Sepuluh

100 12 9
                                    

Sepuluh


[Harya]

Sama seperti kebanyakan orang, gue nggak terlalu suka membicarakan apapun perihal mantan. Istri gue tahu tentang Jade belum lama setelah kami bersepakat jadi lebih dekat, itupun karena nggak sengaja ketemu di Mall.

Waktu itu kalau tidak salah ingat , ia setuju untuk menemani gue mencari hadiah untuk Jio, keponakan gue yang akan berulang tahun. Di salah satu store, saat sibuk memilih kira-kira kado apa yang cocok, tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue pelan. 'Mas?' katanya. Kemudian gue berbalik dan menemukan Jade berdiri di belakang. Tersenyum ramah. Dengan kotak-kotak mainan memenuhi keranjang yang bergantung di lengannya. 'Wah nggak nyangka banget bakal ketemu di sini. Apa kabar Mas?' senyumnya melebar, seketika merengkuh tubuh gue dalam pelukan singkat, sebagaimana kebiasaannya dulu.

'Loh?!' Terus terang gue kaget. Rasanya saat itu sudah lama sekali sejak terakhir kali gue melihatnya. Mungkin hampir setahun lebih sesudah kami putus. Setelahnya kami benar-benar hidup terpisah. Gue dengan jadwal-jadwal dinas itu, dan Jade dengan shoot-nya untuk sebuah apparel domestik dan beberapa iklan. Namun meski begitu, ia nampak masih sama; rambutnya masih sepinggang, curly dan coklat. Senyumnya juga masih sama ramahnya seperti dulu.

'Tadi gue nanya apa kabar. Nggak dijawab nih?' perkataannya membuat gue mau tak mau ikut tersenyum. Sikapnya yang ini, rasa-rasanya membuat gue baru saja bertemu sahabat lama. Bukannya mantan yang pernah bilang begini saat mutusin gue dulu, 'kayaknya di hubungan ini cuma aku doang yang exited deh. Kamunya nggak Mas.' Ya, gue memang separah itu dulu. Gue lega Jade sudah baik-baik saja saat kami bertemu.

'Apa kabar Jade?'

'Jawab gue dulu dong, malah nanya balik.' Kami lalu sama-sama tertawa.

Kami akhirnya saling bertukar kabar sebentar, ngobrol-ngobrol biasa sambil ia bercerita bahwa sore itu sebenarnya ia sedang mencari kado untuk kelulusan Jesslyn, adiknya. Ia juga sempat bertanya setengah bercanda tentang apakah gue masih jadi Bang Toyip—yang nggak pulang pulang karena selalu sibuk dinas ke luar kota. Basa-basi yang begitu begitu saja sebenarnya, sampai akhirnya ia bertanya dengan siapa gue kesana.

Gue langsung celingak-celinguk mencari istri gue (saat itu belum resmi gue nikahi), yang sedang sibuk. Pura-pura sibuk lebih tepatnya, memilih kotak robot-robotan di depan kaca display tidak jauh dari tempat gue dan Jade mengobrol. Ia berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Santai. Sampai gue dekati dan genggam tangannya. 'Kate, bentar deh. Temen aku mau kenalan.'

Barulah ekspresinya berubah dingin sekali, cuek. Tapi masih berusaha terlihat tertarik. 'Oh. Mana orangnya? Ituuu! yakin temen? Kok main peluk-pelukan segala?' bisiknya galak, memastikan hanya gue satu-satunya yang mendengarnya saat itu. Inilah kenapa gue tadi bilang bahwa ia pura-pura sibuk, karena sebenarnya ia melihat bagaimana Jade mendekati hingga memeluk gue duluan. Sepulang dari sana, ia bereaksi persis seperti malam ini. Prengat prengut dan emosi nggak jelas.

Gue diintogasi seolah-olah baru saja menggondol kucing tetangga.

'Kenal dimana?' tanyanya tanpa ampun, setelah gue bilang bahwa perempuan di store sebelumnya adalah mantan terakhir gue. Langsung gue jawab jujur waktu itu bahwa kami berkenalan karena Jade pernah jadi model untuk salah satu produk kantor, project-nya Pascal kalau tidak salah ingat. Jadi sebenarnya kerjasama antara Jade dan bank tempat gue bekerja bukan sesuatu hal yang baru. Dia pernah juga dikontrak untuk iklan selama beberapa tahun. Gue menjelaskan, karena kerjasama itulah kami jadi sering bertemu di banyak event kantor, berkenalan, lalu dilanjutkan dengan janji untuk makan siang bersama. 'Pdkt-an semacam itu, nggak yang gimana gimana.'

'Terus, kenapa putus?' pertanyaan itu masih berlanjut.

'Sesimpel nggak jodoh aja. Ada beberapa hal yang Jade ngerasa mungkin kami nggak cocok.'

'Pacaran berapa lama?'

'Selama pacaran kamu pernah ketemu orang tuanya?'

And on.....and on. Lama-lama pertanyaannya mulai kemana-mana, 'sama dia kamu pernah nggak kepikiran nikah?'

'Kok pas pacaran sama dia, kamu nggak ngenalin dia ke aku? bawa waktu ngumpul lah minimal. Aji aja sering bawa pacarnya.'

Dan masih banyak pertanyaan lainnya, yang semuanya gue jawab dengan sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya sampai ia puas. Waktu itu gue pikir, jika gue menjelaskan dengan baik tanpa ada satupun yang ditutupi, pertanyaan-pertanyaan terkait mantan pacar semacam itu (yang sangat malas buat gue bahas-bahas), tidak akan ada lagi di masa depan. Karena sudah dipastikan, istri gue sudah tahu semuanya. Eh ternyata. Tiga bulan setelah pernikahan ia malah tidak bisa tidur perkara hal semacam itu (lagi).

"Ayo dong, katanya mau jawab." Ia menggeliat dalam pelukan gue, lalu mendongak menagih jawaban.

"Tapi setelah aku jawab, kamu janji ya bakal tidur? ini udah malem banget Sayang."

Dia mengangguk lucu. "Iya. Janji."

"Hmmm....apa tadi pertanyaannya?" gue pura-pura sibuk berpikir ulang tentang pertanyaan sambil memandanginya yang mulai cemberut lagi karena tak sabar.

"Buruan ah! katanya mau aku cepet tidur!"

Gue senyum, kemudian menunduk mencuri satu kecupan di bibirnya sebelum menjawab. Sekalipun gue membenci tema pembicaraan seperti ini (karena nggak ada manfaatnya sama sekali), gue tentu akan tetap menjawab sebanyak apapun yang ia butuhkan demi membuatnya tentram. Sebab gue paham, tak mudah baginya untuk terlepas dari trauma hubungan di masa lalu yang membuatnya selalu overthinking terhadap banyak hal. Apalagi ini tentang mantan, yang oleh Aji pernah dikomporin 'lo tau nggak kenapa dulu Harya deketin Jade? soalnya...katanya agak mirip lo dikit.' Emang kurang ajar.

"Jawabannya nggak, Sayang. Aku nggak pernah bukain segel botol kaca buat dia. Nggak sesering itu bilang I love you, karena aku sibuk. Dia nggak insomia, jadinya nggak butuh teh chamomile. Dan....nggak misahin duri ikan buat dia. Kebetulan, Jade nggak makan ikan. Nggak tahu, kayaknya dia punya alergi deh."

"Kalo udangan ke JFW dan nemenin dia photoshoot?" Gue nggak tahu seberapa penting pertanyaan ini sebenarnya buat dia, tapi ya sudah gue jawab juga.

"Kalo undangan ke Jakarta Fashion Week, hmmm..." gue mikir sebentar, mencoba mengingat-ingat tentang apakah gue pernah menghadirinya lewat undangan Jade saat itu, "kayaknya pernah. Sekali doang sih tapi, di PIM. Undangannya waktu itu nggak yang di front row juga. Untuk nemenin photoshoot, nggak pernah. Aku nggak ngerti yang begitu begitu."

"Oooh."

Gue mengelus-elus rambutnya, berharap perasaannya sedikit membaik. "Hanya karena dia mantan aku, bukan berarti apa yang aku lakuin ke kamu sekarang juga pernah aku lakuin ke dia. Nggak begitu Sayang. Aku sama dia cuma beberapa bulan doang, mana sering aku tinggal dinas juga."

"Berarti waktu sama dia kamu nggak bucin dong?"

"Ya nggaklah. Aku sibuk."

"Tapi dia cantik loh. Besok besok kalian bakal sering ketemu."

"Kamu juga cantik. Paling cantik malah."

"Males ah!"

"Loh serius. Saking cantiknya pengen aku elus terus sebelum tidur kayak gini sampe kita tua."

Ia berdecak, lalu ndusel-ndusel di dada gue seperti bayi. "Jago banget ya rayu rayunya. Dulu aja pas kita masih temanan, judes banget."

***

Love HappensTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang