12. Kunjungan

95 11 2
                                    

Langit terlihat gelap dengan gumpalan awan hitam yang menyelimuti, musim penghujan kali ini tidak seperti tahun kemarin dengan jalanan yang selalu basah dan becek. Matahari tak terlihat sedang berada di sebelah mana. Gerimis turun perlahan, dengan sangat halus. Gadis dengan rok berwarna biru wingkel tiga perempat dan juga kaos putih polos itu menengadah menatap langit, tangannya terulur demi melihat seberapa derasnya air hujan. Dia memegang payung di tangannya, tapi entah kenapa hujan selalu membuat perasaannya tidak nyaman.

Tak lama, terlihat sebuah mobil melintasi gang itu, hampir memenuhi jalanan. Seseorang membunyikan klakson dari sana. Membuat Senja mengernyit dan memicingkan matanya. Jendela kaca itu terbuka sedikit, menampakkan sosok Angkasa yang melambai padanya. Senja tersenyum, dia meraih bingkisan yang ada di teras kosnya itu, membuka payungnya dan bersiap akan menghampiri Angkasa.

Angkasa berniat membawanya pulang, meskipun sudah berteman selama hampir tiga tahun, Senja masih belum pernah menginjakkan kakinya di rumah Angkasa, begitu juga sebaliknya. Rumah keduanya tidak terlalu jauh, butuh waktu setengah jam untuk tiba. Mereka memilih untuk menempati kos, agar bisa lebih dekat dengan kampus dan berjalan kaki kemana saja.

Senja baru sadar, ini adalah Lexus Silver milik Danu. Rintik hujan membuatnya tak bisa melihat dengan jelas tadi.

"Sudah?" tanya Angkasa saat gadis itu sudah duduk manis di sampingnya. Senja mengangguk. Setelahnya Angkasa mulai menyetir dengan pelan.

Senja menyandarkan dirinya di sandaran kursi. Melihat ke samping, keluar jendela. Jendela itu sedikit buram karena air hujan.

"Sa?"

"Hm?"

"Kamu suka hujan?" tanya Senja. Setahu Senja, Angkasa paling tidak suka keluar kos jika hujan. Kecuali memang hanya untuk kuliah. Senja masih memperhatikan jalanan, sedangkan Angkasa belum juga menjawab pertanyaannya. Gadis itu menoleh, dia tak bisa melihat ekspresi Angkasa dari posisinya saat ini. Pemuda itu masih sibuk menyetir.

"Kamu gak suka hujan, ya?"

"Kata 'suka' seperti apa yang kamu maksud, Senja?" tanya Angkasa pada akhirnya. Senja tak menjawab, bingung harus mengatakan apa. "Aku tidak suka hujan, karena pekerjaanku bisa saja tertunda. Aku gak bisa bebas kemana pun tanpa payung."

"Dari dalam hatimu, apa kamu suka hujan, Sa?"

"Aku pernah suka hujan. Setelahnya, aku pernah membencinya. Saat ini, aku sudah berdamai dengan hujan, tak ada apa pun yang aku rasakan tentangnya, tapi kalau boleh jujur ... Aku merindukan hujan dengan segala kenangan indahnya." Senja tertegun sejenak. Angkasa mengucapkannya seperti tanpa beban. Lelaki itu masih fokus dengan pandangan lurus, mengemudi membelah jalanan kota. Senja memalingkan wajahnya, memperhatikan wiper yang bergerak ke kanan dan ke kiri menyapu air hujan.

Apakah ada seseorang di balik cerita hujan yang Angkasa maksud?

***

Mobil itu memelankan lajunya saat memasuki sebuah pelataran rumah yang cukup luas. Angkasa sudah memberitahu Ibunya bahwa dia akan pulang bersama Senja. Senja memperhatikan sekitarnya, ada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di teras.

"Ayo," ajak Angkasa. Pemuda itu baru saja akan turun saat Senja menahannya.

"Sa, aku gugup." Angkasa menoleh, pemuda itu tertawa pelan.

"Untuk apa gugup? Senja biasanya lebih banyak tingkah, kenapa sekarang malah gugup? Tidak seperti Senja yang aku kenal." Senja berdecak.

"Kamu gak mengerti, Sa." Angkasa menepuk puncak kepala Senja dua kali, dengan pelan.

"Ayo, kasian Bunda nungguin, tuh." Mau tak mau, akhirnya Senja mengikuti langkah Angkasa dan keluar dari mobil.

Senja melihat bagaimana interaksi antara Angkasa dan juga Ibunya. Senja juga memperhatikan, ternyata mata teduh milik Angkasa, juga di miliki Ibunya.

          

Ketiganya masuk ke dalam rumah. Senja melirik jam dinding yang ada di salah satu sudut ruang tamu. Sekarang pukul tujuh pagi. Dia dan Angkasa memang sengaja untuk pergi lebih awal agar bisa sarapan di rumahnya.

"Senja yang sering Kasa ceritain, ya? Kamu manis sekali," ucap wanita paruh baya itu. Senja tersenyum dan menunduk. Sangat malu rasanya.

"Hujan baru berhenti, kalian gak kehujanan, kan?"

"Ya enggak, dong. Kan pake mobil, Bunda." Angkasa yang menjawab.

"Ayo, sarapan dulu, ya?" Ibunya berjalan mendahului Angkasa, sedangkan Angkasa langsung menghampiri Senja dan menariknya agar mau mengikuti dirinya.

"Sa, aku harus panggil ibu kamu, apa? Ibu, Tante, Bude?" Angkasa mengerjapkan matanya beberapa kali. Bisa-bisanya Senja masih berpikir begitu.

"Terserah, kamu panggil Mbak, juga gak masalah." Senja hampir saja akan memukul Angkasa jika tak mengingat ini adalah rumahnya. "Kamu sampai lupa ngasih bingkisan itu," ucapnya lagi menunjuk bingkisan yang masih Senja pegang. Gadis itu menepuk dahinya.

"Astaga, lupa."

"Enjoy, oke?"

Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan yang sudah di persiapkan oleh Ibunya. Senja duduk saat Angkasa menarikkan sebuah kursi untuknya.

"Kasa, bantu Bunda sebentar," panggilnya. Angkasa yang semula akan duduk, mengurungkan niatnya dan menghampiri ibunya yang ada di dapur.

"Kasa bisa bantu apa?"

"Sini, Bunda mau tanya." Angkasa terdiam. Memperhatikan Ibunya yang tengah serius menatapnya. "Kamu kembali dengan Rubby?"

Rubby?

Kenapa gadis itu lagi?

"Apa maksudnya? Tiba-tiba banget Bunda bahas dia."

"Rubby sudah tiga kali datang kesini, gimana Bunda bisa tetep diam? Bunda pikir kalian bareng lagi, tapi hari ini kamu malah membawa Senja." Angkasa menatap manik mata Ibunya sejenak, lalu memalingkan wajah.

"Angkasa gak balik sama dia, Bunda. Gak perlu bahas dia lagi."

"Begitu, ya? Bunda pangling sekali. Anak itu semakin cantik, sudah seperti bule-bule gitu. Beda jauh sekali sama kalian saat di sekolah." Angkasa mendesah pelan.

"Kasa juga ketemu sama dia kemarin," cicitnya.

"Apa katanya?" Angkasa tak menjawab, hanya menatap Ibunya saja. "Dia ngajak kamu kembali?" Angkasa mengangguk.

"Tapi Kasa gak mau," ucapnya.

"Kamu masih belum bisa lupain Rubby?" Angkasa menunduk.

"Lupa seperti apa yang Bunda maksud? Kasa gak akan pernah ngelupain setiap hal yang terjadi dalam hidup kasa, tapi gak bisa melupakan bukan berarti masih ingin bersama, kan? Kasa ingin seperti Bunda. Kuat dalam setiap hantaman." Ibunya tersenyum, membelai pelan rambut putranya yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya.

"Anak pintar. Jangan buat Senja kecewa, oke?" Angkasa mengangguk dan tersenyum.

***

Rubby?

Siapa Rubby?

Aku mendengar percakapan antara dua orang Ibu dan anak itu. Aku tidak tahu bahwa mereka sedang mengobrol. Aku kira, ada banyak hal yang harus di lakukan, itu sebabnya aku berniat untuk membantu.

Aku terkejut, aku tidak pernah mendengar nama itu. Aku kira, Angkasa hanyalah seorang pemuda yang malas berurusan dengan pasal cinta. Aku mengira, Angkasa adalah laki-laki yang sedang tidak tertarik dengan hal apa pun kecuali studinya dan juga pekerjaannya. Siapa sangka, hampir tiga tahun mengenalnya, aku tidak pernah tahu tentang nama-nama yang muncul belakangan.

Kemarin Evelyn, gadis cantik dengan dimple dan juga rambut kecoklatan yang indah. Kali ini Rubby, aku bahkan tidak tahu wujudnya seperti apa.

Dalam satu pekan, sudah ada dua nama yang muncul.

Apa Angkasa benar-benar tega membiarkanku bersaing dengan perempuan-perempuan cantik itu?

***

Tbc

Apa fotonya kelihatan jelas? Atau pecah? Ini foto lama, saat aku dan Kasa baru mengenal

Deze afbeelding leeft onze inhoudsrichtlijnen niet na. Verwijder de afbeelding of upload een andere om verder te gaan met publiceren.

Apa fotonya kelihatan jelas? Atau pecah? Ini foto lama, saat aku dan Kasa baru mengenal. Saat itu masa ospek, aku gak sengaja matahin name tag dia, sampai dia di hukum sama senior.
Sa, maafkan aku ya ... aku gak sengaja, kok.

- Senja Sandhya Atama -

Dulu, aku dan Kasa sedekat ini

Deze afbeelding leeft onze inhoudsrichtlijnen niet na. Verwijder de afbeelding of upload een andere om verder te gaan met publiceren.

Dulu, aku dan Kasa sedekat ini. Bertahun-tahun kita menghabiskan waktu bersama. Hanya ada aku dalam dunianya.
Sa, kamu mau kembali ke pelukanku, gak?

- Evelyn Rubby -

Senjanya AngkasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang