[CYLG] Welcome to the Jungle

2.5K 301 55
                                    

Sebulan setelah Ceye dan Ladin jadian.

P.S: Bridging antara 022 dan 15.08

---

"Tulisan lo tentang Katalara masih trending sampai sekarang."

Ladin mengangkat pandangannya pada layar handphone yang disurukkan hampir mendekati wajahnya. Sesaat ditelaahnya apa yang terpampang di layar persegi tersebut sebelum mendongak lebih tinggi, pada cowok yang menyodorkan handphone tersebut.

"Kok masih trending, sih?" tanyanya.

Haikal, cowok yang merupakan bos Ladin di Stagesnap sekaligus sang pendiri media tersebut, mengedikkan bahu sembari tersenyum. "Beberapa media musik di luar sana jadiin tulisan lo tentang Katalara sebagai acuan. Mereka baru mau berbondong-bondong interview Katalara," jelasnya.

Ladin mengangguk-angguk. "Akhirnya duo akustik kesukaan gue dapet eksposur. Dari dulu kek orang-orang bahas Katalara. Masa harus Stagesnap dulu yang maju duluan?"

Haikal tertawa. "Berkat tulisan lo nih, Din."

"Bilang apa dong ke gue?"

"Makasih ya reporter kesayangan se-Bandung Raya."

Ladin ikut tertawa. Bosnya yang satu ini bisa banget deh kalau soal beginian. Lagian, tulisan dia perasaan biasa-biasa saja, deh. Kenapa masih trending di kalangan penikmat dan pengamat musik, ya? Sehaus apa publik di luar sana pada Katalara, duo akustik yang menjadi pemain baru di skena independen baru-baru ini?

"Oke, forget about Katalara." Haikal mengibaskan tangannya. "Itu tadi cuma pembuka."

Ladin mengernyit. "Maksudnya?"

Haikal menarik kursi di samping Ladin dan tersenyum penuh antuasias. "Lo tahu Ninefave?" tanyanya.

"Tahu. Kenapa?"

"Dia tugas lo berikutnya."

"Apa? Interview?" Ladin membelalak. "Ninefave udah banyak dibahas kali. Mereka kan bukan anak baru!"

Haikal menggeleng-geleng. "Ninefave baru dapet sorotan karena konten mereka di media sosial lagi seputar kesetaraan gender. Gue rasa sih karena efek album kemarin."

"Oh, gara-gara album? Nggak seberapa kali, biasa aja. Substansi kesetaraan gender di album mereka nggak terlalu banyak."

"Lo kok kelihatannya sentimen banget sama Ninefave? Pernah ada masalah lo sama mereka?"

Ladin menggigit bibir dan memutuskan untuk diam. Dia belum mau mengutarakan keengganannya meng-interview Ninefave.

Band itu tampaknya digandrungi semua gender, mau cowok atau cewek. Ladin juga sempat menjadi salah satu fans-nya. Rama punya pesona kuat yang bisa membuat siapapun menggelepar hanya dengan mendengar suara atau menatap wajahnya. Yaa... mirip Faiq lah. Pokoknya dalam hierarki band di Bandung, Ninefave selalu menggeliat bertukar posisi dengan Anchorbolt. Dua band itulah yang aktif bersaing saat ini.

"Gimana, Din?" Haikal mengulang perintahnya. "Lo mau ya interview mereka?"

"Harus gue, ya?" tanya Ladin. "Kan masih banyak yang lainnya. "Ines, Bang Dimas, Azka--"

"Harus lo pokoknya," potong Haikal. "Gue yakin eksposur Ninefave bakal meningkat dengan tulisan lo. Dan artinya, mereka bakal balik ngajak kita kerja sama."

Ladin melengos. Masa bodoh dengan eksposur-eksposuran. Ada hal lain yang lebih ditakutkannya.

"Oke, Din? Kalau iya, gue atur jadwal sama mereka."

Short StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang