chapter 70 [S²] BAGIAN TERKECIL DARI KATA LEPAS

233 35 122
                                    

☆☆☆

70.BAGIAN TERKECIL DARI KATA LEPAS

Setelah saling percaya dan bersama, tugas kita hanya berjuang dengan baik
...

Setelah pulang sekolah,Kanglim dan Ian sama sama berjalan ke arah parkiran dengan langkah ringan.
Setelah sekolah, tujuan mereka adalah toko buku, Walaupun Ian tidak suka ke tempat itu, tetapi sekarang, ia belum tahu cara menolak kemauan cowok manis kesayangannya.

"Capek nggak?"tanya Ian.

Kanglim menggeleng. "nggak, jalan doang masa capek,"

"Kalau capek bilang, Lim. Gua pakein kursi roda sampai parkiran, atau-"

"Atau apa?"tanya Kanglim sembari menatap Ian menyelidik.

"Gua gendong,"

"Kuker,"timpal Kanglim, menggeleng geleng tidak habis pikir dengan pikiran Ian.

"Demi lu apa sih yang nggak,"balas Ian menggoda nya.

Langkah kaki Kanglim terhenti, "Kamu serius?"

"Iya, asalkan nggak aneh aneh,"jawab Ian meniru cara bicara Kanglim.

"Setelah ke toko buku nanti, aku mau ke toko musik,"terang Kanglim sangat antusias.

"Nggak papa? Lu nggak capek?"tanya Ian ragu. Takut kondisi kesayangannya yang kecapean nanti, dan Ian tidak tenang dengan kabar itu.

Kanglim menggeleng, tentu dengan senyum manisnya, Agar Ian mau menuruti apa keinginannya.

"Lim?"suara Ian terdengar pelan, dan Kanglim tahu, laki-laki itu mulai untuk membujuknya.

"Aku mau ke toko musik, Ian,"ujar Kanglim dengan warna wajah yang tak ingin dibantah.

"Pilih salah satu,"tegas Ian. "Toko buku apa toko musik?"

"Tuh 'kan katanya 'apasih yang nggak'
giliran gini udah ngasih pilihan,"
Kanglim mengalihkan pandangannya.
Pura pura marah agar Ian mengiya- kan kemauan nya.

"Nanti lu kecapean sayang,"sahut Ian hati hati.

"Yaudah, kalau gitu kita pulang aja Ian sekarang,"

Dalam hati, Kanglim sangat ingin tertawa. Lucu sekalih melihat ekspresi wajah Ian yang biasanya galak berubah menjadi memelas seperti ini.

Laki laki berjaket Aodra itu berdecak.

"Fine, Kita ke dua-duanya,"jawab laki laki itu.

"Tapi ada syaratnya,"ujar Ian yang membuat Kanglim sedikit keheranan.

"Apa syaratnya?"tanya Kanglim.

"Nanti kalau kita udah pergi ketempat itu, baru gua kasih tahu,"balas Ian.

"Okay," Kata Kanglim sepakat.

Keduanya kembali berjalan, Ian terus memegang tangan Kanglim, erat tetapi nyaman.

Tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya, hingga tanpa sengaja Ia melihat Andre ada disana. ya, Andre sedang melihat nya dari arah jauh,
dan dia juga tersenyum kepadanya.
bagi dia sekarang adalah senyuman yang creepy.

          

"Mau mampir makan dulu, Lim?"
tanya Ian. "Boleh,"balas Kanglim, Ya ia memang lapar sekarang.

"Dimana?"tanya Ian.

Kanglim berfikir, lalu memperlihat kan handphone nya yang mendapat kan menampilkan alamat tempat makan favoritnya.

"Anything for u, Lim."

Keduanya lalu masuk kedalam mobil,
dan melaju bersama menuju tempat tujuannya selanjutnya.

***

Sesampai di Gramedia, cowok manis itu seperti menemukan dunia nya, sejak tadi ia mengelilingi rak-rak buku dengan senyum yang terus terusan terbit, seolah ini adalah candu baginya.

Ian membuang nafasnya kasar, ikut berjalan di belakang Kanglim dengan wajah sabar. Bagaimana toko buku bukanlah tempat yang ia minati.

"Ian, nggak usah ngikutin aku terus deh, cari buku sana,"sahut Kanglim tanpa menoleh, cowok manis itu sibuk dengan buku-buku yang ada di depannya.

"Nggak, gua mau jagain lu,"tegas Ian.

Kanglim memutar bola matanya malas. See? Di toko buku aja harus di jaga? Cowok manis itu menggeleng g
geleng,ternyata benar, semua orang
akan bucin pada waktunya.

"Cari komik kalau nggak suka baca buku,"timpal Kanglim.

Ian tidak menjawab. Ia memilih tetap
mengekori Kanglim yang masih sibuk dengan buku-bukunya.

Hingga sampai dirak "NOVEL" Kanglim kembali berhenti untuk mencari novel buruannya bulan ini,
cowok manis ini mengeluarkan handphonenya, sembari menelfon Hyunwoo untuk berkonsultasi.

Kanglim Bimantara: Gue di toko buku Hyun.

Kanglim Bimantara: Lo mau titip novel?

Tanpa menunggu hitungan menit,
ponsel Kanglim kembari bergetar.

Hyunwoo Arkata Pradipta: Garis waktu by bung fiersa

Kanglim Bimantara: Wait

Mata Kanglim mulai mencari secara jeli judul novel itu, diikuti Ian yang ikut mencarinya.

"Ini bukan?"tanya Ian menyodorkan buku itu didepan Kanglim.

Kanglim menoleh,ternyata ada faedah nya mengajak Ian ikut bersama nya. "Makasih Ian ku,"

Ian hanya mengangguk,lalu kembali mengikuti Kanglim. Sesekali laki laki itu melirik ke arah jam tangannya dan mantap, sudah hampir 2 jam mereka ada disini.

"Lim? Buku apa lagi?"tanya Ian.

"Masih banyak sih, aku juga mau beli buku biologi,"kata cowok manis itu santai.

"Lu nggak capek?"selidik Ian.

Dengan senyum manis yang Kanglim punya, ia tersenyum pada laki-laki yang sejak tadi mengusik fokusnya,
"Nggak, Ian."

"Pulang yuk, Lim?"ajak Ian.

"Nggak,"

Ian berfikir, "Nonton yuk?"

THE BAD BOY (TAHAP REVISI)Donde viven las historias. Descúbrelo ahora