Part 12

180 11 1
                                    

Sedikit ada perasaan tak enak kini menyelimuti Rummi, setelah melihat Tifa berjalan masuk ke dalam rumah. Panggilan teleponnya dengan Arin, sudah lebih dulu ia matikan. Entahlah, meski hubungannya tak baik dengan Tifa namun bukannya wajar jika ia merasa tak enak telah menelepon wanita lain di belakang istrinya?

"Sudah pulang?" Tanya Rummi pada Tifa, mengalihkan pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh wanita tersebut.

"Arin kenapa? Cerai?" Tanya Tifa tiba-tiba membuat Rummi sedikit tersentak.

Lewat tatapannya pada Tifa, sungguh banyak pertanyaan yang kini bersarang di sana. Biasanya wanita itu selalu sensitif dan meledak-ledak tiap kali mendengar tentang Arin. Namun kali ini tatapannya menyimpan belas kasih saat dirinya menyebutkan nama Arin tadi.

"Kamu tahu?" Hanya itu pertanyaan yang dapat terlontar dari mulut Rummi.

Tifa mengangguk. Lalu kini mengambil posisi duduk di samping Rummi. Tak terlalu dekat, niatnya hanya ingin berbicara sebentar dengan Rummi.

"Suaminya gak tahu diri deh Rumm." Ujarnya membuat kening Rummi sedikit mengernyit.

"Kamu kenal suaminya Arin?"

"Engga sih. Tapi ada kenalanku yang kebetulan kenal." Jawabnya membuat Rummi menganggukkan kepalanya.

"Aku gak tahu berhak atau engga aku cerita ini ke kamu. Tapi kayaknya Arin sendiri gak tahu gimana kelakukan suaminya di belakang dia."

Rummi hanya terdiam. Dengan seksama ia mendengarkan setiap detail yang Tifa ceritakan. Bahkan kini rahangnya sudah mengeras, dan tangannya sudah mengepal sempurna. Bagaimana bisa cinta yang Arin berikan di balas dengan begitu kejam oleh laki-laki yang selalu ia sebut sebagai suami?

***

Niatnya, setelah mengambil beberapa barangnya Tifa akan menuju rumah sakit. Karena jujur saja sejak pagi perutnya sudah merasa sakit beberapa kali. Hingga kini puncaknya usai obrolannya dengan Rummi kontraksi sudah datang beberapa menit sekali membuat ia tak kuasa untuk tak mengaduh.

"Astaghfirullah. Tif, kenapa gak bilang kalau udah sakit perutnya?" Tanya Rummi yang baru saja keluar dari kamar anaknya, dan berniat mengambil keperluan yang akan dia gunakan untuk mandi di dalam kamarnya.

Keduanya memang sudah pisah ranjang, sejak ajakan Tifa untuk bercerai. Karena bagaimanapun keduanya hanya manusia biasa, yang bisa saja khilaf hingga selesainya proses perceraian diantara keduanya.

"Gapapa Rumm. Oke. Aku kira masih besok, tapi ternyata adek udah pengen banget lihat dunia. Mungkin pengen Abanya cepet-cepet cari mami baru buat dia." Jawab Tifa setengah bercanda namun tak sedikit pun mengurangi kepanikan yang Rummi rasakan.

"Duduk dulu. Aku siapin mobil." Titahnya sembari menuntun Tifa untuk duduk di tepi ranjang.

Lihatlah siapa yang tak jatuh cinta dengan Rummi yang begitu memuliakan wanitanya? Namun tidak dengan Tifa yang selalu saja merasa menjadi nomor dua, padahal Rummi telah menjadikannya satu-satunya. Menyesal? Tentu tidak. Tifa merasa keputusannya kali ini adalah yang terbaik tak hanya baginya namun juga Rummi dan anak-anaknya.

"Hospital bag?" Tanya Rummi pada Tifa.

"Di lemari paling bawah Rumm."

Dengan sigap Rummi mengambil barang yang tadi ia tanyakan. Lalu ingin lebih dulu membawanya ke mobil.

"Kamu tunggu di sini dulu. Jangan kemana-mana. Aku ke mobil naruh ini dulu."

Tifa mengangguk. Rasanya sakitnya sudah semakin tak dapat ia tahan. Tandanya sudah semakin dekat hingga sang jabang bayi lahir ke dunia.

          

***

Di luar ruang persalinan, ada seseorang lelaki yang telah menunggu keluarnya Rummi dari dalam sana. Tak aneh bagi Rummi, karena ia memang berhak berada di sana. Rizal sejak tadi telah mondar-mandir menunggu kelahiran anak Tifa yang baru Rummi tahu ternyata juga adalah anak lelaki itu.

Jika kalian tahu, begitu pilu luka yang Rummi terima dari Tifa. Tahun pertamanya bersama Tifa ia harus menelan pil pahit, saat tahu Safa bukanlah putri kandungnya. Hal itu ia tahu, saat kelahiran Safa dan golongan darah Safa bahkan tak sama dengan dirinya maupun Tifa.

Tifa pun tak menampik kenyataannya. Ia memohon pada Rummi agar tetap melanjutkan rumah tangga keduanya, di saat seharusnya dulu Rummi memperjuangkan Arin. Namun Rummi tetaplah Rummi, dia bertanggung jawab penuh atas pilihan yang sudah ia pilih.

Pertemuan kembali Tifa dan Rizal, ayah kandung Safa pun Rummi ketahui. Karena anak gadisnya itu yang menceritakan setiap kali ia di bawa oleh Tifa menemui ayah kandungnya. Yang tak pernah di sangka oleh Rummi adalah saat tahu bahwa Saga terlahir dengan golongan darah yang sama dengan Safa.

Ia tahu berbagai kemungkinan lain yang mungkin menjadi penyebab berbedanya golongan darah anak ketiganya itu. Namun dengan segala yang berkecamuk di dadanya, ia memilih diam-diam melakukan tes DNA atas Saga dan hasilnya sesuai yang ia tebak.

"Ganteng ya Tif. Namanya Sabara Arbani Parulian."

"Maaf Tif, aku menyematkan nama Parulian di belakang nama Saba." Ucap Rummi yang menemani Tifa di dalam ruang perawatan.

"Satu lagi, meski Safa dan Saga bukan anak kandungku. Tolong antar mereka setiap weekend ke rumahku. Biar bagaimanapun mereka tumbuh bersamaku. Dan jangan putuskan itu semua meski pada akhirnya kita memang harus berpisah."

"Seluruh biaya persalinan kamu sudah aku selesaikan, anggap itu bentuk tanggung jawab terakhirku sebagai seorang suami. Saba sudah aku berikan nama, sudah aku adzani dan aku iqamahi. Maaf lancang." Imbuhnya dengan airmata yang sudah menggenang di kelopak matanya.

"Nafkah anak-anak akan aku berikan setiap bulannya. Karena Saka ikut aku, jadi yang aku berikan ke kamu uang bulanan untuk Safa, Saga dan Saba. Tolong jaga mereka dengan baik, aku yakin kamu ibu yang baik. Dan satu lagi Tif, jangan pindahkan sekolah anak-anak."

"Rumm, terima kasih." Ucap Tifa menatap Rummi yang tadi sempat menyeka airmatanya.

"Terima kasih, karena aku selalu merasa dicintai selama hampir 7 tahun bareng sama kamu. Tapi maaf, ternyata aku yang tidak sabar menunggu cinta sepenuhnya itu kamu berikan." Ucap Tifa yang diangguki oleh Rummi.

"Maaf, kalau aku selalu mengkambing hitamkan Arin untuk semua polemik dalam rumah tangga kita."

"Dan maaf, karena pada akhirnya aku juga harus menyakiti anak-anak dengan memisahkan mereka. Tapi aku akan selalu kasih waktu untuk anak-anak biar tetap bisa berkomunikasi dengan Saka. Dan akan tetap membebaskan anak-anak kalau memang mereka mau main ke tempat kamu."

***

Harusnya lega kini yang Rummi rasakan, karena akhirnya ia bisa terlepas dari belenggu rumah tangga yang ia kira tak berujung. Namun ada sakit yang begitu dalam, saat dia sadar ia harus berpisah dengan ketiga anaknya yang lain. Tak dapat lagi bertatap 24 jam satu minggunya. Namun sekali lagi ia harus tegar, anak-anak hanya boleh tahu perpisahan ini yang lebih baik dan tentu yang membuat kedua pihak sama-sama bahagia.

"Kakak jagain Saga dan Saba ya? Oke?" Tanya Rummi pada Safa yang kini sudah dijemput oleh Rizal di rumahnya.

"Kakak gak boleh sama aba aja? Kasihan aba cuma berdua sama Saka. Kalau mami kan ada papi dan adek-adek." Jawab Safa membuat Rummi hampir menitikan airmatanya kembali.

Sejak keputusan Tifa untuk berpisah, memang hal ini yang begitu runyam berada di pikiran Rummi. Ia tak pernah membayangkan hari ini datang, hari dimana ia harus melepas ketiga anaknya yang lain untuk hidup terpisah darinya.

"Aba dan Saka okay kakak. Kan mami punya adek Saba, nanti yang jagain Saga siapa? Kasihan kalau adek Saga minta ini itu nanti mami kerepotan. Kan papi juga kerja. Nanti kakak main berdua sama Saga." Ujarnya pada Safa.

Meski terlihat raut kesedihan yang sama, namun Safa mengangguk. Dapat ia lihat airmata sudah jatuh dari pelupuk mata Safa yang langsung Rummi bersihkan.

"Harus jadi anak yang kuat. Harus selalu inget sama aba ya nak?"

Safa sekali mengangguk. Lalu masuk ke dalam dekapan Rummi. Perpisahan yang penuh dengan airmata, namun tetap Rummi harapkan menjadi sebaik-baik perpisahan untuk kebahagian batin anak-anaknya.

From : Salisa Arin

Hai mas duda
Selamat untuk kelahiran adik ya?
Tetap sabar, segala sesuatunya terjadi untuk sesuatu yang indah di depan sana.
Stay strong mas 🤍

Rummi dan Arin (Saling Menerima Luka)Donde viven las historias. Descúbrelo ahora