Bab 16.

19 4 0
                                    

Hari ulang tahun pak Al pun tiba.

Hari itu Tiana memutuskan bangun lebih pagi untuk mempersiapkan kue ulang tahun pak Al. Berhubung Tiana akan membuat beberapa kue sekaligus agar semua staff kebagian, jadi semalam Ika dan beberapa pelayan serta beberapa koki mengajukan diri membantu.

"Kau tinggal katakan saja apa yang perlu kami lakukan, kami akan mengerjakannya sesuai instruksimu." begitu kata Ika semalam di ikuti anggukan dari semua pelayan dan koki yang menawarkan diri untuk membantu Tiana.

Jadi pagi ini, di dapur mess, Tiana membagi tugas. Ada yang mengupas dan memotong-motong mangga. Ada yang bertugas memarut kulit lemon dan ada juga yang bertugas memeras sari lemon. Sedangkan yang lainnya menyiapkan loyang dan alat-alat lain yang diperlukan.

Tiana sendiri bertugas menakar dan mencampur bahan-bahannya, berhubung gadis itu yang tahu resep kue yang akan dibuatnya.

Ia juga mengawasi saat adonan tengah di aduk dan di panggang. Hingga mengawasi proses pembuatan krim untuk hiasan kue. Sekali dua kali mencicipi kalau-kalau campuran untuk krim kuenya kurang pas. Menambahkan ini di sini, menambahkan itu di situ.

"Tiana, apa ini cukup?" sekali waktu yang bertugas memotong mangga bertanya.

"Berapa loyang yang kita butuhkan?" tanya yang lain.

Seperti itu kira-kira kesibukan di dapur mess sejak pagi buta guna menyiapkan kue ulang tahun untuk kepala pelayan yang mereka sayangi dan hormati.

Setiap orang yang turut serta membantu Tiana membuat kue mengerjakannya dengan senang hati. Sesekali terdengar obrolan dan tawa yang di barengi dengan pertanyaan ini dan itu tentang kue yang akan dibuat.

Kegiatan membuat kue sempat terjeda saat Tiana melakukan tugas utamanya. Melayani Rey. Gadis itu segera kembali ke dapur mess sesaat setelah mobil yang membawa Rey ke kantor menghilang di balik gerbang yang tertutup.

Lewat jam makan siang akhirnya seluruh kue selesai di hias. Para pelayan pria sudah membawanya ke bagian belakang rumah utama, yang kini tampak lebih lapang karena meja dan kursi yang biasa para staff gunakan untuk makan dan beristirahat sudah di pindahkan ke sudut ruangan agar bisa di gunakan untuk meletakkan kado-kado untuk Pak Al. Pak Al juga sudah dipanggil ke belakang.

Hampir seluruh staff di rumah keluarga Sanjaya kini berkumpul di bagian belakang rumah utama untuk merayakan ulang tahun Pak Al. Kecuali mereka-mereka yang memiliki tugas berjaga.

Semua serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun saat Pak Al tiba.

Kepala pelayan itu berusaha, dan gagal, menyembunyikan senyum di wajahnya. Begitu lagu selesai di nyanyikan, Pak Al berjalan mendekati salah satu kue berukuran terbesar dengan beberapa lilin-lilin kecil menyala, yang di bawakan oleh dua orang staff laki-laki kemudian meniupnya. Tepuk tangan terdengar meriah. Semua bersahut-sahutan mengucapkan selamat ulang tahun dan berjabat tangan dengan pak Al yang di balas dengan ucapan terima kasih dari sang kepala pelayan.

Tiba waktunya potong kue. Para hadirin terdiam begitu tangan Pak Al bergerak memotong kue yang paling besar.

Pak Al meletakkan seiris kue di piring kertas, mengambil garpu dan mulai menyuap.

Keadaan semakin hening. Semua seolah menahan napas saat Pak Al mulai mengunyah perlahan. Tiana bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, berharap dapat menyembunyikan suara detakan jantungnya. Ia menelan ludah gugup menantikan reaksi maupun komentar pak Al akan kue buatannya.

Sedetik.

Dua detik.

Hingga lima detik berlalu.

Mereka menunggu pak Al menyelesaikan suapan pertamanya. pak Al menatap sisa kue di piring kertas di tangannya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.

"Rasa kuenya berbeda." ucap pak Al singkat.

Glek!

Semua menelan ludah dengan susah payah. Ika lalu maju untuk menjelaskan.

"Toko kue yang biasa tutup pak, karena itu rasanya berbeda." ujar gadis itu ragu-ragu.

Pak Al mengangguk mendengar penjelasan Ika. Ia lalu mengambil suapan kedua, kembali mengunyah dan menelannya.

"Kue yang ini enak. Saya suka. Rasanya sesuai selera saya." ujar pak Al singkat dan padat.

Wajah setiap staff yang hadir berubah cerah. Diam-diam mereka menghembuskan napas lega karena pak Al ternyata menyukai kue ulang tahunnya. Tiana bahkan sampai mengelus dadanya saking leganya. Rasanya seperti dinyatakan lulus setelah sidang skripsi dengan dosen penguji paling killer, batin Tiana.

Pak Al menunjuk kue yang ada. "Silahkan kalian potong sendiri. Tapi.." gerakan-gerakan di ruangan kembali terhenti. Menunggu kelanjutan perkataan pak Al. "Sisakan seiris lagi untuk saya ya. Rasa kuenya semakin dikunyah semakin enak." lagi-lagi pak Al melontarkan pujian untuk kue yang tengah ia makan.

Semua tertawa senang. Ika yang bertugas memotong-motong kue sengaja memotong seiris kue berukuran agak besar untuk Pak Al.

"Kue ini tidak dibeli di toko loh pak." Ika memberikan potongan tambahan pada pak Al.

Pria yang berulang tahun itu mengerutkan kening. "Tiana yang sudah membuat kue-kue ini." pak Al tampak terkejut mendengar informasi dari Ika. Matanya bergerak mencari gadis yang sedang dibicarakan. Ia menemukan Tiana sedang makan kue sambil berbincang dengan dua orang koki.

Pak Al menyipitkan mata memandang Tiana. "Panggil ia kesini." perintah Pak Al.

Ika mengerjap bingung mendapati respon pak Al. Dengan patuh Ika berjalan ke arah Tiana, menepuk pundaknya dan memberitahukan gadis itu kalau pak Al memanggilnya.

Tiana meletakan piring kertasnya yang kini kosong ke meja terdekat dan berjalan takut-takut ke arah pak Al.

Ia menundukkan kepala di depan pak Al. "Pak Al," sapanya lirih.

"Benar kau yang membuat kue ini?" suara pak Al terdengar di antara keramaian. Semua menghentikan kegiatan masing-masing dan menoleh untuk melihat pak Al dan Tiana.

"I.. iya pak." lirih Tiana terbata.

"Darimana kau mempelajari resepnya?" tanya pak Al lagi.

Tiana bergeming. Ia mengigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia bilang kalau awalnya ia hanya coba-coba saja kan.

Beruntung pak Al mengabaikan diamnya Tiana. Kepala pelayan itu menepuk pundak Tiana dan berseru senang, "Kue buatanmu luar biasa, nak. Dari rasa sampai teksturnya semua sesuai selera saya. Terima kasih ya. " tawa Pak Al yang menggelegar membuat semua terperangah, tak terkecuali Tiana.

Awalnya, saat Ika memberitahu kalau pak Al memanggilnya, Tiana sempat berpikir akan di marahi karena lancang membuatkan kue untuk senior di antara para senior itu, namun tak di sangka gadis itu malah mendapat pujian.

Tiana mengangguk pelan. "Sama-sama pak." sahut Tiana sembari tersenyum bangga.

Dalam hati ia bersyukur karena semua menyukai kue buatannya. Tiana tidak menyangka bahkan sekelas koki profesional yang keluarga Sanjaya miliki pun memuji kue buatan Tiana. Mereka juga bertanya resep kue buatannya. Tentu saja Tiana dengan senang hati memberitahukan resep kuenya. Itulah yang Tiana bincangkan sebelum Pak Al memanggilnya tadi.


Takdir Cinta KitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang