Chrisssss i wuvvvv yuuuu 😚😙😗😍😍
Pengen bgt dah dilirik begini ma lakik 😆
#EaaaTanteLagiDatangMasaKawinnyaa 😂😂Farah POV
Jantung ini kembali berdetak normal. Padahal beberapa jam yang lalu berdetak-detak tidak karuan.
Aku menopang daguku dengan sebelah tangan. Pikiranku melayang mengingat kejadian di parkiran basement perkantoran bang Fahmi.
Apa ya?
Hati ini kok jadi yakin kalau memang Chris berubah, setelah melihat perempuan berdada kembung itu di tolak mentah-mentah oleh Chris, walaupun dia menyerang manusia penjual kondom itu sedemikian rupa.
Pengalamanku soal pria memang awam, aku tidak mengerti dunia pria walaupun hidup lama dengan ayah dan bang Fahmi yang berjenis kelamin lelaki.
Reynold tidak masuk hitunganku karena dia baru menjadi pria tulen jalan 4 bulan belakangan ini. Jadi aku pikir, semesum-mesumnya lelaki, sekuat-kuatnya lelaki, kalau di goda seperti itu pasti akan kalah oleh nafsu.Ya ampun, berkali-kali aku melihat perempuan itu menangkup 'itu' nya Chris.
Ketika melihat dengan mata kepala sendiri aku baru yakin, Chris berubah seperti yang dia bilang, padahal kemarin bang Fahmi sampai mati-matian membela Chris dan meyakinkanku kalau dia sudah berubah.
Yah, siapa yang tahu kejadian di dalam ruangan Chris ketika berdua dengan perempuan itu? Memangnya ada CCTV yang bisa melihat kejadian di tiap-tiap ruangan?
Siapapun pasti akan menyangka yang bukan-bukan melihat perempuan berpakaian kekurangan bahan keluar dari suatu ruangan terus pakai acara salam perpisahan menempelkan tangannya di 'itu' nya pria.
Chris.
Keningku mengernyit bingung dan punggungku menegak.
Kenapa perempuan itu bisa mengatakan kalau Chris impotent? Masa dia impotent? Sejak kapan? Baru aja? Waktu aku pegang di apartment kok 'itu' nya keras banget?
Aku menggaruk kepala.
Impotent itu artinya gak bisa bangun atau gak nafsu lihat perempuan atau...?Ahh kalau gak bisa bangun tapi kok bisa keras gitu sampai aku pikir Chris menyimpan handphone lain di balik celananya.
Aku mengusap wajahku pelan. Lalu mentoyor-toyorkan keningku berkali-kali.
Ampun dehhh, otakku ini sejak mengenal Chris jadi kotor begini.
Apalagi tanganku ini, aku menunduk menatapi telapak tangan kananku.
Walaupun sudah aku rendam dengan cairan alkohol hampir setengah jam lebih, tapi rasanya itu masih adaaaa.
Rasa keras kenyal yang...
Efek merendam dengan cairan alkohol hanya menghilangkan kuman-kuman dan virus-virus kemesuman yang mungkin saja menempel di tanganku, tetapi tidak bisa menghilangkan memori dari apa yang sudah aku pegang.
Apa yang dipikirkan manusia mesum penjual kondom itu ya setelah aku memegang sosisnya? Mungkin Chris berpikir aku sama saja seperti perempuan-perempuan lain yang sering bersamanya.
Tapi yang kulihat ekspresi wajahnya malah terlihat kaget alih-alih menikmati pegangan tanganku di atas sosisnya.
Aduhhh... Aku menutup wajahku yang tiba-tiba terasa panas lalu menyenderkan punggungku ke belakang dan merebahkan kepalaku di bantal sofa.
Perlahan mataku terpejam tetapi kembali terbuka ketika mendengar suara mesin mobil yang berhenti di halaman rumah, bang Fahmi baru saja datang.
Suara langkahnya terdengar memasuki rumah.
"Lho? Kok tumben elu pulang duluan dek"
Aku menoleh ke arahnya yang sudah duduk di sofa tempatku berada.
"Abis dari kantor abang, adek langsung pulang, jadwal Reynold hari ini kosong sampe besok" Jawabku, tubuhku bergerak miring ke samping.
Bang Fahmi merangsek turun dan mengambil duduk di bawah karpet.
"Dek" Panggilnya ketika aku mau memejamkan mataku kembali.
"Hmm.." Sahutku.
"Tadi Chris bilang kal..."
"Abang itu teman curhatnya Chris ya? Itu orang kalo kenapa-napa pasti ceritanya ke abang" Potongku lalu bergerak duduk.
Bang Fahmi terkekeh.
"Jadi gimana? Kamu percaya kan kalo Chris itu gak seperti yang kamu pikirkan?" Bang Fahmi bertanya langsung ke intinya.
Aku sesaat menarik nafas.
"Bang" Panggilku.
"Hmm.." Giliran bang Fahmi menyahutiku seperti yang barusan aku lakukan.
"Adek gak abis pikir deh bang, abang tuh sampe segitunya..." Aku menggantung kalimatku, mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakan dan mewakilkan isi pikiran dan hatiku selama ini.
"Apa?" Tanya bang Fahmi memintaku untuk melanjutkan perkataanku.
Aku menggaruk kepalaku.
"Itu bang, abang tuh keliatannya kaya nyodorin Chris ke adek secara terang-terangan, padahal abang tau tipe pria yang adek sukai itu kaya gimana" Lanjutku kemudian.
Punggung bang Fahmi yang tadinya menyender di sofa bergerak bergeser menghadapku.
"Abang kasih tau ya dek, tipe pria yang elu sukai itu gak ngejamin kalo nantinya elu bakalan bahagia"
"Ganteng, penampilan rapi, humoris itu semua bukan jaminan" Lanjutnya lagi.
"Ck, ya semua orang juga tau bang, kalo yang bisa jadi jaminan itu BPKB sama sertifikat tanah" Perkataanku membuat bang Fahmi kembali terkekeh.
"Abang ngomong serius ini dek, yang abang liat, Chris sungguh-sungguh mau berubah dek, dan dia sepertinya tertarik sama elu, selama ini gak pernah abang liat dia sampe uring-uringan karena masalah perempuan"
Alisku bertaut.
"Masaaa??" Tanyaku dengan nada suara tidak percaya.
"Ck, gak percaya, tokok kepala abang kalo abang bohong dek" Wajahnya terlihat sedikit kesal.
*pukul/jitak.
Ya jelas aja aku tidak percaya, memang sih, aku dan Chris belum lama bertemu, tetapi selama perkenalan kami, apa yang aku lihat selama ini sepak terjang manusia penjual kondom itu jam terbangnya dengan para perempuan sudah tinggi.
Intinya aku tidak percaya kalau Chris sampai uring-uringan karena masalah perempuan. Apalagi perempuannya itu aku.
Eh, aku?
Aku menatap bang Fahmi yang sibuk membuka tasnya.
"Chris tertarik sama adek, bang?" Tanyaku ragu.
"Iyalah" Jawab bang Fahmi singkat tapi tanpa ragu.
"Bagi dia, elu itu perempuan yang bikin dia berubah karena...."
"Karena adek muncul di mimpi-mimpinya?" Potongku cepat.
Gerakan tangan bang Fahmi yang mau membuka tempat pulpen gambarnya terhenti, tubuhnya kembali memutar menghadapku.
"Chris cerita?" Tanyanya dengan raut wajah kaget.
Aku mengangguk.
"Kemarin Chris ada bilang ke adek kalo dia mimpi mati tiga kali" Jawabku.
"Terus? Dia bilang apalagi?" Tanya bang Fahmi serius.
Aku menggaruk kepalaku.
"Bilang apaan? Dia cuma bilang mimpi mati karena kehabisan nafas tersedak kondom yang nyangkut di kerongkongannya, udah gitu doang, adek keburu pergi karena kaget" Kataku sambil memeluk bantal sofa.
"Kaget? Kenapa?" Kali ini bang Fahmi terlihat sangat penasaran.
Aku kembali menggaruki kepalaku.
"Kutuan kau dek? Dari tadi garukin kepala mulu, besok-besok keramasnya pake obat nyamuk atau alkohol, jangan cuma tangan aja yang kau rendam"
"Hehehe" Aku terkekeh.
"Kenapa kau kaget?" Ulang bang Fahmi lagi.
"Abang janji ya jangan cerita-cerita lagi ke Chris" Pintaku sebelum memutuskan bercerita lebih lanjut.
"Janjilah, janji orang Medan bisa di pegang dek, ya kecuali kalo kepepet" Suara bang Fahmi terdengar memelan mengatakan kata-kata di kalimat terakhir.
"Ahh gak jadi lah adek cerita kalo gitu" Kataku, pura-pura malas untuk melanjutkan bercerita.
"Ck, kau ini, bikin orang penasaran aja, janji, janji, abang janji" Katanya sambil memperlihatkan dua jarinya membentuk huruf "V".
"Awas kalo abang cerita ya" Suaraku terdengar sedikit mengancam.
"Lama kali pun mau cerita kagetnya kenapa" Bang Fahmi sangat terlihat tidak sabar.
Aku terkekeh.
"Gini bang, kenapa adek kaget dengar dia mimpi mati kesedak kondom..." Aku menarik nafas sebelum melanjutkan perkataanku.
"Adek tuh pernah berdoa biar Chris dapat mimpi mati keselek kondom biar dia dapat pencerahan, keselek sama kesedak hampir sama kan?" Lanjutku kemudian.
Bang Fahmi terdiam mendengar perkataanku.
Sesaat kemudian wajahnya meringis.
"Ampuh kali doa kau dek" Katanya pelan.
"Pantas aja Chris langsung berubah, jangan bilang kau juga berdoa biar burungnya Chris kesangkut resleting pas mau make out" Lanjutnya lagi.
Ha?
"Apa bang?" Tanyaku bingung dan mencoba kembali mengulang perkataan bang Fahmi barusan.
Burungnya kesangkut resleting?
"Chris mimpi burungnya kesangkut resleting?" Tanyaku lagi.
Kulihat bang Fahmi malah memasukkan peralatan gambar ke dalam tas kerjanya bukan menjawab pertanyaanku.
"Abang mau mandi dulu" Katanya cepat lalu berdiri meninggalkanku yang bengong.
Mau ketawa takut dosa, ini seriusan nih? Kok mimpi-mimpinya Chris buat dapat pencerahan ngilu-ngilu gimana gitu yaa.
Tbc
Buat yg nungguin updetan, walopun Chris gak muncul di chap indang hehehe
Happy weekend yesss
Nb: mo ngasih tau klo mulmed chap berikutnya ga aman buat mata yakkk 😆😂😂Oh iya mau ngasih tau, kemungkinan aku nerbitin 1 set, 3 buku, ceritanya bang bima (so text me maybe) sama ceritanya si kembar caem Evan dan Ivan. Yg minat monggooo dm aku 😆😆
(Jujur blom pernah nerbitin buku jadi berasa lucuk nawarinnya wkwkwwk)