Ingatlah ini, apapun alasannya jangan pernah buka lembaran baru untuknya. Karna lembaran lama pun masih kosong dan sudah ia tinggalkan
~~Adni Salsabil Azizi
_______________
∆~***0***~∆Ustadzah Hanum adalah seorang bercadar yang berbadan kecil layaknya para santri. Cara bicaranya pun tidak membosankan.
"Makan Bil.." katanya lagi.
Aku menghampirinya, kemudian memintanya untuk duduk bersamaku. Ustadzah hanum pun duduk di sebelahku.
Dia pun kembali menyodorkan bungkusan hitam yang sejak tadi dipegangnya, yang berkemungkinan besar isinya adalah makanan. Aku mengambilnya, kemudian menaruhnya di atas nakas terdekat. Si ustadzah nampak bingung.
"Nanti aja, sekarang aku mau nanya. Boleh kan?!" kataku menghilangkan rasa bingungnya.
"Boleh, tanya apa?"
Aku berfikir kembali. Akankah ini saat yang tepat? Apa nantinya dia tidak akan menaruh curiga dengan pertanyaanku? Mungkin saja tepat, mengingat segala penjuru asrama sepi. Teramat sepi. Sampai-sampai pembicaraanku dengan ustadzah Hanum menggema di lorong-lorong.
"Gini ustadzah. Aku mau nanya, tapi ustadzah jangan bilang siapa-siapa. Dan juga, jangan mikir yang aneh-aneh ya.." aku mewanti-wanti si ustadzah untuk tidak ember, pasalnya ini hal besar yang mungkin akan menjadi berita besar pula jika sampai terbeberkan.
"Antum bilang kayak gitu jadinya ana mikir yang aneh-aneh ni. Cepet tanya, biar ana ngga mikir aneh-aneh.." haha.. Benar juga yang dibilangnya. Aku tertawa sendiri dalam hati.
"Azmi itu udah berapa lama disini? Kenapa bisa dia jadi santri kesayangan kyai? Asalnya dari mana? Apa latar belakang yang mendorong dia untuk ke pesantren ini? Kayak gimana caranya biar dia m..."
"Sssttt..." ustadzah Hanum mengarahkan telunjuknya ke sehelai cadar yang menutupi separuh wajahnya.
"Satu-satu nanyanya.." pintanya pula..
Aku menghela napas. Itu artinya, aku harus mengulang lagi pertanyaan bodoh namun sangat membuatku penasaran itu.
"Pertama.. Si Azmi udah berapa lama disini?" ulangku dengan nada yang dibuat lebih pelan dan sabar.
"Hhmm.. Jawaban dari pertanyaan antum yang pertama adalah, sekitar satu setengah tahun." berarti masih baru dong, kalo iya.. Apa sih, keistimewaan Azmi sampe dijadiin santri teladan kesayangan kiayai?
"Kedua. Apa yang bikin Azmi jadi santri kesayangan kiayi?"
"Dia teladan. Gigih dalam segala kemauannya. Dan yang terpenting, dia mau berubah." berubah? Satu kata itu kini menjadi kunci utamaku untuk membuka gerbang kebenaran yang selama ini masih menjadi teka-teki silang.
"Ketiga. Asalnya dari mana?"
"Ngga tau, sampai sekarang tempat tinggal asal, nama asli, orang tua dan keluarganya, masih menjadi misteri." jadi dia siapa dong? Manusia bukan sih? Apa semua orang disini pada ngga tau siapa dia sebenarnya? Apa kyai juga ngga tau? Masa sih ngga tau?
"Keempat. Apa latar belakang yang mendorong membawanya ke pesantren ini?"
"Ngga tau. Beberapa bulan setelah dia datang, dia masih belum mau bicara. Pertama kali ana dengar suaranya, yaitu waktu dia sudah sehat dan mau belajar bersama di kelas musik bareng sama ana." ustadzah menekan kata sehat, yang itu artinya.. Si Azmi sempat sakit, sakit apa? Dan kenapa si Azmi ngga mau bicara berbulan-bulan?
"Kelima. Bukan pertanyaan. Tapi aku minta semua penjelasan yang ustadzah tau tentang Azmi." aku akhirnya jengah dengan segala teka-tekinya. Dan meminta ustadzah untuk menjelaskan segalanya. Dan aku berharap, ada sesuatu yang kudapat, yang nantinya bisa menjawab sebuah tanda tanya terbesar yang kupunya saat ini
"Yang ana tau. Dia suaranya bagus. Dia jadi banyak fans setelah ana minta untuk menjadi vokalis grup hadroh, menggantikan vokalis yang sebelumnya yang sekarang sudah menjadi mahasiswa di UI. Azmi itu, misterius" nah itu bener. Aku memotong ucapan ustadzah Hanum dalam hati.
"Dia itu, orangnya tertutup. Cuma mau terbuka sama kyai aja, orang lain ngga ada." demikian penjelasan singkat ustadzah Hanum tentang seorang Azmi.
"Dia punya sahabat? Atau teman dekat gitu?" ini dia yang penting. Siapa tau aja, teman dekatnya Azmi tau apa yang ngga diketahui orang lain tentangnya.
"Temennya banyak. Cuma ngga ada sih kayaknya yang dekat sama dia, atau sahabatan gitu." ini dia yang aku ngga suka.
"Eehh.. Tunggu, tunggu ustadzah.. Tadi, ustadzah bilang. Pertama kali ustadzah dengar suara Azmi waktu udah sehat dan belajar sama ustadzah. Emang, Azmi sakit apa?" pertanyaan ini tak kalah penting, dan semoga.. Jawabannya juga tak menyebalkan sepeti pertanyaan sebelum ini.
"Huuuffhh.." ustadzah Hanum membuang napas beratnya. Nampaknya ada yang tak beres.
"Gini Sabil..." si ustadzah nampak kegerahan. Maka itu, dia pun membuka cadarnya, dan lihatlah betapa cantiknya wanita ini, pipi yang merona dan sedikit tembam, bibir tipis dan menampilkan kesan imut-imut. Siapa pun laki-laki yang melihatnya pasti jatuh hati pada ustadzah Hanum.
Cadar itu diletakkannya di atas nakas tempat aku meletakkan bungkusan hitam yang berisi makanan dari kyai.
Astaga... Iya, aku belum makan.. Hmm, mungkin saja setelah makan aku bisa berfikir lebih jernih lagi.
"Ustadzah, aku nyambil makan ya.. Laper soalnya" kataku sambil mengambil bungkusan itu dan menyuguhkan cengiran kuda teraneh yang kupunya.
"Iya. Ngga papa, biar relax sekalian.." itu jawabnya, yang memberikanku lampu hijau untuk melanjutkan aksiku, yaitu makan.
"Ustadzah mau bilang apa? Bilang aja sekarang. Nanti keburu orang pada pulang kelas loh, ntar ngga jadi cerita..." kataku dengan mulut penuh berisi makanan.
"Baik-baik makannya ya.. Jangan sampai kesedak.." dipikirnya aku anak kecil apa?
"Maap nih sebelumnya.. Karna tadi, sebenarnya.. Penjelasan tentang Azmi yang ana bilang, belum semuanya. Dan juga ada pertanyaan antum yang ana jawab ngga tau, padahal sebenarnya ana tau jawabannya." aku hanya mengangguk-angguk.
"Sekarang, ana cerita aja ya semuanya.." lagi, aku mengangguk-angguk, kali ini lengkap dengan mulut yang terisi penuh-penuh.
"Jadi, ceritanya itu.. Azmi adalah pengedar yang jadi buronan polisi..."