orang bilang saat mabuk seseorang akan mengatakan kejujuran, namun beberapa mengatakan mereka hanya melantur saja. Lantas mana yang benar?
-Kim Seokjin
💼💼💼
Kemilau sinar matahari menyusup masuk melalui celah gordyn acapela. Suara nyaring burung bersahut- sahutan menyambut pagi. Seorang gadis tampak terlelap damai dalam tidurnya. Hingga suara benda jatuh membawa kembali kesadaranya.
" aish apa Yoo Jung membanting piring lagi?" Gumam sang gadis sambil menarik selimutnya.
Gadis itu tampak enggan untuk meninggalkan ranjang nyaman yang ia tempati.
" pukul berapa sekarang?" Gumam gadis yang masih setengah sadar itu, mendudukan dirinya diatas ranjang.
Kepalanya terasa pening hingga membuat pandanganya kabur. Sial ada apa dengan dirinya?.
" assshhhh.... ponselku" Mishil mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan.
Ini bukan kamarnya, ini bukan apatermenya, dimana ia sekarang?.
Melihat setelan pakaian yang masih utuh membuat gadis itu mendesah lega.Dengan ragu Mishil berjalan keluar kamar bernuansa hitam putih itu. Apatermen yang luas dengan almari penuh buku membuat Mishil terpukau sesaat. Penataan ruangan yang apik membuat siapapun betah berlama- lama disana.
Langkah lambat Mishil membawa gadis itu mengarah ke pantry. Seseorang dengan aparon sedang fokus membuat sesuatu disana.
" oh hai, selamat pagi" sapa pemuda detik pertama menatap Mishil yang berdiri canggung agak jauh darinya.
" seokjin ssi? Kenapa kau disini?"
" ini aptermenku" balas Seokjin enteng.
" ah maksudku kenapa aku bisa disini?" Mishil meralat pertanyaanya.
" kau mabuk kemarin" alis Mishil terangkat sebelah. Pikiranya berputar kembali mengingat kejadian kemarin.
Mishil tidak merasa minum semalam, bagaimana bisa ia mabuk?. Ah kopinya pasti tertukar dengan beer milik Dazai.
Mishil mengusap wajahnya kasar.
" duduklah, aku sudah buatkan sarapan untukmu" titah Seokjin sambil meletakan sup hangat diatas meja.
Gadis bermarga Jeon itu masih setia membatu ditempatnya.
" kau tidak suka sarapan nasi? Mau ku buatkan roti panggang?" Tawar Seokjib masih dengan senyum manis menghiasi.
" tidak perlu, aku harus kembali sekarang. Daerah mana ini?"
" Hannam the hill. oh kau mau pergi? Aku antar"
" sudah tidak perlu repot- repot" tukas Mishil cepat.
" tidak ada yang repot untuk kekasih sendiri" pernyataan Seokjin menghentikan langkah Mishil seketika. Gadis itu membalikan tubuhnya guna menatap pemuda yang berdiri dibalik meja makan.
" kekasih?" Ulang Mishil merasa ada yang salah dalam ucapan Seokjin.
" iya. Kau menerimaku kemarin" jelas Seokjin singkat, padat dan jelas.
Mishil menyibak surainya kebelakang.
" aku tidak ingat menerimamu" ucap Mishil. Jujur ia tidak ingat apapun kemarin yang ia ingat hanya ia menegak minuman pahit yang menyakiti tenggorokan.
" tapi semalam kau bilang iya. Kau mau menjadi kekasihku"
" kau sendiri yang mengatakan aku mabuk. Jadi jangan kau anggap serius semua ucapanku, semua itu hanya omong kosong saja" Sekertaris Dazai itu pergi setelahnya. Meninggalkan Seokjin yang ingin masih menelaah ucapanya.
******* Bangtan New Staff *******
Puluhan panggilan tak terjawab dari nyonya Jeon membuat mood Mishil memburuk seketika. Gadis muda itu membuka kancing kemeja teratasnya yang terasa mencekik. Rapat berakhir cepat hari ini. Persiapan konser sudah mencapai 80% sisanya 20% tinggal penampilan BTS saja.
" setelah ini apa jadwal ku?" Tanya Dazai yang masih belum meninggalkan ruangan.
" menilik lokasi konser"
" oke. kita kesana dua jam lagi"
Mishil menganggukan kepala menanggapi. Gadis itu keluar guna mendinginkan kepalanya. Setelah ini ia harus melakukan tugas lapangan bersama Dazai. Hah memikirkan keluar saja membuat Mishil merasa malas.
" kita harus bicara" Seseorang menarik pergelangan Mishil tiba- tiba.
Pemuda itu menarik Mishil masuk kedalam sebuah ruangan dengan terburu.
" apa lagi yang ingin kau bicarakan?" Tanya Mishil tidak sabar.
" kepastian, jadi apa hubungan kita?" Mishil menghembuskan nafas kasar. Ia fikir semuanya sudah jelas sejak tadi pagi.
Drrttt.... ddrttt...
Panggilan masuk membuat Mishil mengeluarkan benda pipih itu dari saku celana jeansnya.
Srat...
Seokjin merebut ponsel hitam itu dari tangan pemiliknya.
" kau tidak bisa menggunakan trick yang sama dua kali" tandas Seokjin terdengar serius.
" kembalikan!" Titah Mishil sambil menodongkan tanganya didepan wajah Seokjin.
" tidak! Tidak sebelum kau jawab pertanyaanku!" Tolak Seokjin tegas.
" KEMBALIKAN AKU BILANG!" Suara Mishil naik beberapa oktaf.
" tidak! Katakan padaku, kau menerimaku atau menolak ku? orang bilang saat mabuk seseorang akan mengatakan kejujuran, namun beberapa mengatakan mereka hanya melantur saja. Lantas mana yang benar?"
" KEMBALIKAN Itu telphon dari ibuku Kim!" Pinta Mishil syarat akan permohonan.
Kepalanya pening luar biasa. Pekerjaanya menumpuk, masalah keluarganya masih belum menemukan titik terang, dan sekarang ditambah masalah perasaan dengan Kim Seokjin. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Kim Seokjin? Tidak mungkin ia mengatakan ia tidak mau ambil resiko dengan memacari artis papan atas. Namun jika ia terima maka itu hanya akan menyakiti perasaanya sendiri.
" kembalikan ku mohon" lirih Mishil. Air mata keluar membasahi pipinya. Mengalir turun tanpa komando.
Persetan soal harga diri. Nyatanya Mishil sedang hancur sekarang.
Tangan Seokjin terulur mengusap air mata yang terus mengalir. Ponsel hitam ditanganya ia serahkan kembali kepada pemiliknya.
Seokjin beralih meninggalkan ruangan. Pemuda itu sadar ia tidak bisa meminta kejelasan pada gadis yang berada dibawah tekanan. Biarkan Mishil tenang terlebih dahulu hingga bisa memutuskan semuanya nanti.
Ddrrttt.... ddrrttt...
" apa bu?" Tanya Mishil to the poin.
' apa kau tidak pernah belanja? Kenapa tidak ada apapun disini!' Ketus Nyonya Jeon mengomeli putrinya.
" dimana ibu sekarang?"
' diapatermenmu. Dimana kau menaruh makananya? Kami sudah tidak memiliki uang untuk membeli makan sekarang'
" buka saja kabinet. Ada ramen instant disana"
' ramen apa? Kosong semua' kening Mishil mengkerut. Ia merasa memiliki banyak stok ramen disana. Apa Yoo Jung memakan semuanya? Tapi itu terlalu banyak untuk dihabiskan sendiri.
" tunggu dulu, bagaimana bisa ibu sampai diapatermenku?" Pertanyaan cerdas itu terlontar dengan sendirinya. Bukankah aneh jika nyonya Jeon bisa sampai apatermen Mishil sedang ia tidak memberi tahukan alamatnya pada sang ibu.
' kami dijemput kekasihmu. Kau ini bodoh sekali, sudah ku kirimi pesan agar menjemput jam delapan namun tidak kau lakukan' omel Nyonya Jeon menghakimi putrinya sendiri.
" kekasihku? Kekasih yang mana?" Sekertaris Jeon tidak merasa memiliki kekasih. Lalu apa maksud ucapan ibunya.
' tentu saja kim seokjin' deg. Mishil kehilangan keseimbanganya. Gadis itu memegangi tembok disampingnya guna membantunya tetap berdiri.
' ada berapa banyak kekasihmu sebenarnya huh? putuskan saja semuanya. Sudah memiliki kekasih sebaik Kim Seokjin untuk apa yang lainya? jangan kau sia- siakan kim seokjin!'
" sudah dulu ya bu! Nanti aku telphon lagi!" Putus Mishil. Mengakhiri panggilan dengan ibunya.
Gadis dengan surai diikat ekor kuda itu melangkahkan tungkainya cepat. Sedikit berlari menyusuri lorong kantor.
Langkahnya semakin dipercepat saat melihat sosok pemuda tampan yang berdiri tidak jauh darinya.
" apa yang kau katakan pada ibuku?" Sentak Mishil meminta penjelasan pada pemuda tampan didepanya.
" tidak ada" balas pemuda itu enteng.
" aku serius kim seokjin Ssi. Kau mengaku sebagai kekasihku bukan?" Mishil bertanya lebih rinci.
" iya" jawaban pendek Seokjin membuat Mishil menyugar surainya kebelakang.
" apa lagi?" Tuntut Mishil meminta penjelasan lebih jauh.
" maafkan aku lancang. Semalam aku mengangkat panggilan dari ibumu saat kau mabuk" lanjut Kim Seokjin.
" jadi dimana mereka sekarang?"
" mereka diapatermen ku. Kau bisa menjemput mereka nanti" Mishil membalikan badan, berjalan menuju ruang rapat.
" mishil maafkan aku! ku mohon maafkan atas kelancanganku!" Pinta Seokjin sambil terus mengekori Mishil.
" semalam kau mabuk, jadi aku..."
" cukup!" Tukas Mishil cepat. Menghentikan ucapan Seokjin.
" apa kau begitu menyukaiku?" Pertanyaan Mishil menarik atensi beberapa orang yang masih berada dalam ruang rapat.
" iya. Lebih dari apapun" balas Seokjin cepat, tegas dan lugas. Pemuda itu terlihat sangat yakin dengan jawabanya.
Mendengar kejujuran Seokjin sedikit banyak menenangkan gadis Jeon itu.
Diliriknya Dazai yang masih duduk dikursinya menatap Mishil tanpa arti.
" Ayo kita pacaran" putus Mishil akhirnya. Tatapan matanya masih terkunci pada manik kembar Dazai.
" ap... apa?" Seokjin merasa tidak yakin dengan pendengaranya.
" ayo kita berpacaran. Namun dengan syarat. Setiap keputusan yang kau ambil harus melalui persetujuanku dulu" Mishil mengajukan syaratnya.
" baiklah" hyung tertua di BTS itu langsung menyetujui tanpa fikir panjang.
" wwuuuuu....."
" akhirnya Seokjin hyung memiliki kekasih!"
" makan- makan hyung!"
Riuh member BTS dan beberapa staff mendengar Seokjin official.
" wah selamat kim!" Satu persatu orang menyalami Seokjin ikut berbahagia.
' yang perlu ku lakukan hanya menjalani ini namun jangan sampai jatuh cinta! Aku pasti bisa!'
Tbc.