0.4 Fakta baru yang mengejutkan

28 2 0
                                    

Terhitung sudah satu minggu lama nya mereka tidak berkumpul, mengingat sebentar lagi beberapa dari mereka akan ditugaskan ke luar kota dalam misi rahasia. Tentu saja para pejuang ini benar-benar sibuk dengan urusan masing-masing, sudah menunjukkan pukul 6 pagi jadi masih tersisa waktu untuk bersantai.

Colt dari arah gerbang terlihat berjalan bersama Lara, keduanya sudah nampak akrab bahkan sepertinya pembicaraan mereka terdengar menyenangkan itu bisa dilihat dari cara mereka tertawa.

"wow, apa ini? Kalian berdua sudah dekat saja?" suara Pieck mengintrupsi

Lara tersenyum tipis menanggapi sementara Colt menatap Pieck dengan tatapan sulit diartikan.

"berarti aku dan Liana tidak usah bersusah payah mendekatkanmu dengannya, sekarang giliran Marcel." Lanjut gadis berambut hitam tebal itu.

"aku tidak mengerti apa yang dia bicaran" ujar Lara terheran-heran membuat Colt tentu saja tersenyum canggung.

"yasudah, ayo kita masuk ke dalam menemui yang lainnya."

Saat ini, Porco, Marcel dan Zeke sedang duduk bersama menikmati secangkir kopi hitam dengan asap mengepul. Pagi itu udara masih terasa dingin.

Zeke menghela nafas panjang, kedua mata pria itu terlihat mengerikan dengan lingkaran hitam. Sepertinya pria itu telah melalui hal berat selama seminggu ini.

"kau tidak tidur berapa hari, Zeke-san?" Porco mengawali pembicaraan mereka

Zeke menatap kearahnya sebentar lalu meminum kopinya, "hampir satu minggu. Ini gila." ujarnya pelan

"untung saja aku tak ditugaskan dalam misi kali ini" ucap Marcel yang merasa bahwa dirinya beruntung.

Porco mendengus, pikirmya kakak kembarnya ini sangat beruntung dan selalu.

"yang pergi kali ini adalah Annie, Reiner, dan juga Grace. Tetapi komandan Magantha meminta tambahan pejuang untuk ikut, antisipasi saja." ucap Zeke

Marcel menyerengit, "Grace? Anak baru itu? Ahh maksudku teman baru Pikku?" tanya nya

Zeke mengangguk, "benar. Karena itu Komandan Magantha meminta Porco dan Berthold juga ikut, dia masih saja meragukan kemampuan gadis itu padahal menurutku Grace sudah cukup handal di bidangnya."

"lalu kenapa kau tidak ikut serta? Bahkan kau sudah begadang demi misi ini?" itu suara Porco mengintrupsi.

Zeke tertawa kecil, "aku sudah menyusun strategi masa aku pula yang ikut turun kelapangan?"

Setelah mengatakan itu Zeke melengos pergi meninggalkan si kembar yang masih terdiam memandang kepergiannya.

"kenapa harus aku yang pergi? Kenapa bukan kau atau Colt saja?" ujar Porco terlihat gusar

"Hei, ada apa?" tanya Marcel heran. Seperkian detik kemudian ia tersenyum, "itu karena Pikku tidak jadi pergi juga? Dan kau khawatir jika Pikku kembali dekat dengan Zeke-san?" tebak Marcel yang tidak disahuti oleh adik kembarnya itu.

Lantas tebakan Marcel memang benar, "mereka sudah lama berpisah. Walaupun mereka dulunya sempat bersama tapi sekarang Zeke-san sudah mendapat gantinya bukan? Walaupun kita belum tahu apa hubungannya yang sekarang, antara hubungan kerja saja atau ada hubungan special."

Porco menghela nafas lirih, "tetap saja. Monyet tua itu selalu memberikan perhatiannya pada Pikku, aku kan khawatir jika mereka kembali bersama."

"Hoi Porco!" teriak seorang dari kejauhan membuat Porco kembali menghela nafas.

"aku akan ikut latihan bersama Reiner, selamat bekerja" ucapnya menghampiri pria Braun tersebut.

Marcel hanya tersenyum kecil memandang kepergiannya.

          

***

"Ayah!" Liana masuk tanpa mengetuk pintu ruangan milik Tuan Lenz untung saja di dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya dan Tuan Lenz.

Tuan Lenz menghela nafas, "tidak bisakah kau mengentuk pintu dulu? Bagaimana jika aku sedang ada tamu?" ujar pria paruh baya itu, dirinya tidak marah namun intonasi suaranya tetap saja membuat Liana bergidik ngeri.

"bisakah aku ikut misi kali ini? A-aku bisa diandalkan sebagai tim medis—"

"tidak." sela Tuan Lenz

"kenapa? Aku ingin berpartisipasi. Aku ingin memperjuangkan bangsa ku." kata Liana

"kau bahkan tidak memiliki kemampuan dasar melindungi diri, fokus aja bekerja di rumah sakit. Kau akan mendapatkan pekerjaan setelah semua orang pulang dari misi. Jangan menambah beban Ayah"

Liana akhirnya duduk di kursi ruangan tersebut enggan pergi dari sana membuat Tuan Lenz menatap bingung.

"ada apa lagi?" tanya pria paruh baya itu.

"kalau begitu tolong pastikan keselamatan Reiner— dan teman-temanku yang lain."

Tuan Lenz tertawa, "aku tidak bisa menjamin. Tapi akan aku usahakan, jadi sekarang silakan kau pergi."

Liana akhirnya bernafas lega dan pergi dari ruangan ayahnya, dia harusnya berada dirumah sakit sekarang membantu yang lain dalam mengurus dan juga mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan oleh para pasien.

"hei, Lian. Sudah satu minggu tidak kelihatan sepertinya kau sibuk sekali? Ingat loh lusa kami akan pergi" Bertholdt berjalan disamping Liana membuat Liana berdecak.

"kau tinggi sekali, aku jadi susah menatapmu." ucap gadis itu.

Bertholdt hanya menanggapi dengan tertawa, "kau bertengkar ya dengan Reiner? Kau tahu, pria itu sangat gila dan terlihat frustasi karenamu."

Liana melotot, "kenapa jadi kau salahkan aku?" ucapnya tak terima.

"kau harus bicara dengannya, jangan menghindarinya. Bagaimanapun kita semua berteman loh, Lian."

"Reiner terlihat giat bekerja bahkan jarang pulang sudah seminggu ini" lanjut pria bertubuh jakung tersebut.

Annie datang menghampiri keduanya, "apa yang sedang kalian bicarakan?"

Liana tersenyum tipis, "kau cemburu Ann?" ucap Liana dengan nada usil pasalnya Annie tiba-tiba berdiri ditengah.

Annie terdiam, wajahnya menatap lurus kedepan dengan pandangan dingin. Selalu saja begitu.

"aku tidak akan mengganggu waktu kalian, aku pamit pergi dulu. Sampai jumpa ya!" Pamit Liana pergi meninggalkan Berthold dan Annie disana.

Canggung.

"bagaimana latihanmu, Ann?" tanya Bertholdt basa-basi

Pria ini tidak pandai dalam hal itu padahal mereka semua latihan bersama karena berada dikelompok yang sama. Tentu saja mereka mengetahui latihan yang masing-masing dilakukan.

"baik, seperti biasa. Hanya saja aku belum mahir menggunakan senapang" ucapnya

Bertholdt mengangguk pelan, "kalau begitu nanti aku ajarkan ya. Misi kali ini berat, karena mentri tidak mengizinkan kita berubah menjadi Titan." ucapnya

"kau benar, dan aku sangat takut jika musuh akan menang kali ini."

Ditengah-tengah pembicaraan mereka, terlihat Zeke dan Pieck yang tengah berjalan bersama keduanya nampak ngobrol dengan beberapa kertas dikedua tangan mereka membuat Annie melontarkan kata yang tak pantas.

The Marleyan [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang