Pertemuan dengan Ayah

18 2 0
                                    

Nuansa suram kini memenuhi situasi diruang tamu itu. Bahkan Ruby tak berani mengeluarkan sepatah katapun saat menyadari bahwa kedua kakaknya dan sang ayah tidak berada dalam hubungan baik.

"Mau apa ayah kesini?" Tanya Rey dingin.

"Ayah hanya ingin melihat kalian saja memang tidak boleh?"

Lelaki paruh baya itu kini mengalihkan pandangannya ke Ruby dan terkekeh.

"Kau Ruby kan? Tak salah, memang kau sangat mirip ibu mu," ucap Caka yang dibalas senyuman canggung oleh Ruby.

"A...apa aku boleh memanggilmu ayah?" Tanya Ruby takut-takut. Pria paruh baya itu pun tersenyum kecil dan melipat kedua tangannya di dada dengan gaya congkak.

"Jika kau ingin memanggilku seperti itu silahkan, walaupun aku tidak akan menerimamu sebagai anakku."

"AYAH!" Bentar Raymond kesal karena perkataan sang ayah.

"Benar bukan? Kalian tahu sendiri aku dan ibu kalian bercerai karena apa. Kita tidak tahu apakah Ruby anak dari hasil selingkuhan ibumu atau bukan."

Ucapan itu seketika bagaikan pedang yang menusuk hati Ruby, seketika kepalanya pun menunduk menahan air mata yang hendak kembali keluar.

"Bukannya aku sudah memberikan hasil test DNA? Jika ayah mencurigai Ruby, apakah ayah juga mencurigai kita sebagai anak kandung ayah?" Tanya Rey yang berusaha menahan emosinya.

"Hasil itu bisa dimanipulasi, lagian kalian memang ada dalam satu kandungan di perut ibu kalian. Bisa jadi, ibu kalian juga memanipulasi data...."

"Ibu menghilang setelah 1 bulan melahirkan Ruby, dan Ruby ke sini sendirian tanpa bantuan siapapun, jadi tidak mungkin ibu meminta mereka untuk memanipulasi data," jelas gadis itu yang kini tengah menatap ayahnya dengan berkaca-kaca.

"Sekarang aku mengerti mengapa bang Rey selalu diam saat aku bertanya soal ayah, beruntung aku waktu dulu bertemu dengan mereka dan bukan bertemu dengan mu..."

Ruby pun menjeda perkataanya sejenak dan beranjak berdiri

"Ku kira aku akan memiliki ayah yang baik, namun tak ku sangka akan seperti ini, aku mau kekamar dulu, permisi."

Ucap Ruby yang melangkah menuju kamarnya, namun saat hendak menyentuh pintu, kaki itu terhenti saat mendengar percakapan sang ayah kepada kedua kakaknya.

"Ku dengar kalian membuka cafe?" Tanya Caka kepada kedua anaknya.

"Apa yang mau ayah lakukan?" Tanya Raymond yang kini punggung tangannya telah di pegang oleh Rey untuk meredakan emosinya yang bisa sewaktu-waktu meledak.

"Apa itu untuk biaya hidup adik kalian?"

"Bukannya aku sudah bilang akan mengurus Ruby, ayah pasti tahu jawabannya."

"Huh, kalian bahkan tidak mengurus diri kalian sendiri dengan becus. Kapan kalian lulus? Bahkan anak dari teman-teman ayah sudah memiliki pekerjaan tetap, apa kalian tetap ingin membuang-buang waktu seperti ini?" Tanya Caka kepada mereka.

"Jangan pikir ayah tidak tahu kegiatan kalian selama ini yang selalu mabuk-mabukan dan bermain-main dengan wanita," lanjutnya yang kini tatapannya tertuju oleh Raymond.

"Bukankah ayah juga sama?" Tanya Raymond yang membuat Caka mengeraskan wajahnya.

"Bukannya semejak kau bercerai dengan ibu kami, ayah selalu bergonta-ganti pasangan dan selalu sibuk bekerja tanpa mengurus kami?"

Raymond kini melepaskan genggaman tangan kembarannya itu dan menatap ayahnya dengan tajam.

"Dimana ayah waktu kita sakit?? Dimana ayah waktu aku memerlukan bantuan?? Kalau saja dulu mendiang nenek tidak merawat kita , mungkin salah satu dari kita bahkan tidak akan hidup sampai sekarang!!" Bentak Raymond yang wajahnya kini mulai memerah.

          

"BUKANNYA KAMI SEPERTI INI KARENA TUMBUH TANPA DIDIKAN ORANG TUA?? AYAH PIKIR INI SALAH SIAPA SEHINGGA HIDUP KITA MENJADI SEPERTI INI?"

PLAKK!!!

Pipi Raymond kini terasa sangat panas setelah mendapat tamparan keras dari pria tua itu, bahkan Ruby yang diam-diam mendengarkan pun ikut terkejut.

"Ini yang selalu ayah lakukan, selalu memukul kami tanpa ada alasan yang jelas!"

"KAMU BISA DIAM TIDAK?" Bentak Caka yang hanya dibalas kekehan oleh Raymond.

"Ayah yang memaksa kami kuliah, Tapi itu semua hanya karena gengsi ayah bukan? Ayah bahkan tidak sepenuh nya benar-benar mempedulikan kami!"

Pria paruh baya itu hendak kembali melayangkan tamparannya, namun Rey dengan cekatan langsung menahan tangan sang ayah.

"Jika ayah hanya membuat keributan disini, lebih baik ayah pergi sekarang." ucap Rey dengan dingin.

"AYAH YAKIN CAFE KALIAN TAK AKAN BERTAHAN LAMA! DAN AYAH TAK AKAN MEMBERI UANG LAGI BAHKAN SEPESERPUN KEPADA KALIAN! DASAR ANAK KURANG AJAR!"

Bentak Caka yang kemudian keluar dari apartement mereka.

Tepat saat itu, seketika pertahanan Raymond langsung runtuh, dia pun jatuh terduduk dan mulai terisak dengan tubuh bergetar. Sedangkan Rey kini langsung memeluk Raymond untuk menenangkan kembarannya itu.

Tanpa mereka sadari, Ruby yang sedari tadi hanya mengamati mereka dari kejauhan kini mulai mendekati mereka dan ikut memeluk kedua kakaknya sembari menangis bersama mereka.

-

-

Seusai kejadian tadi, ketiga bersaudara itu memutuskan untuk tidur bertiga di ruang tamu menggunakan kasur lipat mereka dengan Ruby yang berada di tengah.

"Aku tidak bisa membayangkan wajah kita akan sebengkak apa saat bangun nanti."

"Mana besok harus buka cafe," ucap Raymond sembari menatap langit-langit rumah.

"Lo kapan kekampus lagi? Pacar lu kemarin nanyain gua," tanya Rey ang membuat Raymond berdecak kesal.

"Ntaran lah, lagi males ngurus skripsian, lagian cafe juga lagi rame-ramenya, kalo gue sama lo kekampus bareng-bareng kasihan Raka dan Jovan jagain cafe berdua doang."

"BTW, pacar Bang Raymond ada berapa si" tanya Ruby penasaran.

"Pacar yang mana dulu nih? Yang di kampus atau di club, pacar dia kan banyak,"ejek Rey yang langsung diberi jitakan oleh sang adik kembarnya.

"Dua doang, kagak banyak! Tapi keknya bentar lagi gue mau mutusin mereka aja deh, kayaknya sekarang gak ada waktu buat pacaran."

"Wuihh, adek gue udah mulai dewasa juga ternyata,"

"Sapa sih yang adek lo? Kita aja cuman beda sejam doang njir, gak usah belagu deh." Omel Raymond.

"Tapi sekali-kali lah panggil gue abang kek kayak Ruby,"

"Ogah!" Ujar Reymond yang kini membalik kan badannya mrembelalangi mereka dan memejamkan mata untuk tidur.

"Cih, emang adek laknat," ucap Rey yang juga berbalik membelakangi Ruby. Sedangkan Ruby hanya menghela nafas menyaksikan kelakukan konyol kedua kakaknya dan kemudian ikut tertidur menyusul mereka ke alam mimpi.

---

Sejak kejadian semalam, Rey, Raymond dan Ruby pun kini semakin dekat, bahkan kini Ruby diantar kedua kakaknya menuju sekolah menggunakan mobil.

"Ntar gak usah di jemput, gue mau naik bis bareng Laila, awas aja kalo sampe jemput," ancam Ruby kepada kedua kakanya sebelum ia turun dari mobil dan masuk ke halaman sekolah.

Our Life Donde viven las historias. Descúbrelo ahora