Trois

34 8 0
                                    

Author

"Nih kak gitarnya" Akyla memberi gitar kepada Marcel.

"Sip, makasih ya"

Kyla buru-buru keluar dari parkiran samping sekolahnya.

Grep!

"Tungguin dong" Marcel menahan tangan Kyla, lalu jalan berdampingan.

Di perjalanan menuju gerbang sekolah, banyak sekali siswi yang memperhatikan mereka berdua. Selain populer, paras Marcel memang lumayan tampan.

"Nanti ajarin gue ya" pinta Marcel.

"Gue aja baru tau beberapa chord anjir, gila kaliya"

"Sama Raden aja noh, jago dia" Lanjut Kyla kesal.

"Ya tapi gue maunya diajarin lo, gimanatuh?"

"Yakan guenya gabisa kak"

"Lo ajarin aja yang lo bisa, guekan gabisa sama sekali Kyl"

"Hhhh iyadeh suka-suka lo aja" Kyla memutar bola matanya jengkel, lalu salim kepada guru yang berdiri di pintu masuk.

"Gue duluan ya kak" Kyla mempercepat langkahnya.

Ia tidak boleh terlihat bersama Marcel, karena gossip pasti akan cepat menyebar. Ingat, tembok sekolah ini bahkan dapat berbicara. Jadi, lebih baik hindari semua pemicu gossip. Walaupun Kyla senang menggosip, tetapi ia sangat tidak ingin digosipi oleh siapapun.

Jadilah Kyla berjalan di depannya Marcel.

"Sorry ya, semalem gue ketiduran" Ujar Marcel yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Kyla.

"Hah yaudah gapapa"

"Nanti kalo gangerti lagi mtknya, tanya aja ya sama gue"

"Gampang itumah"

"Terus itu tugas lo yang semalem gimana?"

"Udah nanya Raden kok"

"Eiya tapi makasih loh, gue paham sama yang lo jelasin itu" Lanjut Kyla.

"Sama-sama. Yaudah, hati-hati ya ke atasnya" Marcel menepuk pelan bahu Kyla, lalu berjalan menuju kelasnya.

Kebetulan, kelas Marcel ada di lantai 3. Sedangkan kelas Kyla berada di lantai 4, lantai paling atas. Jangan ditanya apakah ia lelah atau tidak. Karena setiap harinya ia akan mengutuk sekolah ini, sehabis menaiki tangga menuju kelasnya.

Dari tempatnya berjalan sudah bisa dilihat keempat sahabatnya itu sedang berbincang di depan balkon kelasnya. Mereka selalu seperti itu. Membicarakan hal apapun sebelum bel masuk berbunyi.

"Ga bosen apa lo pada?" Tegur Kyla pada sahabatnya seraya memasuki kelas.

Sedangkan empat manusia itu hanya melirik sekilas dan kembali mengobrol.

Di dalam kelas setelah menaruh tas, Kyla berpapasan dengan Aziz.

Fyi, Aziz ini bisa dibilang gebetan Kyla dulu pas kelas sepuluh. Gebetan bukan ya? Soalnya kalau ditanya, Kyla hanya menjawab 'ngga kok, kagum doang'. Kalau suka sama orang itu berawal dari kagum kan? Rasa kagum berubah jadi suka sama segala hal tentang dia. Terus jadi gebetan? Betul tidak? Ya sudah begitu. Jadi, anggap saja Aziz ini mantan gebetan Kyla. Iya, belum apa-apa sudah jadi mantan. Miris ya.

Aléa JactaWhere stories live. Discover now