• Sheiland #8 •

425K 35.1K 1.2K
                                    

Aland memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, bisa dikatakan melawan kebiasaan karena jika pada pagi hari maka semua siswa akan menuju ke lembaga pendidikannya masing-masing, sedangkan Aland malah menjauhinya. Untuk sementara waktu.

Bukan bermaksud untuk membolos, tetapi ada urusan yang rasanya harus ia selesaikan.
Mobilnya menyusuri jalan yang semakin kecil ketika ia berbelok ke kiri di suatu persimpangan jalan, Aland mengembuskan napas pelan hingga rasanya semua karbondioksida telah ia keluarkan dari tubuhnya. Rahangnya mengeras ketika tempat yang ia tuju sudah di depan mata.

Aland mengangkat tangannya menyapa ketika beberapa siswa berseragam yang agak berbeda dengannya melakukan hal serupa, Aland menghampiri mereka dengan senyuman mengembang.

"Lo dateng juga," ucap salah satu dari mereka, yang berambut cepak dan bertumbuh tinggi.

"Udah lama lo nggak ke sini Land," timpal yang lain.

"Sekolah gue kan bukan di sini." Aland menunjuk gedung sekolah dengan dagunya, ia sekarang berada di warung di depan sekolah itu.

"Mau rokok?"

"Nggak usah. Ada apaan kalian minta gue ke sini?" Aland bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya ia malas datang ke sini, selain karena itu bukan tempat yang biasa di datanginya, Aland tidak terlalu dekat dengan mereka. Meskipun beberapa kali Aland nongkrong di sana dengan Alfa dan Tirta.

"Eric mau ngomong sesuatu sama lo, kayaknya."

Aland duduk dan menatap siswa yang tadi pertama membuka mulutnya dengan dahi mengernyit. "Ada apaan emang?"

"Biasa lah, Land. Kayak yang nggak tau dia aja."

Aland mendengus, kalau hanya itu yang menjadi alasan mengapa mereka meminta dirinya jauh-jauh ke sini, maka Aland lebih memilih untuk kembali ke sekolah.

"Males gue kalo alesannya masih sama, mending gue cabut." Aland berdiri lagi dari duduknya, hendak membuka pintu mobil ketika seseorang mencengkram bagian belakang seragamnya.

Aland sudah menduga sebelumnya. Dan benar saja, ternyata memang Eric lah yang mencengkram seragamnya tadi. Cowok itu tersenyum, memamerkan gigi-giginya yang berderet rapi.

Meskipun Aland hampir tertawa karena terlihat sesuatu berwarna merah 'nyelip' di sela-sela gigi Eric, tapi sengaja ia tahan.

"Apaan? Masih mau nantang gue lagi? Atau masih mau kalah lagi?"

Aland menepis tangan Eric, menampilkan sebuah senyuman mengejek yang terpatri di wajah tampannya. Eric sendiri mengangkat bahunya.

"Gue kan dari lama pengen duel lagi sama lo."

Aland memutar bola matanya malas. Ia dan Eric memang bukanlah musuh, tetapi terlalu berlebihan juga jika disebut teman. Kriteria untuk menjadi teman seorang Aland rasanya terlalu banyak, sehingga selama tiga tahun ia mengenyam pendidikan di SMA hanya tiga orang yang berhasil melewati kriterianya itu.

Alfa, Tirta dan Agatha.

"Eric, gue lagi males nonjok orang," ungkap Aland jujur, tangannya memang tidak sedang gatal untuk meninju seseorang.

"Tapi gue pengen duel, sekarang."

Sadar bahwa terus mengelak tidak ada gunanya, Aland mendorong tubuh Eric dan segera melayangkan tinjunya ke wajah cowok itu.

"Kalo karena ini soal si Irene, lo ambil aja dia, gue nggak ada rasa kayak yang lo duga."

Eric menyunggingkan senyum, tetapi samar dan tidak mencapai matanya. "Ini bukan tentang Irene."

Sheiland (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang