Semilir udara menyapu lembut helaian rambut milik perempuan berjepit rambut hijau itu. Tampak jari-jari tergerak bebas menyelipkan helaian yang mulai mengganggu penglihatan tadi ke belakang telinganya. Fokusnya tidak terganggu sedikit pun, masih sama tertuju pada lembaran kertas hasil cetakan dari beberapa materi kuliah dan juga soal-soal latihannya.
"Demam menggigil, nyeri betis, sakit kepala dan mual serta muntah. Hm ...," monolog perempuan tadi.
Lagi-lagi udara mengajak helaian rambutnya bermain. Tanpa peduli, kembali ia menyelipkan helaian tersebut dan tetap terpaku pada tulisan-tulisan di hadapannya.
"Tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 88 kali per menit, suhu—" kalimatnya terputus dan berdecak sebal, "Aduh anginnya kenceng banget, sih!" kesalnya.
Angkasa yang hanya duduk diam bersandar pada tubuh pohon, sambil menyimak kegiatan perempuan yang duduk bersila menyampinginya, menghadap danau kampus.
"Tolong, ya, angin yang terhormat, aku itu mau belajar. Jangan bertiup kencang, dong, ketusuk mata nih rambut," omelnya.
Perempuan yang sudah dikenalnya selama tiga tahun lebih sedikit itu, sukses menarik atensi Angkasa lebih dalam lagi. Laki-laki yang terkenal susah bergaul dan juga pemarah —testimoni teman-teman satu angkatannya— menarik satu sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum termanisnya.
"Laju napas dua puluh kali per menit, ikterus, nyeri tekan musculus gastrocnemius ... apa ya ...," gumam perempuan itu hampir tidak terdengar.
Angkasa mengambil sebuah karet rambut berwarna hitam di atas tas milik perempuan itu. Ia beranjak ke arah belakang tubuh perempuan itu, menatap punggung kecil yang tertutup helaian rambut panjang sang perempuan.
Tangan lebarnya mengambil helaian rambut di bagian sisi kiri dan menyatukannya dengan sisi satu lagi. Pertama-tama ia memasukkan rambut yang berada di genggamannya itu ke dalam lubang pada karet hitam tadi, sampai sesaat sebelum si perempuan menyadari perlakuannya.
"Kamu ngapain, Sa?" tanyanya terkejut dengan sedikit menoleh ke arah belakang.
Angkasa yang fokusnya berada pada rambut dan juga karet itu terpecah dan menatap perempuan di hadapannya. "Mau ikat rambut kamu, Nda," sahutnya.
Perempuan berambut panjang dengan asma Arawinda itu lantas tertawa kecil setelah mendapati wajah polos milik Angkasa. Sementara dirinya tertawa, laki-laki yang berada di balik punggungnya itu mengubah ekspresinya.
"Kenapa ketawa? Ada yang salah?" ujarnya polos.
"Emangnya kamu bisa ikat rambut aku?"
Angkasa bergeming mendengar kalimat tanya dari Arawinda. Laki-laki itu baru menyadari kalau dirinya bodoh akan hal itu. Ia belum, bahkan tidak pernah sekali pun mengikat rambut seseorang. Dengan polosnya Angkasa menggeleng pelan.
Arawinda lantas tertawa keras, sebab mendapati wajah Angkasa yang berekspresi sangat polos. Lihat saja matanya yang terbuka lebar seperti seekor kucing yang ingin meminta makan.
"Sok ngide banget kamu mau ikat rambut aku, sementara kamu sendiri enggak tahu caranya," timpal Arawinda.
Angkasa mengalihkan wajahnya dari pandangan Arawinda sebagai respons dari rasa malunya. Terkadang, orang-orang genius memang jarang memiliki celah kesalahan walau sekecil lubang semut, tetapi kali ini celahnya melebar dan sangat memalukan.
"Ya ... saya cuma mau bantu kamu, biar mata kamu enggak ketusuk rambut lagi," sahutnya pelan dengan wajah sedikit memerah.
Arawinda tahu kalau laki-laki yang masih dipunggunginya itu sedang tersipu malu dan berusaha menyembunyikannya. Segera Arawinda mengubah posisi duduknya yang semula membelakangi Angkasa, kini menjadi berhadapan dengan laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya.
Arawinda mengulurkan tangannya. "Sini karetnya, biar aku ikat sendiri," pintanya.
Layaknya seorang anak kecil, Angkasa ikut saja semua yang diminta oleh Arawinda. Tangannya terulur memberikan karet rambut yang tadinya hampir terpasang di rambut perempuan itu.
Tangan perempuan itu sibuk memutar karet pada rambutnya. "Btw, kira-kira tatalaksana buat kasus yang ini apa, ya?" Tunjuk Arawinda dengan dagunya, pada kertas yang tadi ia letakkan di tengah-tengah antara dirinya dan Angkasa.
Sebagai laki-laki yang sangat peka, Angkasa lantas mengalihkan atensinya yang semula jatuh pada paras cantik Arawinda ke arah kertas yang dimaksud perempuan itu.
"Pasiennya mengeluhkan nyeri setelah kerja bakti," kata Arawinda setelah selesai dengan rambutnya.
Angkasa mengangguk paham, sebagai laki-laki juga senior yang lebih berpengalaman dalam menjawab kasus-kasus dalam setiap ujian blok, Angkasa percaya diri dapat menjelaskannya dengan singkat pada Arawinda.
Selain untuk belajar bersama, tempat kesukaannya ini sangat loveable untuk pasangan yang ingin berduaan. Contohnya mereka, ada terselip sedikit rasa ingin modus dari Angkasa ketika ia menawarkan untuk mengajari Arawinda.
Angkasa menampakkan wajahnya yang sempat terlindung kertas-kertas soal tadi. "Kamu harus garis bawahi keluhannya, Nda. Dari semua keluhan mengarah ke Leptospirosis."
Kerutan-kerutan tipis mulai tampak di dahi Arawinda. "Bagian mananya yang mengarah ke Leptospirosis?"
Dengan sabar Angkasa menunjukkan bagian yang menjadi patokan diagnosisnya. Telunjuknya mengarah pada beberapa kata. "Riwayat kerja bakti membersihkan selokan, sementara Leptospirosis disebabkan oleh Leptospira interrogans," jelasnya.
"Pejamunya bisa hewan peliharan seperti anjing, bisa juga tikus maupun hewan ternak. Sementara pasien melakukan kerja bakti di selokan, bisa saja air selokan sudah terkontaminasi Leptospira interrogans yang di bawa oleh tikus. Selain itu ...." Angkasa menunjuk bagian lain dari kasus tersebut.
"... sudah berkembang menjadi Weil Disease," lanjutnya.
Dengan penasaran Arawinda menilik kertas yang dipegang oleh Angkasa. Netranya menangkap sebuah kata, ia yakin itu salah satunya yang ikut berpengaruh.
"Ikterus, kah?"
Angkasa mengacungkan jempolnya tanda perempuan itu menebak dengan benar.
"Jadi, menurut Arawinda yang paling cantik sealam semesta, tatalaksananya adalah?"
Kontan Arawinda mencubit pelan lengan atas milik Angkasa. Malu akan gombalan aneh milik kekasihnya. "Diam atau aku ceburin ke danau?" ancamnya galak.
Alih-alih takut akan ancaman perempuan di hadapannya Angkasa malah tertawa lepas melihat ekspresi marah ala Arawinda.
Sejenak Angkasa terbatuk keras, rasanya sulit bernapas. Paru-parunya seperti terimpit, rasanya ada air yang menerobos masuk ke dalam saluran napasnya. Kepalanya berputar hebat, sementara bajunya dibasahi keringat yang mengucur bak hujan.
Angkasa membuka matanya perlahan, ia terduduk entah di mana. Dengan napas yang terengah ia menatap sekitarnya. Gelap, penuh asap.
"Angkasa ... tolong ...."
Angkasa mengedarkan pandangnya, mencari asal panggilan tadi.
"Angkasa ...."
Ia kenal betul suara perempuan yang memanggilnya. Suara itu milik Arawinda, perempuan yang selalu di sampingnya. "Nda ...?" sahut Angkasa ragu. Dalam hatinya ia ragu akan kepemilikan suara itu, tetapi di sisi lain ia yakin suara itu milik kekasihnya.