"Cek..cek..Hani, lo bisa denger gue, kan?" Byulyi berkata sambil membenarkan posisi airpodsnya. "Heh bolot, kalo ditanya tuh jawab!""Bentar elah," di seberang sana, Hani menyahut. "Btw, cowok disebelah gue cakep banget anjir!"
"Fokus." Kali ini suara Minhyuk, yang terdengar tegas dan agak gugup.
"Iye, belum tanding juga ini. Tenang aja."
Hari ini adalah hari besar bagi para penghuni bengkel robotik yang diketuai Minhyuk. Hari bersejarah dimana malam-malam begadang mereka dipertaruhkan. Robot hasil kreasi The Transformers akan dilombakan hari ini, dan lombanya pun berskala lebih besar dari musim lalu, yakni Nasional. Di tingkat Provinsi kemarin mereka berhasil meraih posisi pertama, membuat tim dari Kampus Pintar kini sebagai perwakilan dari Jawa Barat.
Alur lombanya masih sama, yakni setiap tim harus membuat robot yang mampu melewati sirkuit yang berisi beberapa misi. Bedanya, musim kemarin robot mereka diharuskan memiliki sensor otomatis sehingga tidak ada perwakilan tim yang menemani di sirkuit. Kalau sekarang, satu orang akan memegang papan kendali, tapi tugas yang diberikan dan sirkuitnya pastinya jauh lebih rumit ketimbang musim lalu. Yang menyelesaikan misi dan menyentuh garis finis dengan waktu tercepat akan menjadi pemenang.
Dan orang yang diberi tanggung jawab sebesar itu adalah; Ahn Hani.
Kalau kemarin kita membahas Byulyi bukanlah bintang kampus betapapun superiornya dia di bidangnya, itu karena titel tersebut sudah dipegang oleh Hani semenjak hari pertamanya Kampus Pintar. Dibalik sifatnya yang absurd, Hani adalah gadis dengan IQ diatas rata-rata. Dan ditambah sikapnya yang tidak mudah panik serta banyak akal membuat Minhyuk tidak ragu menyerahkan tugas mulia ini padanya. Byulyi dan Ken juga kandidat kuat sih, tapi Byulyi terlalu selebor sedangkan Ken sulit fokus. Jadi mereka pass.
Selama Hani dikarantina di arena lomba, tim Byulyi menunggu di bangku peserta. Minhyuk sengaja memakai aplikasi panggilan grup dengan Hani dan Byulyi buat jaga-jaga.
"Gausah tegang gitu mukanya," dengan senyum jail Byulyi menyenggol lengan Minhyuk yang duduk di sampingnya. "Menang kok, menang."
Anggota timnya yang lain juga datang, mereka kompak membuat jargon juga poster untuk menyemangati Hani. Ken bahkan rela memesan kaos seragam untuk mereka dengan dompet pribadinya.
"Byul, masih nyambung kagak itu telponnya?"
Byulyi menoleh Ken yang mengulurkan tangan padanya. "Apaan?"
"Pinjem bentar."
Byulyi pun menyerahkan ponselnya pada Ken yang langsung berteriak penuh napsu sambil mendekatkan bibirnya pada benda tipis itu. "AWAS AJA KALO LU KEBANYAKAN KETAWA! GUE NYUMBANG KAOS BUKAN BUAT LU TAMPIL NGELENONG!"
Lalu dengan senyum puas ia mengembalikan ponsel Byulyi. "Nih, makaseh."
Dan tentu, yang diseberang sana membalas dengan semangat yang sama pula.
"TENANG AJA! GUE CERDAS ORANGNYA! GAK KAYAK ELU! DISURUH BIKIN KAOS BIAR SUPORTERNYA DAPET TAMBAHAN NILAI KEKOMPAKAN MAU AJA PADAHAL GUE NGIBUL! HAHAHA!!"
Akibatnya adalah apa?
"WEH, KUPING GUE!!"
Byulyi dan Minhyuk kompak melepas airpods dengan terburu. Menghindari resiko budeg permanen.
Sementara itu, jauh di pelataran asrama kampus pintar, terlihat Wheein, Yongsun dan Hyejin duduk berteduh dibawah naungan pohon jambu yang sedang berbuah lebat. Mereka kompak berdandan rapi dan modis, seperti mau berangkat ngegaul. Tapi wajah mereka berkerut antara cemas, kesal dan lelah. Sudah sekitar setengah jam mereka menunggu disini. Pertanyaannya, menunggu siapa?
"Tae! Ini beneran mobilnya Sungjae gak bisa dipake?" Wheein berteriak dengan sedikit mendongak.
Beberapa daun jambu berguguran diiringi sesosok cowok yang mendarat sempurna didepan mereka dengan jambu merah tergigit diantara mulutnya. Ia mengibaskan semut yang merambat di jaketnya dengan dramatis. Membuat tiga cewek didepannya nyengir malas.
"Heh," Hyejin seperti sudah di ujung tanduk. "Ini kita udah jamuran nunggu disini. Lo kira gue dandan buat nungguin lo panen jambu?"
Taehyung menghabiskan jambunya sebelum menjawab, "tenang dulu, ibu-ibu. Dari tadi juga gue semedi di atas pohon sambil mikirin mobil mana yang bisa dipinjem."
Yongsun berdecak malas. "Kenapa lo gak bilang sih dari kemaren? Kan gue bisa pinjem mobilnya Joohyun sebelum dia pulang kampung."
"Sungjae tuh, baru kasih tau tadi pagi," Taehyung mecucu. "Gimana kalo kita naik taksi onlen?"
"Daerah sini tuh jarang banget ada begituan mangkal." Wheein menjawab malas.
"Naik motor?"
Ketiganya melotot. "Lo mau nyaingin cabe-cabean?!"
Taehyung menggaruk kepalanya. "Emang gaada yang bisa naik motor?"
"Ada."
"Siapa?"
"Byul."
"Hadeh.."
Rasanya Taehyung ingin menyeret Sungjae dan memitingnya sekarang juga. Bagaimana bisa mobilnya tiba-tiba minta ke bengkel sekarang? Pas mau dia pinjem? Kenapa gak kemaren-kemaren aja pas mereka gak mau berangkat menonton lombanya Byulyi?
"Gimana nih, misalnya ya," Taehyung berkata takut-takut. "Misal, kita gausah berangkat a..ja?"
Ketiganya melotot seram.
"Gue udah pesen spanduk! Gak tahu apa ini harganya berapa?!" Yongsun berkoar sambil mengacungkan spanduk berukuran satu meter di tangannya.
"Iya iya, kan gue bilang misalnya doang."
"Gue udah bawa bekel banyak ini!"
"Iya-aduh! Hyejin! Gausah pake jotos woi! Diajarin dewi bulan, lu?"
Wheein menendang kerikil didepannya dengan kesal. "Gue telanjur pengin lihat!"
"Aduh!"
Mereka kompak menoleh ke asal suara. Nampaknya kerikil Wheein barusan berhasil menjatuhkan korban jiwa. Tak tanggung-tanggung, ia berupa cowok rupawan bernama Kim Seokjin.
"Ya ampun!" Wheein menutup mulut. "Kerikil gue kena orang cakep!"
Namun ada hal lain yang membuat Taehyung tiba-tiba seperti dialiri tenaga listrik seratus watt. Matanya berbinar cerah begitu melihat Seokjin mengusap dahinya dengan wajah meringis kesakitan. Dia punya ide bagaimana cara mengangkut ibu-ibu PKK ini dengan selamat!
"Gaess!" serunya sambil nyengir lebar. "Kita pinjem mobilnya dia!"
Hyejin mengikuti arah telunjuk Taehyung. "Bang Jin?"
Taehyung mengangguk semangat.
Tapi Wheein punya ide lebih brilian. "Gimana kalo kita ajak aja dia sekalian?"
Taehyung menatap Wheein tak percaya. Benar juga, dengan begitu dia gausah nyetir. Tapi senyumnya sedikit memudar begitu sadar kalau Seokjin belum tentu mau mengantar mereka ke pusat kota yang berjarak puluhan kilometer. "Emang dia mau?"
Bukannya menjawab, Wheein malah tersenyum, sedikit licik. Sedetik, dua detik, baru Taehyung dan paham apa yang bisa membuat Seokjin mustahil menolak mereka. "Ini lombanya si dewi bulan!"