vin..."suara Valen sedikit mengecil, ia bahkan canggung menyebut nama yang selalu ia riang menyebutkannya.
Saat sudah berada di antara mereka. Veny menatap cucunya dengan perasaan sedikit khawatir.
"Kenapa sendiri keluarnya? Mbak nana dimana?."
"Mbak nana lagi sibuk membersihkan nek. Dia sudah bilang tunggu sebentar dia akan menani, tapi Valen maunya sekarang."ucapnya.
Sejak tadi Levin hanya menunduk. Tak berani menatap Valen. Ia merasa canggung dan sedikit merasa bersalah.
Saat memperhatikan cucunya ini curi pandang kepada Levin, Veny mengerti.
"Ini nak Levin ngantarin nenek kembali kesini. Nenek sudah nawarin makan siang. Tapi katanya ada kesibukan lain."
Valen menatap Levin penuh kerinduan. "Kamu beneran gak mau naik ke atas dulu? Kita makan siang sama-sama. Masaakan nenek enak loh."ucap Valen sedikit canggung.
Akhirnya Levin menatap Valen. Betapa rindunya Levin kepada wanita yang sekarang didepannya ini.
Dan ternyata benar, Valen jauh lebih cabi dari sebelumnya. Terlihat nyata bahwa wanita itu sangat bahagia. Mungkin memang benar, bahwa Gaveno adalah pria yang tepat untuk Valen.
"Vin..."
Levin mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tersenyum canggung.
"Boleh. Tapi aku bisanya sebentar saja."
Valen tersenyum mendengarnya begitupun dengan Veny. Ada rasa kehangatan sendiri melihat kakak adik ini berinteraksi. Walaupun masih ada rasa kecewa itu.
~~~
Akhirnya mereka bertiga sudah berada di apartement. Mbak Nana yang mulai membantu Veny memasak.
Sementara Valen dan Levin duduk berduaan di balkon. Veny sengaja memberikan ruang untuk mereka. Karena yang Veny tau mereka sekarang tidak sedekat dulu dan tampak canggung. Dan hal itu jelas sangat terlihat interaksi di antara mereka tadi. Biarkanlah mereka menyelesaikan kesalahpahaman itu dengaan baik.
Disinilah mereka berdua. Di balkon yang lumayan luas ini. Mereka duduk berdua saling bersampingan. Menatap pemandangan gedung-gedung menjulang tinggi yang sangat indah.
Mereka berdua tampak canggung. Hening meliputi mereka.
Sementara Levin, rasanya tidak tahan berdiam begini dengan wanita disampingnya ini. Mereka berdua selalu bertukar kabar, saling menceritakan apapun kalo bertemu, saling tertawa, tidak seperti ini. Saling berdiam dan sangat canggung.
"Sepertinya kita terlihat sangat canggung."ucap Levin. Ia sungguh tidak tahan.
Valen akhirnya menatap Levin. "Iya."
Dan mereka saling bertatapan.
"Apa kabar? Apakah kandunganmu baik-baik saja?."tanya Levin kemudian menatap perut Valen yang sudah sedikit menonjol.
Valen tersenyum kemudian mulai mengelus perutnya. "Baik. Kami berdua baik-baik saja. Bagaimana denganmu?."
Mendengar itu membuat Levin legah. Kemudian pria itu kembali mengalihkan tatapannya menghadap kedepan.
"Baik juga. Tapi tidak sepenuhnya. Mungkin aku kepikiran kamu terus. Mengingat hubungan kita yang tampak begitu buruk."jujur Levin.
"Kalo begitu ayo kita perbaiki. Aku juga merasakan hal yang sama. Canggung seperti ini. Jadi, ayo kita seperti dulu lagi. Selalu ada satu sama lain."ucap Valen.
Kini mereka kembali saling menatap.
"Statusmu yang dulu sama sekarang sudah berbeda Valen. Kamu sekarang sudah menjadi milik orang lain dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri sekaligus ibu. Tentu saja semuanya akan berubah. Kamu yang akan sibuk dengan keluargamu, dan aku akan sibuk dengan bisnisku."ucap Levin.
"Tapi, satu hal yang kamu tau. Bahwa aku akan selalu disini. Menjadi seseorang... bukan, tapi seorang kakak yang akan melindungimu, yang selalu ada untukmu disaat kamu membutuhkan apapun. Ingat, kamu tidak sendiri."tambahnya.
Dan air mata Valen mulai mengalir. Lihatlah, inilah yang ia rindukan kepada pria ini. Pria yang selalu melindunginya dan menjaganya.
"Maaf jika sifatku tempo hari itu kekanakan. Aku hanya masih shock menerima semua yang sudah terjadi. Tapi, setelah ku pikir dengan baik. Ada maksud Tuhan atas sesuatu yang terjadi. Dan aku percaya, bahwa maksud ini adalah untuk kamu bahagia. Bersama dengan pria pilihanmu."