Sequel dari Traveler 4: Family
Fakta terungkap!!!
Setelah panjangnya pertikaian yang tak ada habisnya, perlahan kelompok ini menemukan jalur menuju kemenangan.
Namun, konflik tak kunjung usai. Setelah di suguhi jalan menuju kemenangan yang tinggal s...
"Betapa sulitnya mempercayai mitos di dunia ini." * KAI TOKUGAWA *
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
OSTER MANSION TRAVELER
Jefferson Gilbert menatap bom yang terbungkus rapi di dalam peti kayu dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Paduan antara kecerdasan dan rasa khawatir tercampur dalam hatinya saat ia mengingat asal-usul benda ini. Peti itu tergeletak begitu sederhana, namun di dalamnya terkandung sesuatu yang lebih berbahaya daripada apapun yang pernah ia hadapi.
"Jadi ini bom yang kalian cari sampai ke gorong-gorong itu?" tanya Jeff, suaranya teredam dalam keheningan ruang yang dipenuhi dengan debu dan cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip.
Max, yang berdiri dengan sikap tenang namun waspada, menatap bom itu dengan mata penuh kehati-hatian. "Ya, ini ciptaan kakekmu, Jeff," jawab Max, suaranya dipenuhi dengan keheningan yang lebih dalam dari biasanya.
"Sangat sulit mengeluarkannya dari dalam terowongan itu. Tapi karena Lexi telah membaca jurnal keluarga kalian, dia bisa mengeluarkannya dengan sangat mudah," jelas Richard, yang berdiri di samping Max, menunjukkan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.
Jeff mengangguk pelan, matanya tak pernah lepas dari peti kayu itu. Kemudian, ia beralih menatap Max. "Jadi kita akan apakan benda ini, Max?" pertanyaannya menggantung di udara, seolah menunggu keputusan yang dapat mengubah arah mereka semua.
"Sembunyikan bom ini di tempat yang aman, Jeff. Biarkan Niklaus dan Enzo yang mengambil keputusan untuk benda ini." Max berbicara dengan suara yang penuh keyakinan, meski ada sedikit keraguan di balik kata-katanya. Jeff mengerti, dan dengan gerakan sigap, ia mengangkat peti itu, bertekad untuk menyembunyikannya di tempat yang akan memberikan perlindungan dari siapa pun yang mungkin mengincarnya.
Tiba-tiba, terdengar suara keras yang menggema di seluruh ruangan. BRAK!!! Semua orang terkejut dan secara refleks menoleh ke arah pintu. Di sana, dengan nafas terengah-engah, berdiri sosok yang sudah tak asing lagi bagi mereka. Udon, dengan wajah cemas, tampak begitu terburu-buru.
"Ada yang lihat Kai-sama?" Udon bertanya, suaranya penuh kecemasan yang menggantung di udara seperti badai yang siap meledak. Semua mata tertuju pada sosok yang hilang itu—Kai. Entah di mana ia berada, namun setiap orang tahu bahwa ketidakhadirannya bukanlah kebetulan.
Sementara itu, di ruangan sebelah, Liz duduk terdiam, tatapannya tertuju pada api yang membara di perapian. Hening, namun hatinya terasa gelisah. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, namun ia sendiri tak tahu apa itu.