1 % (Season II)

4.2K 785 64
                                    

Iqbaal keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk di pundaknya, ia masih bertelanjang dada dengan mengenakan celana jeans hitam panjangnya.

Hari ini mereka akan pulang ke rumah baru mereka, Iqbaal telah membeli sebuah rumah untuk keluarga kecilnya bersama (Namakamu), apartemennya telah ia sewakan untuk para laki-laki berstatus lajang.

Apartemen tidak tepat untuk dirinya yang tidak hidup sendiri lagi, apartemen adalah saksi hidupnya selama ia belum menjalin hubungan serius. Jadi, dengan sedikit pembahasan kepada (Namakamu) mengenai pemindahan tempat tinggal, (Namakamu) pun meresponnya dengan baik pula membuat Iqbaal segera membeli sebuah rumah untuk mereka.

Iqbaal keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, dan memakai celana jeans hitamnya. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk di bahunya, Iqbaal sembari mengeringkan rambut dengan handuk, ia mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas nakas, ingin melihat kabar penting dengan seriusnya.

Pintu kamarnya terbuka, (Namakamu) masuk dengan sedikit berlari kecil menghampiri Iqbaal. Iqbaal meletakkan ponselnya di atas nakas saat melihat istrinya menghampiri dirinya.

"Baal, aku punya gosip," ucap (Namakamu) dengan girangnya. Iqbaal mengernyitkan dahinya,"kamu mau ngajak aku menggosip?" tanya Iqbaal memastikan.

(Namakamu) mengambil posisi di tepi ranjang sembari menatap Iqbaal yang berdiri menghadapnya, "biar gosipnya halal, kalau misalnya aku gosip sama yang lain, jadi haram dong."

Iqbaal hanya tersenyum kecil, lalu berjalan menuju lemari bajunya, (Namakamu) mengikuti Iqbaal di belakangnya. Iqbaal mengambil salah satu bajunya kemudian menutup pintu lemari itu. Iqbaal membalikkan badannya dan melihat istrinya tersenyum kepadanya.

Iqbaal mengecup puncak rambut (Namakamu) singkat, lalu melepaskan handuk di pundaknya dan mulai memasang bajunya.

"Memang mau gosipin apa?" tanya Iqbaal yang telah selesai memasang bajunya, ia kini menatap istrinya dengan fokusnya.

"Kata Papi, Mami itu marah sama Papi makanya dia pergi ke Eropa sendiri untuk syarat damai mereka. Baru tahu, kan?" cerita (Namakamu) dengan bangganya.

Iqbaal melempar handuknya sembarangan kemudian dengan cepat ia membawa (Namakamu) ke dalam gendongannya, ia membawanya ke atas ranjangnya.

"IQBAAL!" tegur (Namakamu) terkejut karena Iqbaal menggendongnya secara tiba-tiba.

Iqbaal meletakkan (Namakamu) di ranjang dengan lembut, Iqbaal tersenyum melihat istrinya mengomel tak menentu. "Tadi pagi langsung pergi aja tanpa permisi, terus sekarang mau gosipin mertuanya sendiri. Mau nambahi dosa suami?" ucap Iqbaal dengan suara beratnya, Iqbaal menatap (Namakamu) yang ada di bawahnya.

(Namakamu) mencoba mendorong Iqbaal yang ada di atasnya, tetapi Iqbaal menahannya. "Kenapa didorong?" tanya Iqbaal sembari menatap (Namakamu).

"Berat! Kamu, ih!" jawab (Namakamu) dengan gerutuannya. Iqbaal dengan gemasnya mengecup bibir istrinya, lalu kedua pipi (Namakamu) dengan lembut kemudian kembali mengecup bibir istrinya.

"Besok-besok, banguni aku. Aku nggak mau kamu kerja sendirian, kamu bukan pembantu. Oke?" bisik Iqbaal tepat di hadapan (Namakamu).

(Namakamu) memainkan kancing baju Iqbaal dengan dahinya yang ia kernyitkan, "tugas seorang istri bukannya memang melayani suaminya, ya? Dari masak, cuci, bersihin rumah, ngurus suami. Aku cuma ikutin Mama," balas (Namakamu) yang memainkan kancing baju Iqbaal.

Iqbaal menenggelamkan wajahnya di sekitar pundak (Namakamu), "kamu cukup layani di sini, di ranjang," bisik Iqbaal dengan suaranya yang menggoda.

(Namakamu) memukul punggung Iqbaal dengan pelan, Iqbaal tertawa dengan suaranya yang terdengar berat. "Gak usah macam-macam di sini!" peringat (Namakamu) yang mulai merasakan Iqbaal mengecup lehernya.

Kamu akan menyukai ini

          

"Papi di kamar, kan?" tanya Iqbaal yang kini mengecup bahu istrinya.

(Namakamu) mencoba menghentikan Iqbaal dengan cara menjauh kepala Iqbaal dari sekitar bahunya. "Nggak! Dia lagi di ruang tamu." (Namakamu) mencoba kabur, tetapi Iqbaal terlebih dahulu menangkapnya, (Namakamu) tertawa kecil saat Iqbaal menggelitik lembut.

"Ampun...ampun.. jangan digelitik.. aku nggak tahan," pekik (Namakamu) dengan tawanya. Iqbaal pun menghentikannya,"makanya jangan bohong-bohong. Papi di mana?" tanya Iqbaal lagi sembari menatap (Namakamu) di bawahnya.

"Di teras.. iya.. beneran! Di teras rumah," jawab (Namakamu) dengan tawa gelinya.

Iqbaal kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher (Namakamu), ia menciuminya kembali. (Namakamu) membiarkan Iqbaal mengecupnya, (Namakamu) bermain di punggung Iqbaal, ia mengetuk-ngetuk punggung Iqbaal dengan jari-jari mungilnya.

"Kayanya aku betah di sini seharian," bisik Iqbaal dengan suaranya yang mulai serak. (Namakamu) merasakan tangan Iqbaal membelai lengannya, Iqbaal mengangkat wajahnya menatap (Namakamu).

(Namakamu) melihat Iqbaal yang kini mengusap pipinya, lalu mulai mencium bibirnya. (Namakamu) mengikuti alur permainan Iqbaal, mereka menikmati setiap ciuman-ciuman yang mereka lakukan.

Iqbaal melepaskan ciumannya dengan napasnya yang memburu, ia menatap istrinya yang terlihat kedua pipinya memerah. Iqbaal mengecup pipi merah itu, lalu mengecup lama dahi istrinya kemudian mulai mencium kembali bibir istrinya.

(Namakamu) memiringkan kepalanya sehingga membuat Iqbaal menghentikan ciumannya. "Kenapa, sayang?" tanya Iqbaal dengan suaranya yang serak.

"Takut kedengaran Papi," balas (Namakamu) yang napasnya sedikit memburu. Iqbaal menelan salivanya untuk menahan gejolak hormon yang ingin dilepaskan. "Papi pasti ngerti, sayang," bisik Iqbaal yang mencoba mencium (Namakamu).

Tetapi (Namakamu) menghindar kembali, Iqbaal kembali menahan gejolaknya itu. "Kamu mau aku pesankan hotel?"

(Namakamu) menggelengkan kepalanya dengan pelan, "aku ngantuk," ucap (Namakamu) dengan pelan.

Iqbaal pun hanya dapat menganggukkan kepalanya, dan mulai membawa (Namakamu) ke dalam pelukannya. Ia tidak mungkin memaksa istrinya untuk memenuhi kebutuhan batinnya, "tidur, biar aku temani," bisik Iqbaal dengan suara seraknya.

(Namakamu) pun memejamkan matanya, dan mulai tertidur di pelukan Iqbaal. Iqbaal mengusap rambut istrinya untuk memberi kenyamanan.

**

Kayla akhirnya sampai juga di rumahnya, ia terlihat bahagia setelah berlibur di Eropa. Ia membawa banyak sekali oleh-oleh serta baju-baju, ia memasuki kamarnya dengan wajahnya yang berseri bahagia.

Arsen yang ikut menjemput istrinya dari bandara pun masuk ke dalam kamar mereka, Arsen hanya melihat istrinya yang terlihat bahagia. Ia meletakkan kunci mobilnyaa di atas nakas kemudian ia membuka kancing kemejanya sembari mengambil posisi duduk di pinggiran ranjang.

"Iqbaal sama (Namakamu) di mana, Mas?" tanya Kayla dengan wajah bahagianya mengeluarkan oleh-oleh yang ia kemas dengan rapi.

"Kamar," jawab Arsen dengan singkat.

Kayla yang tengah mengeluarkan oleh-olehnya seketika menatap Arsen yang juga menatapnya namun dengan wajahnya yang tidak senang.

"Kok gitu ekpresinya? Ada masalah?" tanya Kayla yang mulai mengeluarkan oleh-olehnya.

"Kamu di sana 3 hari,tapi kamu sama sekali nggak ada hubungi aku. Terus, setelah sampai di sini, kamu juga nggak ada tanyain kabar aku. Siapa yang nggak kesal coba? Suaminya sendiri di sini, rindu sama istrinya, tapi istrinya malah merasa nggak punya suami. Kamu masih marah sama Mas? Mas udah rela nggak ikut ke Eropa biar kamu bahagia, tapi kamu malah lupain mas."Arsen benar-benar mengeluarkan kata-katanya yang mewakili perasaan di hatinya.

Kayla yang mendengar omelan Arsen membuatnya menghentikan aktivitasnya, Arsen dan segala sifat kemanjaannya tidak akan pernah berubah. Kayla pun mulai menghampiri Arsen, ia mengambil posisi di pangkuan Arsen, Arsen melingkarkan tangannya di pinggang Kayla.

"Udah dong, Mas. Iqbaal udah nikah, Laras bentar lagi tamat kuliah, dan Miska bentar lagi mau kuliah. Dan kamu masih ngambek-ngambek gini? Nggak malu sama umur?"

Arsen menggelengkan kepalanya, ia masih terlihat belum tersenyum. Kayla merapikan rambut Arsen yang mulai panjang, "mas senyum dong, kalau nggak, aku tidur pisah sama mas, mau?"

Arsen pun tersenyum, Kayla tertawa. Ia mengecup pipi suaminya, Arsen seketika tersenyum dengan bahagianya. "lagi," ucap Arsen menunjuk pipinya.

Kayla mengecupnya kembali, Arsen dengan gemasnya memeluk istrinya. "Selamat datang kembali istriku," bisik Arsen dengan lembut.

**

Bersambung

P.S : lanjut? Ya udah.

Be a Little FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang