"Selamat pagi mba Sinta.." sapa Emir dengan riangnya saat mereka bertemu di depan pintu masuk.
"Pagi mas.."
Sinta terdiam heran karna Emir tiba-tiba menunduk dan merasa tidak enak padanya.
Saat Emir memikirkan kata-kata yang telah membuat wanitanya itu mungkin sakit hati, Emir terkejut karna Sinta mengangkat dan memeluknya, dan kembali menurunkannya ke tanah.
"Gapapa mas, aku ngerti. Ayo kita ke kantor," kata Sinta tersenyum
Emir menyeringai lalu berjalan bergandengan dengan Sinta ke kantor.
Saat tiba di ruangan mereka, suasana masih sangat sepi. Bagi Sinta ini hal biasa karna dia selalu datang lebih awal dari siapapun.
"Mba Sinta.. beneran masih mau nikah sama aku?"
Sinta yang sudah melangkah maju, berbalik melihat Emir yang terus menunduk murung. Wajah Sinta yang dari tadi di tahan, kini berubah ikut murung karna mengingat apa yang Emir katakan padanya tadi malam.
**********************************
Di tengah Cafe saat mereka makan malam, Sinta benar-benar terkejut mendengar pernyataan mengejutkan yang baru saja Emir katakan.
Suasana yang tadinya terasa begitu romantis, kini berubah menjadi sangat berat.
"Jadi.. mas Emir sudah berpacaran dengan pak Alan selama 3 bulan ini? Terus tepat setelah kejadian mas Erik, saat proses kita berdua dekat, pak Buntung sama pak Alan juga berlomba-lomba untuk mendapatkan hati mas, gitu?" Tanya Sinta memperjelas.
Emir mengangguk pelan sambil terus menunduk karna dia tidak berani menatap wajah wanita yang lebih tua darinya itu.
"Kalo mas Emir akhirnya memilih pak Buntung dari pada pak Alan. Kenapa mas masih ngelamar aku?" Tanya Sinta pelan.
Emir menelan ludah lalu dia perlahan membuka mulutnya.
"Aku pengen mas ngomong sambil liat mata aku," kata Sinta saat melihat Emir ingin berbicara.
Emir perlahan mengangkat kepalanya dan terkejut karna ternyata dari tadi Sinta sedang menahan tangis.
"Maaf.. mba Sinta.. bukannya saya ga ngehargain mba Sinta. Saya gatau gimana rasanya jatuh cinta. Tapi setelah bersama mba Sinta, saya bener-bener cinta sama mba Sinta," kata Emir gemetar.
"Terus kalo sama pak bos?" Tanya Sinta.
"Saya gatau. Saya tertarik, saya suka, dia keren, baik, dan banyak lagi. Saya ga bisa lepas karna kebaikan dan keceriaan pak bos. Saya gatau.. saya bingung.."
Sinta tersentak saat Emir mengatakan itu sambil meremas rambutnya.
Sinta mencoba menenangkan diri lalu dia menghela nafas.
"Kalo di bandingin sama pak Buntung. Mas lebih suka siapa?" Tanya Sinta.
"Mba Sinta.."
"Lebih cinta siapa?"
"Mba Sinta.."
Emir yang gemetar ketakutan, tersentak saat Sinta memegang tangannya.
Emir kembali melihat wajah Sinta yang kini tersenyum padanya.
"Aku bakal tetap terima lamaran mas. Aku bakal anggap, pak Buntung itu istri kedua mas. Tapi aku pengen, jangan sekalipun mas mesra-mesraan di depan aku sama pak Buntung. Itu sakit banget," kata Sinta dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi mba Sinta-"
"Gapapa, bener ko. Tapi.. perjuangan mas buat ngelamar aku ga gampang loh," kata Sinta tersenyum lebar.Emir tersentak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Working!!!
HumorCerita ini mengandung hubungan sesama jenis. bagi yang tidak suka, mohon untuk tidak melanjutkannya. _____________________________________ Seputar kisah simpel antara para karyawan di sebuah perusahaan.