Hanya tentang Team Voli SMA dengan sedikit sentuhan feminim, melibatkan klub voli putri yang belum pernah diceritakan lebih lanjut. Berlatar pasca lulusnya siswa kelas tiga. Kupikir dengan berkembangnya Klub Voli Putra Karasuno, menjadi dorongan unt...
Tiba-tiba sebuah jeritan memekakkan telinga terdengar tak jauh dari mereka. Sontak membuat mereka berpaling melihat siapa yang berteriak begitu heboh sambil memanggil nama Karasuno.
Jaket putih dengan aksen berwarna pink cerah dan juga rambut yang berhiaskan pita berwarna senada. Misaki dan Mao berpapasan dengan tim itu di toilet beberapa waktu yang lalu. SMA Shukochu duduk tak jauh dari tim putri Karasuno di tribun. Di saat yang bersamaan tim putra Karasuno baru saja memasuki lapangan.
"Pantas saja mereka teriak." Ujar Mao.
"Ugh.." Akira memalingkan wajahnya malas.
"Ada apa sih? Apa masalahmu dengan tim Shukochu?" Tanya Misaki penasaran, karena Akira terlihat sangat tidak menyukai tim Shukochu.
"Tidak, aku tidak ada masalah apapun dengan mereka." Jawab Akira bernada sarkastik.
"Hmm, kau tidak menyukai mereka karena mereka centil kan?" Tanya Yuri menyipitkan matanya. Menebak dari ekspresi Akira sepertinya yang di katakan Yuri benar.
"Aku hanya berpikir mereka sangat berisik. Itu saja." Ujar Akira, "aku berpapasan dengan mereka beberapa kali ketika menghadiri turnamen-turnamen voli. Mereka sering sekali mencari perhatian orang-orang." Lanjutnya.
"Apa itu artinya mereka jago seperti Niiyama?" Tanya Yuri.
"Eugh, tidak-tidak, terlalu jauh jika di bandingkan dengan Niiyama. Tapi meski begitu mereka terkenal di kalangan anak-anak voli. Followers media sosial mereka ribuan. Banyak anak SMP yang ingin masuk ke SMA Shukochu karena tim voli mereka terkenal. Tidak hanya itu Shukochu juga sekolah elit dengan asrama yang sangat bagus. Sudah, cukup aku tidak mau membicarakan mereka." Akira geli sendiri mendapati ia membicarakan SMA Shukochu.
"Wah, aku tidak tahu ekstrakulikuler di Jepang punya publisitas semacam ini, sudah seperti olah raga sungguhan saja." Komentar Yuri.
"Kenapa? Kalau cuma media sosial kita juga bisa buat, kan?" Ujar Mao, mereka menoleh tidak mengerti apa yang Mao bicarakan. "Ya ampun, aku tahu kalian terlalu lempeng seperti kutu buku, tapi coba pikirkan, Miyama-san seorang blogger terkenal, Yuri punya followers yang banyak, dan kita punya tim putra yang sedang naik daun, ada Kageyama-san yang bisa kita jadikan maskot media sosial kita." Jelas Mao.
"Apa hubungannya dengan Kageyama-san?" Tanya Akira. Dia mengerti jika mereka memiliki pelatih seorang blogger dan juga Yuri yang mempunyai banyak followers bisa menguntungkan mereka jika mereka membuat page media sosial. Tapi Kageyama?
"Memangnya kalian tidak dengar?" Ujar Mao, ia menoleh ke arah tim putri Shukochu yang sedang berteriak-teriak di ikuti dengan yang lainnya.
"KAGEYAMA-SAN!!!"
"SEMANGAT KAGEYAMA-SAN!!"
"KARASUNO FIGHHHTTT!!!"
Yap, tim Shukochu terlihat sekuat tenaga sedang mencari perhatian Kageyama. Tiba-tiba semuanya masuk akal untuk Akira. Tentu saja, Kageyama Tobio, kandidat Timnas muda Jepang. Turnamen musim semi tahun lalu seperti semacam debut pertama Kageyama sebagai seorang setter handal sekaligus seorang idol di kalangan remaja putri. Kenapa ia tidak kepikiran kesana ya? Mungkin karena Akira terlalu fokus iri pada skill Kageyama hingga ia tidak sadar betapa terkenalnya Kageyama sekarang.
"Pfftt...lihat Kageyama-san." Celetuk Misaki menunjuk ke arah lapangan.
Terlihat Kageyama sedang menatap bingung ke arah gerombolan tim putri Shukochu yang sedang berteriak ke arahnya. Tampaknya ia tidak mengerti kenapa ia di teriaki seperti itu.
"Oy Kageyama! Kau harus fokus pada pertandingan kau mengerti!" Tiba-tiba saja Tanaka mengapit leher Kageyama dan menyuruhnya untuk berbalik badan dan memulai briefing dengan wajah yang menyeramkan. Terlihat jelas kalau dia panas karena hanya Kageyama yang di teriaki oleh para gadis dan tidak dengan yang lainnya.
"Kau benar Mao, kita harus buat fan page Instagram kita sendiri, dengan begitu Karasuno juga akan menjadi terkenal." Kata Akira.
"Bagaimana Coach? Apa kau pikir itu ide yang bagus?" Tanya Mao.
Miyama-san sedikit terkejut mendengar anak tiba-tiba menanyainya. Ia juga memperhatikan apa saja yang sejak tadi mereka bicarakan. Tapi mengenai topik ini, Miyama-san masih belum bisa melupakan kejadian tentang postingan mereka di kamp pelatihan tempo hari yang begitu berpengaruh pada Yuri. Ia tidak begitu yakin jika membuat akun media sosial untuk tim voli Karasuno merupakan ide yang bagus.
"Jadi bagaimana coach? Kurasa, menurutku pribadi, itu ide yang bagus."
Seakan tahu isi pikiran Miyama-san, Yuri berguman seolah dia memberi tahu pelatihnya jika ia tidak ada masalah dengan hal itu. Yuri mengerti jika hal ini mungkin membuat Miyama-san khawatir. Tapi Yuri sudah memutuskan jika dia tidak akan terpuruk lagi. Jika Karasuno ingin membuat akun media sosialnya sendiri, kenapa tidak?
"Baiklah, kalau begitu." Mereka tersenyum gembira begitu mendengar persetujuan dari Miyama-san.
Namun hal itu tidak membuat mood Akira terlihat lebih baik. Tim Shukochu di sebelah mereka begitu heboh hingga bahkan menyaingi suporter-suporter yang lain.
"Hmm, bagaimana kalau kita kerjai mereka.." Ujar Yuri pada Akira. Gadis berambut hitam itu melirik jahil ke arah tim Shukochu yang masih berusaha mendapatkan perhatian Kageyama.
"Mereka berteriak seheboh itu tanpa menyadari kita, tim putri Karasuno ada disini. Kita harus menunjukan kalau kita jauh lebih dekat dengan tim putra Karasuno agar mereka cemburu." Kata Yuri. Menurutnya ini adalah ide yang sangat brilian.
"Maksudmu aku harus berteriak-teriak seperti itu untuk menarik perhatian Kageyama-san? Tidak mau! Canggung sekali!." Balas Akira.
"Ini mudah kok, ikuti aku!" Yuri tiba-tiba saja menarik tangan Akira ke balkon tribun.
"Mau kemana mereka?" Ujar Mao yang melihat Yuri dan Akira turun dari kursi.
"Tidak tahu." Jawab Misaki asal.
Tim putra Karasuno sedang melakukan pemanasan setelah SMA Wakunan selesai. Tim Shukochu yang berada di tribun masih berusaha memotret dan merekam tim putra Karasuno yang sedang pemanasan.
"Oke ikuti aku, lihat ya." Ucap Yuri.
"Tunggu, Yuri, apa yang kau lakukan?" tapi Yuri tidak menggubrisnya.
"TANAKA-SAN! NISHINOYA-SAN! KALIAN PALING BERSINAR DI ANTARA SELURUH PEMAIN YANG LAIN!!" Yuri berteriak cukup keras hingga suaranya terdengar pada tim putra yang sedang melakukan pemanasan.
Telinga Tanaka dan Nishinoya yang seratus kali lebih sensitif ketika mendengar suara gadis yang memanggil nama mereka. Teriakan Yuri dari tribun terdengar seperti suara terompet dari surga. Mata Tanaka dan Nishinoya berbinar semacam mengalami spiritual awakening. Akhirnya ada yang menyadari jika mereka adalah pemain voli paling bersinar di lapangan.
"Sekarang aku benar-benar mengerti jika Yuri adalah anak yang baik Noya-san." Kata Tanaka. Ia merasa wajahnya tampan sekali kala itu.
"Benar Ryu, Yuri anak yang begitu polos dan lugu, aku tahu dia bisa merasakan kehebatan dan ketampanan kita berdua." Nishinoya juga merasa ada sebuah kilauan cahaya mengelilingi wajahnya.
Yuri nyengir, ia tahu jika hal itu akan membuat Tanaka dan Nishinoya senang.
"Ayo kau coba. Tidak usah canggung, anggap saja rasa kagum dari adik tingkat pada kakak tingkat, toh semua orang sudah tahu jika kau mengagumi Kageyama-san." Kata Yuri.
"Apa yang harus aku katakan?" Akira bingung.
"Apa saja! Ayo sebelum mereka mulai bertanding." Kata Yuri.
"Err—mm—KAGEYAMA-SAN!" Teriak Akira tanpa berpikir. Kageyama menoleh ketika ia mendengar suara yang ia kenal. Akira dan Kageyama bertemu mata, tapi pikiran Akira blank, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ini semua karena ide si bodoh Yuri yang begitu impulsif ingin membuat tim Shukochu cemburu.
"KALAU KALAU KAU MENANG AKU AKAN MEMBELIKAN MU SUSU KEJU PREMIUM KELUARAN CAFE ARAKU TERBARU!"
"Ark..—" Kageyama tercekat tidak bisa mengontrol wajahnya. Seharusnya tidak ada yang tahu kalau dia mengincar Susu keju keluaran tebaru cafe Araku. Ia tidak pernah bilang pada siapapun, kalau akhir-akhir ini ia sengaja sering pulang jalan kaki lewat cafe terkenal tidak jauh dari sekolah hanya untuk mengincar susu keju terbaru mereka. Kageyama belum sempat membelinya karena cafe itu selalu penuh dan antri, selain itu, cafe Araku adalah tempat favorit para siswa pacaran sepulang sekolah, jadi ia sangat canggung untuk memasuki cafe itu. Bagaimana Akira tahu kalau dia mengincar susu keju cafe Araku?
Di sisi lain, Akira yang melihat reaksi Kageyama pun bingung. Ia tidak menyangka kalau susu keju benar-benar akan menarik perhatian Kageyama. Ia tidak tahu kalau Kageyama mengincar susu keju itu, ia hanya berasumsi kalau Kageyama yang menyukai susu kotak akan tertarik pada susu keju yang sedang populer di sekolah.
"Pfffttt......."
Tsukishima tidak kuasa menahan tawanya. Ia tidak mengerti apa yang sedang dua gadis aneh itu lakukan. Gebrakan baru selalu saja muncul di otak mereka di saat yang tidak di duga-duga. Tapi apapun tujuannya sepertinya mereka berdua telah berhasil. Rasa percaya diri Tanaka dan Nishinoya meningkat hingga 120%, mereka berdua bertingkah seolah mereka orang paling tampan di lapangan. Sedangkan untuk Kageyama sendiri, Tsukishima bisa melihat rona kemerahan di wajah Kageyama. Ia kenal betul ekspresi itu. Ekspresi tidak sabar untuk bertanding dan memenangkan pertandingan. Apa mungkin Kageyama idiot itu benar-benar ingin susu keju yang di bilang oleh Akira.
"YURI MANA SEMANGAT UNTUK KU!?" Tiba-tiba Hinata berteriak. Ia merasa tidak adil karena ia tidak di semangati.
"SEMANGAT HINATA! JIKA KAU MENANG AKU JUGA AKAN BELIKAN ES KRIM MOCHI CAFE ARAKU!" Teriak Yuri di ikuti dengan binar dari mata Hinata.
"YOSH!" teriak Hinata.
"Huh? Siapa?"
Mulai terdengar bisik-bisik dari grup di sebelah mereka. Akira dan Yuri sepertinya berhasil membuat mereka cemburu.
"hm? Karasuno? Apa mereka tim pemandu sorak?"
"Bukan lihat itu, mereka tim putri Karasuno?"
"Huh tim putri? Lawan kita selanjutnya?"
Miyama-san paham dengan semua yang terjadi. Ia hanya tak habis pikir, terkadang remaja seperti mereka bisa melakukan hal-hal yang konyol.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.