15

83 13 4
                                    

Seorang pria berkulit tan dengan garis wajah maskulin memasuki basecamp tempat dimana teman sepermainannya berkumpul. Dengan raut wajah kesal, ia menenggak habis gelas yang berisikan alkohol dosis rendah milik wanita bermarga Kim tersebut.

Lihatlah betapa serasinya kedua insan ini, sama-sama bermarga Kim juga berinisial J. Mereka bagaikan pasangan Joker dan Harley Quinn disini, tapi Jenie tidak se brutal Harley tentunya. Ia tetaplah dirinya, gadis cantik bermata ketus namun tidak hatinya.

Jenie mendekati kekasihnya yang ia yakini sedang dilanda amarah saat ini. Dan nasehat apapun takkan mampu menembus hatinya. Ia sudah tau itu, makanya ia hanya membiarkan Kai membara dengan emosinya tanpa ingin ikut campur. Cukup duduk dan menunggu amarahnya mereda.

Prankk!

Gelas kecil itu terlempar begitu saja dari genggaman Kai, menghantam lantai. Menyisakan serpihan kaca yang berserakan kemana-mana. Tak ada yang berniat menegurnya apalagi membersihkan serpihan itu, tidak dengan si pelaku yang masih bergulat dengan temperamennya.

"Kemana sebenarnya kau, Park.." geram Kai dengan suara rendah.

Jenie tak tuli untuk menangkap perkataan kekasihnya barusan, dalam hati ia mencoba mengingat adakah selama ini Kai bermasalah dengan seseorang bermarga Park? Bahkan Jenie tak mampu mengingat siapa saja karena Kai memang punya banyak masalah dengan berbagai kalangan.

Pria tan itu membuka ponselnya, memastikan kembali bahwa email yang dikirim orang kepercayaannya di Korea itu tidak salah.

Foto-foto itu sudah ku letakkan disana sesuai perintah anda. Namun keesokan harinya dia tidak terlihat lagi. Rumah itu kosong tanpa seorang yang menjaga, bahkan teman-temannya juga datang kesana untuk mengecek. Ku rasa mereka menyembunyikannya disuatu tempat

"Cihh, dasar pengecut! Masa depanku hancur berantakan dan kau dengan pengecutnya menyembunyikan kotoran anakmu!" Maki Kai tanpa arah, yang lain hanya memasang telinga tanpa berniat bertanya.

"Baiklah, jika kau memilih menutup mata. Akan ku buka paksa matamu itu.."

Seringai terbit di bibirnya. Menambah kesan antagonis yang saat ini ia perankan.








••••••








1 tahun kemudian.



"Hoseok-ah, jalanmu lambat sekali. Cepat, paman fotografernya mau pergi!" Teriak pria manis berbahu lebar itu. Ia tampak sibuk mengumpulkan rekan-rekan sekelasnya untuk berfoto bersama.

"Yaa, tunggu!"

"Aish, cepatlah ini panas sekali, sial.." umpat Yoongi sembari mengibas-kibaskan toga demi mengusir hawa panas ditubuhnya.

"Sudah di wisuda tapi mulutmu tak ada tanda-tanda akan bijak seperti seorang sarjana ya.." Itu Taehyung yang menimpali. Yoongi memutar bola matanya malas.

"Jadi menteri sekalipun aku akan tetap seperti ini. Karena yang penting itu disini." Balas Yoongi tak mau kalah sambil menunjuk kepalanya dengan jari.

"Kan sudah ku bilang, jadilah pria manis yang baik. Uke sepertimu-"

"Fuck uke seme, aku akan melajang sampai sisa umurku!" Bentak si pucat.

Yang dimaki hanya memicingkan matanya, ingin membalas tapi itu hanya akan memperpanjang perdebatan. Dan ia tak mau berdebat lebih lama dengan si manis.

Kau akan menangis meminta jodoh bila Dewa terlanjur mengaminkan sumpahmu. Bahkan dengan batang bambu sekalipun! Batin Taehyung.

          

"Yaa, kalian ini jadi berfoto tidak!? Banyak yang mengantri. Kalau tidak aku akan pergi." Teriak sang fotografer menginterupsi. Jengah melihat perdebatan para sarjana konyol dihadapannya ini.

"Jadi paman! Yaa, Hoseok jangan injak sepatuku!"

"Ahh, mianhe Seokjin-ah.."

"Berisik sekali kalian ini."

"Astaga aku sudah keringatan! Cepatlah!"

"Jungkook, heyy! Ayo berfoto bersama.."

"Geser kepalaku tertutup topi mu!"

"Haaattchimmm.."

CEKREKK!

Lampu kamera menyala, menangkap pemandangan didepannya yang saat ini benar-benar tidak siap untuk diabadikan. Tapi apa pedulinya, sang fotografer sudah jengah menunggu mereka.

"Aishh, aku belum siap paman!" Rengek Seokjin menyadari bahwa kamera itu sudah mengambil foto mereka dalam keadaan kacau balau. Tidak, ia tak mau foto bodoh itu yang ia pajang di ruang tamu kelak!

"Sudah sudah, aku tidak ada waktu lagi. Kalian tunggu hasil cetakannya saat pengambilan ijazah." Paman fotografer itu pun pergi meninggalkan kekecewaan pada Seokjin, Hoseok, Yoongi, Taehyung dan Jungkook.

"Argh! Ini semua gara-gara kau!"

Mereka saling menyalahkan satu sama lain, masih tak terima membayangkan hasil fotonya akan seperti apa. Berbeda dengan Jungkook yang tampak tak peduli, ia menepi dari kerumunan dan bersandar pada pohon peneduh didekatnya.

Yoongi menyadari hal itu dan ingin mendekat, namun tiba-tiba dosen mereka datang hendak memberikan ucapan selamat. Ia pun membatalkan niatnya tersebut dan kembali menyatu dengan teman-temannya.

"Wahh, akhirnya kau lulus juga dari sini, Kim Seokjin." Ujar dosen Yoo sembari menjabat satu persatu tangan mereka.

"Ku anggap itu sebagai pujian, Pak." Seokjin menundukkan kepalanya, tak lupa mengangkat jubahnya bagai seorang putri raja memperkenalkan diri, seakan berterima kasih karena telah disanjung.

"Tapi kami semua mengetahui riwayatmu, hyung." Sambar Taehyung tergelak. Seokjin memicingkan matanya.

"Setelah sekian tahun lamanya dan kita tidak akan bertemu lagi, baru kau memanggilku dengan benar ya.."

Keduanya pun terlibat cekcok untuk yang kesekian kalinya. Perkelahian kecil, adu mulut, perbedaan pendapat, itulah yang menghiasi kelompok mereka beberapa bulan belakangan. Mereka semua tanpa sadar menjadi lebih dekat.

"Tapi Pak, bagaimana dengan Jimin? Apa ia tidak diwisuda?" Tiba-tiba Hoseok bertanya, mengundang atensi teman-temannya.

Deg!

Yoongi tau suara Hoseok cukup keras untuk didengar orang selain didekat mereka. Bohong bila yang sedang berada dibawah pohon itu tidak mendengarnya, kecuali memang ia sengaja menulikan telinga.

Sejujurnya ia juga penasaran, setelah setahun berlalu ia masih belum mendapatkan apa-apa mengenai kabar sang sahabat. Kediamannya masih seperti terakhir kali mereka kesana, kosong. SNS Jimin dan Haejin pun tak pernah aktif lagi.

Mungkin tidak ada yang menyadari, tapi Yoongi bisa melihat bahwa sang dosen sedikit gugup menjawab pertanyaan yang di lontarkan Hoseok barusan. Tanpa perlu pusing-pusing, ia segera paham bahwa tebakannya dan Jungkook setahun yang lalu bisa jadi benar. Jimin disembunyikan ayahnya, ntah kemana.

"Ahh, aku t-tidak tau. Yaa.. kalian baik-baik diluar ya. Dunia akan lebih keras setelah kau lulus dan menjadi sarjana. Ingat untuk selalu menjaga nama baik almamater, jangan melakukan segala cara demi mendapatkan yang kalian inginkan. Ku doakan kalian semua sukses!" Pria tua itu tersenyum tulus sembari kembali menjabat para mahasiswanya, lalu pergi meninggalkan pertanyaan Hoseok yang masih menggantung.

The Perfect ShootWhere stories live. Discover now