Mentari sudah membumbung tinggi. Namun kamar berpadu warna cream itu masih tampak mati. Pemiliknya mendengkur halus di atas ranjang. Tanpa busana. Hanya mengenakan celana panjang sisa kegiatan semalam.
“Ugh….” desisnya. Untuk pertama kali. Selain detak jam, ada juga suara manusia mendominasi.
Pemilik ruangan itu bangun. Ia meraup wajah sambil menggenapkan sisa kesadaran. Menyisir segala arah. Dia memang punya kebiasaan merengung dulu. Setelah dirasa tak ada yang aneh, dia pun akan memulai rutinitas paginya.
Namun, detik ini dia menghabiskan waktu cukup lama untuk merenung. Tak ada yang salah didirinya. Hanya saja….
“Di mana ini?” ucap Adeen. Mengernyit dalam.
Kembali mengulas memorinya. “Ugh! Kepala ku sakit.” Adeen mendesis lagi. Merasakan kepalanya berdenyut dan lidahnya terasa pahit.
Tak bisa begini, Adeen butuh udara segar dan air mineral. Beruntung di nakas ada segelas air putih. Adeen meneguknya lantas beranjak setelah denyut di kepalanya tak lagi bereaksi intens. Tempat pertama yang ingin Adeen tuju adalah jendela dengan hordeng motif sakura di sana. Sayang saat langkah pertamanya, suara seseorang menginterupsi.
“Ohayou Gozaimas, Adeen-san.”
Seperti timah panas melesat cepat. Ingatan Adeen kembali. Tentang kegiatan semalam dan kegiatan bersama Tuan Hiroshi.
Adeen berbalik dan betapa terkejutnya dia mendapati gadis hanya dengan handuk di tubuhnya.
“Bagaimana keadaan mu?” ucap gadis itu dengan bahasa jepang.
Adeen masih terpaku. Bukan karena kaget dengan penampilan Kanae. Ya, gadis ini bernama Kanae. Tidak lain dan tidak bukan adalah anak kedua keluarga Hiroshi. Yang Adeen pikirkan sekarang adalah… kenapa dia hanya pakai handuk saja? Jangan bilang Adeen sudah berbuat yang tidak-tiak selama mabuk semalam?Oh sial! Ingatan didapati. Adeen baru sadar, setelah kegiatan berkeliling pabrik kemarin, Adeen diundang makan malam keluarga Hiroshi. Itu kegiatan yang hangat denga senda gurau Kanae sebagai anak bungsu mereka yang baru menginjak bangku SMA. Sampai Tuan Hiroshi mengajak Adeen ke balkon. Menikmati udara malam dengan segelas minuman.
Jujur, Adeen bukan orang sesuci itu yang tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Kadang Adeen menikmatinya jika ingin. Yah, walau harus kena marah dulu jika ketahuan Mamanya.
Semalam, Tuan Hiroshi menyuguhkan segelas wine. Adeen tahu itu minuman beralkohol dan dia tidak keberatan. Yang Adeen tidak tahu, Wine itu ternyata punya kadar alkohol tinggi. dan dia baru ingat Tuan Hiroshi adalah peminum handal. Satu tegukan dan Adeen langsung tumbang.
“Adeen-san?” Kanae meneleng. Lantas menatap dengan polosnya.
Gadis ini… Adeen tidak bertindak sejauh itu kan? Ini bukan lagi musibah. Tapi bencana!
“Kanae,” panggil seseorang. Adeen dan Kanae pun menoleh.
“Kau di sini ternyata.” Wanita paruh baya yang ternyata Nyonya Hiroshi itu menoleh ke Adeen. Lantas terkejut. “Maaf ya, Adeen-san. Kanae memang sering mandi di sini. Padahal di kamarnya sudah ada kamar mandi.”
“Itu kan karena kamar mandi ku ada penghuninya Mom.”
“Jangan bicara aneh-aneh Kanae. Cepat pakai baju mu dan sarapan!”
Kanae mendengus dan pergi. Sedang Adeen yang menyaksikan iteraksi ibu dan anak itu akhirnya bisa bernafas lega.
Syukurlah aku tidak melakukan hal yang bisa membahayakan diri ku sendiri. Terimakasih sudah melindungi ku Tuhan. Batin Adeen.
“Adeen-san, mari sarapan. Saya tunggu di ruang makan ya?"
“Baik, Nyonya.”
Sesaat wanita paruh baya itu hendak keluar. Ia teringat sesuatu. Dia pun berbalik dan berkata, “ah, benar. Maaf tidak bisa datang di acara pernikahan mu. Waktu itu Kanae tiba-tiba sakit. Kalau Adeen-san tidak keberatan, saya ingin memberikan sesuatu.”
Adeen trsenyum kikuk. “Tidak perlu repot-repot Nyonya. Saya memakluminya.”
“Bukan hadiah mahal. Tolong diterima ya, Adeen-san,” bujuk paruh baya itu.
Adeen tak bisa menolak. Ia pun menyetujuinya.“Ngomong-ngomong. Apa Adeen-san menikahi wanita yang sering dibawa kemari? Kalau tidak salah namanya Sakila-san ya? Dia sekretaris mu bukan? Kalian tampak akrab.”
Lagi-lagi Adeen tersenyum kikuk. Itu adalah skenario yang gagal dilakukan. Jika Ayu tidak datang mungkin yang berada di sini adalah Sakila dan bukan….
Tunggu!
Mata Adeen membulat sempurna. Kini pikirannya kembali prima. Segala ingatan dan juga… janjinya dengan Ayu.
“Nyonya!” panggil Adeen tiba-tiba. Menggebu.
“A-ada apa, Adeen-san?” Akira pun kebingungan.
“Ma-maaf, sepertinya saya tidak bisa sarapan bersama.”
“Eh? Kenapa?”
“Sa-saya lupa mematikan kompor,” ucap Adeen nagwur. Pasalnya dia tidak bisa bilang telah melanggar janjinya dengan Ayu yang akan mengajaknya jalan-jalan hari ini. Karena yang mereka tahu, Adeen datang sendiri ke sini.
“Damkar! Kita harus menghubungi damkar!” ucap Akira panic.
“Tidak usah, Nyonya. Saya akan kembali segera. Sekali lagi mohon maaf.” Tunduk Adeen dalam. Setelahnya ia melesat cepat. melewati ruang makan yang ternyata sudah ada Tuan Hiroshi dan Kanae. Tak sempat menyapa. Adeen mengabaikan mereka. Persetan!
***
“Ayu!” pekik Adeen terengah-engah. Dia menelusuri kamar hotel yang mereka tempati beberapa hari lalu.
Tidak ada. Adeen masuk lebih dalam. Area dapur. Nihil. Kamar juga nihil.“Shit! Kemana dia?”
Sekali lagi Adeen memeriksa handphone. Tadi saat di perjalanan kemari, Adeen sudah mencoba menelepon Ayu. Dan handphonenya tak tersambung sama sekali.
Buntu! Adeen beranjak ke resepsionis. Meminta hak untuk melihat CCTV. Semoga dengan itu ada petunjuk kemana Ayu pergi. Sumpah demi apapun, panic tengah melanda.
Oh Tuhan, jika terjadi sesuatu padanya. Adeen bisa gila!“Bagaimana?” ucap Adeen saat penjaga CCTV menghentikan rekaman.
“Sepertinya istri Tuan pergi ke arah selatan di jam sembilan malam. CCTV halaman hanya bisa menangkap sejauh ini.”
Adeen meraup kasar wajahnya. Pikirannya berkecamuk. Kenapa dia nekat pergi di jam segitu? Apa dia lupa bahwa dia tidak memehami bahasa sini. Dan—
Astaga!
Adeen memeriksa kembali handphonenya. Dilihatnya laporan panggilan dan menemui banyak panggilan tak terjawab dari Ayu.
“Ayu….” gumam Adeen. Tak ada waktu untuk menyesal. Adeen harus segera mencari Ayu. Segala macam cara Adeen lakukan. Mulai dari menghubungi polisi. Menyewa detektif swasta. Namun nihil.
Sang waktu kadang bertindak kejam. Tak membiarkan Adeen menuntaskan tujuan walau segenap usaha telah ia jalankan. Genap dua hari Ayu menghilang. Tak ada jawaban. Bumi seolah menelannya.
Pancaran mata yang seakan bisa menggenggam dunia itu mulai meredup. Ia tunduk di atas sofa. Menatap kosong lantai yang tercetak dirinya. Saat handphone itu bergetar, secepat kilat ia ambil. Kadang spam membuatnya ingin sekali membanting handphone.
Ironis sekali, dulu Adeen menolak mentah-mentah kehadiran Ayu. Sekarang?
Siapa yang merasa kehilangan di sini? Bayang-bayang Ayu selalu menyiksa kewarasannya. Merenggut harga dirinya sebagai lelaki yang tidak bisa menepati janji sampai menciptakan tragedi.
Sekali lagi Adeen meraup kasar wajahnya. Bagaimana ia menjelaskan kepada orangtuanya di Indonesia. Ah, lupakan itu. Bagaimana jika Ayu tidak ditemukan?
Rasa bersalah, menyesal, dan…. kehilangan. Hanya butuh dua hari untuk menyadarkan Adeen bahwa sosok Ayu sudah melekat di jiwanya. Sungguh, Adeen tak pernah begini. Bersama Sakila pun tak seberat ini. Mungkinkah kata cinta datang setelah terbiasa benar adanya?
Ah, jika benar. Tolong beri kesempatan sekali lagi. Hadirkan dia yang kini entah di mana. Agar aku bisa memantapkan hati. Agar aku bisa sekali lagi meyakinkan diri. Dia lah wanita yang ku tuju. Dia lah wanita yang berdiri di masa depan ku. Tak peduli seberapa randomnya dia. Aku menerimanya.
Detik itu juga handphone Adeen berbunyi. Kabar gembira singgah. Adeen luruh. Ia tertawa seperti orang gila. melepaskan penat yang menemui jalan pulang.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih.
Mampus lu Adeen. Dah tau kan kalo rasa asing itu cinta. Mamam tuh cinta. Wkwk. Masalahnya ada di ayu nih. Ada rasa gak dia sama Adeen? Apa bakal jadi cinta sepihak nih?