Bagaimana jika hidupmu dipenuhi dengan misteri? Sama seperti Riana Maudy yang berhari-hari kebingungan karena mendapat notes aneh, dan itu kerap terjadi semenjak bertemu dengan pria menyebalkan.
Sudah berapa notes yang dia temukan? Riana pun malas...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
(Mau main tatap-tatapan kayaknya, guys)
————
Dari tadi, Anira terus menatap horor Riana yang kini sedang berada di tribun sekolah, memandangi lapang utama. Gadis itu terus memandangi potongan coklat di tangannya sambil senyam-senyum tidak jelas.
"Senyam-senyum mulu, teman sendiri malah dicuekin!" gerutunya sebal. Anira dibuat terheran-heran oleh tingkah Riana yang semakin ke sini jadi tambah aneh. "He! Riana Maudy itu coklatnya mau leleh, kalau cuma dipandangin doang mubazir, buat gue aja...," ucapnya jadi gemas sendiri, bersiap ingin menyambar coklat itu.
Dengan cepat Riana menggeser tubuh, menyembunyikan potongan coklat itu di belakang punggunya sambil menatap Anira tajam. "Enggak, enggak. Enggak boleh," jawabnya sedikit menggeleng.
"Lo kenapa, sih, jadi aneh gini. Tadi aja pelajaran pertama, lo gak merhatiin Pak Arka. Diapain sama Kak Leon?"
Kalimat terakhir yang Anira ucapkan membuat gadis itu terdiam. Riana jadi teringat lagi pada wajah Leon ketika di koridor tadi. Senyumannya mengembang, tanpa menjawab lagi langsung menggigit ujung coklat dengan mata berbinar.
"Ini, dimakan. Tadi katanya mau? Nih." Riana menyodorkannya pada Anira, namun dibalas gelengan cepat membuat gadis itu mengangkat bahu tidak peduli. "Coklatnya enak, loh. Ajaib. Bisa bikin bunga-bunga di sini," tunjuk Riana pada dada sebelah kirinya.
"Enggak mau. Sekarang mood gue runtuh seketika," tolaknya tak bersemangat. Anira membalikkan badan, menatap lapang utama menahan rasa ingin memaki Riana saat itu juga. Padahal mereka sudah berteman lama, tapi tetap saja melihat kelakukan absurd Riana sampai sekarang membuat Anira geleng-geleng.
Riana mengangguk saja. Dia jadi sibuk sendiri dengan coklat yang katanya 'ajaib' itu tanpa memperhatikan lapangan seperti Anira sekarang. Anira juga tidak meneruskan obrolan lagi, dia menopang dagu, menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
"Hati lo ada bunga-bunganya? Minta satu."
"Hm?" Riana mendongak menatap Anira yang sedang menatap lurus entah memperhatikan siapa. Sedangkan Riana masih terdiam menunggu jawaban Anira selanjutnya.
"Gue pengen Bunga Bangkai," jawabnya lempeng. Tidak sadar dengan mimik wajahnya yang terlihat mengenaskan, bukan menggemaskan. "Kalau boleh, gue minta empat. Kalian gue kasih satu-satu."
Bibir Riana perlahan tertarik ke atas, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Hampir saja tawanya menyembur, namun Riana menahannya karena di sekeliling mereka juga ada anak-anak dari kelas lain yang ikut menonton aksi para pemain basket di lapangan.
"Itu kelas sebelas semua?" tanya Anira pelan, menunjuk arah lapangan dengan dagunya sehingga Riana mengikuti arah yang Anira maksud.
"Kayaknya enggak. Ada kelas sepuluh juga, tuh. Itu yang ekskul basket, kali," tebaknya masuk akal. Namun, detik berikutnya Riana merasa sadar sesuatu. Dia menatap Anira dengan kerlipan polosnya, lalu mengetuk pundaknya dua kali. "Kok kamu jadi kalem? Biasanya nyanyi sarangeul haetta terus, energi rahasianya dicopet orang?"
Mendengar jawaban Riana barusan membuat Anira tertegun. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian mengangguk pelan. "Lah, bener. Gue kenapa, ya?" tanyanya linglung.
Dia menatap satu-persatu pemain basket ei sana, kemudian menyipitkan mata sambil menggoyangkan lengan Riana. "Kak Argi, Kak Zio, Kak Rion, Kak Kean, terus itu siapa banyakan?" dia menjeda sebentar. "Lah, boss gengnya ke mana?"
"Boss geng?" ulang Riana belum paham.
"Ck! Kak Leon gak ada di lapangan. Dia kayak boss aja, berkarisma terus juga kelihatan galak. Biasanya mereka ke sana-sini bareng, jadi heran aja kalau salah satu dari mereka enggak ad—ANJIR."
"Itu duduk di kursi, dekat pohon!!!" teriaknya berisik. Riana melengos takjub, dia melirik ke arah yang Anira maksud. "Malah ngangin, astaga. Orang main basket, keringatan gitu, kok ini malah ngadem!"
Riana menjitak kening Anira pelan, membuat si empunya mengaduh sakit. "Emang, ya? Cuma Nada doang yang kalem. Kamu tadi doang kalemnya. Sekarang kembali ke jati diri. NENEK SIHIR." dia termundur kaget ketika Anira mengangkat cakarnya, Riana cengengesan sendiri, menyatukan kedua telapak tangannya sambil bergumam, "Sorry."
"Kenapa Kak Leon gak main juga? Tapi ... aku baru lihat anak basket main di sini, biasanya di lapangan basket aja, di belakang." Riana menatap Leon lekat, tanpa sadar jadi tersenyum. "Subhanallah, ganteng. Kok ada, ya, orang ganteng kayak dia? Rasanya pengen terus ngomong 'subhanallah' sebanyak-banyaknya."
Anira mendelik geli, dia menggeleng pelan agak ngeri. Ternyata sihir cinta memang seberpengaruh ini bagi Riana. Gadis yang belum pernah mengenal cinta, kini bisa uring-uringan tak jelas hanya karena diberi tatapan flat oleh Leon Anggara.
Masih diposisi sebelumnya, mereka malah tergerak saat mendengar suara speaker menyala nyaring dengan suara Arfa di sana. Semua orang kompak melirik ke sumber suara, tepatnya di pinggir lapang, depan kelas 10 IPA 4.
Di sana ada Arfa dan Rima sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS. Sepertinya, ada hal penting yang harus didengarkan baik-baik. Setelah beberapa menit Arfa mengucapkan beberapa patah kata sebagai pembukaan, dia langsung mengatakan apa maksud Arfa berdiri di sana.
"Seperti yang kalian lihat, di lapangan ini sudah ada beberapa orang yang berlatih basket. Seminggu lebih lagi, akan ada Pekan Olahraga antar SMA dan sederajatnya di lokasi SMA Gemilang."
Kali ini Arfa menyerahkan speaker itu ke Rima, walaupun jarak Riana dan mereka agak jauh, tapi dia masih dapat melihat raut wajah Rima yang tiba-tiba kusut. Terdengar decakan pelan yang membuat Arfa–si Ketua OSIS tampan itu cengengesan tidak peduli.
"Setelah rapat OSIS kemarin, saya dan rekan OSIS lainnya sudah mendata cabang-cabang olahraganya. Kebetulan sudah ditempel dimading sekolah, bisa kalian lihat nanti."
"Perwakilan Gemilang disetiap cabang olahraga kita serahkan ke ketua ekskul masing-masing. Data peserta mohon diberikan ke Sekretaris OSIS, Tarina Hylie."
Kening Riana mengerut, menggerakkan bola matanya melirik Anira yang jadi saling pandang. Nama itu ... serasa tidak asing setelah mereka dengar. Tarina Hylie. Kedua mata mereka melotot kompak, Riana menoleh sebentar ke arah Rima, lalu kembali menunduk.
"Baru tahu, Kak Tari anggota OSIS," ucap mereka kompak. Entah hanya mereka yang memang belum tahu fakta itu, atau Tari yang terlihat kurang aktif. Anira melirik ke sebelah kanan, terdengar kasak-kusuk siswi yang juga kaget mendengar bahwa Tari adalah Sekretaris OSIS.
"Tapi, Kak Tari kelihatannya baik. Kalau Kak Eliza marahin kita, dia diam aja. Bagus juga, sih." Riana menopang dagu. Menunggu jawaban dari Anira yang kini mengangguk mantap.