Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Saat dimana jam sekolah berakhir. Pemandangan yang nampak biasa, terlihat semua siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang ke parkiran, ada yang masih duduk di depan teras kelas, ada juga yang menunggu jemputan datang di depan gerbang sekolah.
Kao dan Kai terlihat berjalan berdampingan menuju parkiran sekolah. Sejak jam istirahat terakhir mereka sama sekali tidak berbicara apapun. Hanya diam penuh kecanggungan.
Beberapa kali pun Kao merasa kalau Kai sedikit curi pandang ke arahnya. Ingin bicara tetapi tidak tahu apa yang ingin di bicarakan. Yah, begitulah pikiran mereka.
Karena merasa tidak nyaman dengan kecanggungan di antara mereka, Kao memilih untuk basa-basi sedikit. Hitung-hitung bisa mencairkan suasana sedikit.
"Ehem. Kai, lo tadi udah nyatet resep puff pastry nya Bu Inna di papan tulis, kan?" Tanya Kao.
"Iya. Emang kenapa? Kamu nggak nyatet lagi?" Balas Kai dengan suara lembut.
"Nggak. Gue tadi nggak terlalu keliatan papan tulis nya. Makanya gue pengen pinjem punya lo aja," ujar Kao.
"Ok."
"Thanks."
"Ya."
(Sudah?! Apa cuma gini aja?! Bener bener deh si Kai! Biasanya nerocos kek tante-tante tapi kok sekarang jadi kalem gini?! Oh My God! Kai bilang sesuatu dong! Masa gue terus!) Begitulah gejolak batin yang dirasakan Kao.
"Kao!" Teriak seorang gadis yang tidak asing bagi Kao.
(Oh, Penyelamatku dari rasa canggung berlebih! Akhirnya!) Kao langsung tersenyum melihat Rena yang berlari menghampiri nya.
"Kao!..." Panggil Rena seraya mengatur napas nya yang tidak teratur.
"Ada apa my sweety?" Tanya Kao dengan nada manis manja yang membuat Rena langsung ilfeel seketika.
"Idih, jijik banget! Nggak usah dibuat-buat deh. Gue langsung aja," potong Rena yang kemudian menggenggam tangan Kao.
Sesaat setelah itu, Kai langsung menghentikan Rena.
"Heh, Lo mau bawa Kao kemana, sih?" Tanya Kai penuh selidik.
"Urusan cewek. Gue mau dia nginep di rumah gue ntar. Besok juga gue kembaliin kok." Kata Rena bernada sewot.
"Hm? Nginep? Ngapain coba?" Balas Kai yang tak kalah sewot dan bernada dingin.
"Emang kenapa sih? Emang lo siapa nya dia? Masa main ke rumah temen cewek nya nggak boleh?"
"Bukan gitu. Gue ngelarang karena Kao harus perbaiki sikap nya. Mana ada yang tau kalau elo bikin pesta-pesta trus lo undang temen-temen elo yang ntah kek gimana kelakuan nya. Itu bahaya!"
"Hey! Pikiran elo tuh terlalu panjang, tau nggak? Padahal wajar aja kalo cewek nginep di rumah sahabat ceweknya," Ujar Rena.
Mendengar pertengkaran kecil itu, Kao pun angkat bicara.
"Udah woy! Rena, gue bakal ikut elo. Lagian udah lama juga nggak ketemu sama emak lo." Kata Kao yang membuat Kai terkejut.
"Kao, kamu kok malah gitu, sih? Aku khawatir sama kamu," ujar Kai yang mendadak halus.
"Ya ampun, Kai! Gue cuma mau main ke rumah Rena. Bukan mau perang. Kok lo segitu nya kek gitu sih? Ini nih yang bikin gue susah suka sama sifat elo, terlalu overprotektif!"
Deg.
Perkataan Kao langsung membuat Kai terpukul. Dia langsung terdiam.
"Kai, elo duluan aja. Besok gue pulang, kok. Bye~" Kata Kao yang langsung menarik tangan Rena dan pergi.
Kai menatap punggung Kao yang semakin memudar. Dia terlihat suram. Kai meremas baju nya dan diam mematung.
"Kao.... Ntah kenapa gue merasakan sesak yang teramat sangat, kenapa.... Kenapa Kamu pergi? Seperti nya aku yang salah. Tapi, firasat apa ini?" Setelah itu Kai langsung pergi melaju dengan motor nya.
___
"Ren, kok elo tumben banget ngajakin gur nginep? Biasanya juga jarang." Kata Kao sambil melepas sepatu nya dan meletakkan di rak depan rumah Rena.
"Hm? Ada deh. Gue mau tunjukin sesuatu ke elo. Tapi ntar malem hehehe..." Kata Rena sambil nyengir kuda.
"Ok."
Saat Kao masuk ke rumah, dia langsung disambut oleh ibu nya Rena.
"Selamat sore, Tante Stela," ujar Kao dengan sopan.
"Halo Kao, kebetulan banget tante lagi masak banyak. Kamu sama Rena ganti baju, mandi terus kita makan bersama ya!" Kata Stela dengan antusias.
"Iya iya mah aelah, nggak usah disuruh juga kita bakal ngelakuin kok." Kata Rena agak malas.
"Dasar bocah ini!" Rena mengosek kepala Rena dengan gemas.
"Ahahaha.... Baiklah. Tante, kami keatas dulu, ya." Kata Kao yang menggandeng Rena ke kamar atas nya.
Kao ingin segera menghindari Stela karena pasti nanti Stela bakal introgasi dia dan bertanya, "bagaimana kabar nya? Apa papa mu masih di New Zeeland? Dan bla bla bla...." tidak akan ada habisnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
KAO(RI) [End]
Fiksi Remaja"Gue emang cewek brengsek. Memilih jalan hidup saja sudah kesulitan apalagi pasangan? Tetapi gue cuma punya satu tujuan," Kao mengepalkan tangannya dengan erat. "Pada akhirnya, gue cuma bisa bilang maaf sama semua orang," lanjutnya.