"Selamat malam!"
"Pagi, pagi, pagi! Paskibraka, merah putih, jaya!" sahut semua Paskibraka Kecamatan tak kalah lantang dari suara pelatih. Sudah menjadi kebiasaan, kapan pun waktu pengucapan salam, jawabannya pasti tetap 'pagi'. Hal itu untuk menandakan bahwa energi mereka masih sama seperti semangat di kala pagi hari, penuh dengan antusiasme.
Kantor kecamatan sudah dipenuhi oleh orang tua tiap anggota Pascam. Ada juga perwakilan guru dari sekolah yang mengirimkan kontingen. Tak lupa Bapak Camat beserta jajarannya turut hadir untuk memeriahkan upacara pengukuhan anggota paskibraka malam hari ini.
"Adik-adik, silakan bersiap. Upacara akan dimulai sepuluh menit lagi." Setelah bertutur demikian, pelatih mundur menjauhi standing mic dan kembali ke tempat duduknya.
Adam, yang ditunjuk menjadi pemimpin upacara pun segera memberi instruksi kepada seluruh temannya untuk berbaris di halaman kantor. Dari situ, nantinya mereka akan mengarah ke dalam aula.
"Wajahmu tuh jelek kalau lagi cemas. Rileks dong, Vit."
Vita menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Digamitnya lengan Ratya seolah takut jika temannya itu jauh darinya. Kemudian ditengoknya Adit yang baru saja menyuruh untuk menenangkan diri. "Aku masih belum bisa tenang, takutnya nanti pelatih bakal hukum Ratya karena upacara molor kan gara-gara nungguin dia."
Adit membenarkan dugaan Vita dalam hati, tapi melihat Ratya yang diam sambil menundukkan kepala membuatnya kasihan juga. "Kamu jangan nakutin gitu dong Vit, liat tuh Ratya jadi lesu."
Vita meraih dagu Ratya agar gadis itu mengangkat kepalanya dengan tegar. "Eh, maaf ya, Ra. Yang penting kan kamu sekarang udah di sini, jangan dengerin omongan asalku barusan."
Ratya tersenyum tipis lantas mengangguk.
"Tadi Vita panik banget, alay sih kalau menurutku," seloroh Adit bermaksud mengolok Vita dan mencairkan suasana. "Masa ngira Arga nyulik kamu biar ikut lomba naik gunung. Parno banget kan, Ra?"
"Ya nggak mungkin lah, Vit. Semua anak fotografi sepakat kalau aku mundur dari lomba mendaki kok."
Vita terlihat lega, kini langkahnya berangsur santai. "Kalau gitu kenapa kamu nyaris telat?"
Alih-alih menjawab, Ratya justru mengalihkan pandangannya ke area dimana para orang tua duduk. Dua hari sebelum pengukuhan papanya berujar beliaulah yang akan datang untuk mendampingi. Maka dengan begitu pada hari pelaksanaan Upacara Kemerdekaan mamanya yang gantian hadir.
Kesepakatan itu dirasa akan berjalan sesuai dengan rencana hingga setengah jam menjelang upacara pengukuhan terjadilah sesuatu. Papa Ratya harus mengantar ayah Bu Sindi ke rumah sakit karena kakikanya mengalami luka parah akibat kejatuhan pompa air. Sedang mamanya sudah terlanjur ada janji dengan siswi SMK jurusan Tata Boga untuk sharing informasi tentang usaha katering beliau.
Ratya sempat ingin meminta Bu Salma untuk menemaninya, tapi urung karena mamanya melarang. Takut merepotkan. Jadilah Ratya menunggu sampai sesi wawancara mama dengan tamunya selesai. Tapi saat hendak berangkat ke Kantor Kecamatan, mereka berdua dikagetkan dengan bunyi rem mobil yang berdecit tepat saat keduanya baru keluar dari rumah.
Papa Ratya datang, lantas menyuruh putrinya untuk segera naik. Saat melihat mama Ratya juga sudah tampil rapi, maka untuk kebahagiaan Ratya di malam pengesahan ini beliau menyingkirkan egonya. Dan di sinilah mereka sekarang, duduk berdampingan di antara para orang tua Pascam yang lain. Membuat Ratya terharu, melihat kedua orang tuanya bersama walau hanya untuk beberapa jam saja bahagianya sudah tidak terkira.
"Eh, ditanya malah bengong. Daripada ngelamun, lihat aku nih udah keren apa belum?"
Ratya dan Vita kompak mendorong Adit yang sedang berpose sok ganteng di depan mereka. Ingin protes, tapi Adam lebih dulu datang dan membawanya ke depan agar cepat berbaris.
〰〰
Pengukuhan yang dilaksanakan pada malam sebelum tanggal 17 Agustus ini bermakna bahwa anggota paskibraka telah selesai mendapat pelatihan dan siap menjalankan tugas. Mereka dipastikan berjiwa ksatria, tentu rela berkorban untuk Ibu Pertiwi.
Setelah semua pasukan berbaris di aula kecamatan dan pembina upacara juga sudah berdiri di mimbar, lampu yang menerangi sekitar pun dimatikan. Kini penerangan hanya berasal dari dua obor berukuran cukup besar yang terletak di tengah ruangan.
Tepat setelah azan isya berkumandang, lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara dan tamu undangan. Kemudian dilanjutkan pembacaan Ikrar Pemuda Indonesia oleh pembina dan diulangi para anggota paskibraka.
Setelah itu adalah penciuman bendera diiringi dengan lagu Bagimu Negeri yang dinyanyikan semua peserta upacara secara berulang-ulang sampai prosesi selesai. Mencium bendera merupakan kiasan untuk senantiasa setia dan berbakti pada negara Indonesia.
〰〰
Di Pendopo Pemkab Malang, yang mana juga terlaksana upacara pengukuhan, tidak sedikit anggota yang menumpahkan air mata haru.
Mereka diharapkan dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan dan kehormatan tersebut dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Hal itu dikarenakan tidak semua bisa mendapatkan kesempatan untuk mengemban misi mulia sebagai pasukan pengibar bendera.
Juga tentang ikrar yang telah dibaca tadi hendaknya dihayati, dipedomani, dan dijalankan dalam pengabdian terhadap bangsa dan negara di masa kini maupun yang akan datang.
Hingga setelah menjadi purna nanti semoga menjadi anggota yang berkarakter, bermartabat, dan berprestasi serta bermanfaat bagi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Setelah upacara dibubarkan, para orang tua langsung menyerbu putra-putrinya untuk memberi selamat sekaligus melepas rindu.
"Kamu sudah berhasil melampaui proses seleksi, rekruitmen, dan pelatihan yang panjang."
Ucapan itu hanya Ravi tanggapi dengan anggukan, baru kali ini ia merasa kehilangan kata-kata. Tak mampu lagi menahan sesaknya air mata, pemuda itu pun segera menjatuhkan kepalanya di pundak sang ibu. Dengan terbata ia berkata, "Besok aku ditugaskan jadi pengerek bendera, doakan lancar."
Ibu Ravi segera mengelus punggung anaknya. Sedangkan bapaknya mencengkeram salah satu bahu Ravi, seolah menyalurkan semangat.
"Sudah, jangan nangis. Gantengnya nanti hilang." Ibu menegakkan tubuh Ravi lalu tersenyum bangga.
Ravi balas tersenyum. "Ibu sama bapak sehat? Skripsi Bang Rama lancar, kan?"
"Kamu nggak usah khawatir," jawab bapak Ravi. Sembari menggiring istri dan putranya menepi karena area semakin ramai, beliau kembali bersuara, "Kamu betah selama tinggal di asrama?"
Ravi menunduk sambil tersenyum malu-malu. "Awalnya sih ngggak kerasan, tapi lama-lama kekompakan sesama anggota makin kuat jadi aku mulai nyaman."
"Syukur kalau gitu," ujar bapak Ravi.
"Ponselmu masih disimpan sama panitia?"
Ravi langsung menoleh cepat pada ibunya yang kini sedang menggamit lengannya. "Nah, itu dia Bu. Sebelum semua kegiatan selesai ponsel masih dijauhkan dari anggota. Jadi sekarang aku mau pinjam punya Ibu sebentar, boleh? Mau nyapa teman ekskul."
Bapak Ravi mengernyit. Tapi melihat wajah penuh harap Ravi di hadapan ibunya, beliau tidak tahan untuk tidak terkekeh. Dasar anak muda, batinnya.