The Third Blue Roses: Bicycle and City Park

1.3K 306 150
                                    

Mike tengah membuat racikan bahan pewarnanya. Bukan, ia bukan salah satu dari pemasok makanan berformalin seperti di acara investigasi yang namanya biasa disamarkan menjadi Mawar. Ia hanya sedang mewarnai bunga mawar putih yang baru saja dibelinya di toko bunga yang kini menjadi langganannya.

Gadis yang sekaligus kasir di toko bunga itu sudah memberikan saran kepada Mike untuk membeli mawar biru yang sudah jadi saja supaya tidak merepotkan. Ternyata, begitu Mike sudah cukup lihai dalam hal warna-mewarnai, bunga biru itu tiba-tiba muncul dan siap dijual.

"Gak usah, deh. Biar autentik, asli bikinan tangan gue sendiri." Begitu jawabannya ketika ditawari mawar biru yang sudah jadi.

Hari ini ia sudah bertekad untuk tidak menggunakan motor hitam kebanggaannya. Sepeda yang kira-kira sudah satu tahun teronggok percuma di gudang itu akhirnya dikeluarkan oleh pemiliknya. Mike membersihkan ala kadarnya, mengikat setangkai bunga mawar biru di stang depan dan segera melaju kerumah Molly dengan perasaan yang gembira.

"Huahaha!" Molly tak kuasa menahan tawanya. "udah berapa abad tuh sepeda gak dipake?"

Mike mengelus sepedanya dengan perasaan sayang. "Jangan dihina, dong. Dia rada baper soalnya. Lagi dapet."

"Jayus." Molly menghampiri Mike yang masih setia duduk di atas sepeda. "gue miring gitu duduknya?"

"Iyalah. Lo mau jongkok emangnya?"

Membayangkan dirinya jongkok di kursi belakang membuat Molly tertawa lagi. "Elegan banget gue. Duh, berasa noni Belanda nih dijemput pake sepeda."

"Jijik. Naik cepetan. Gue ajak keliling taman kota."

---

"WUA!" Molly berteriak histeris sambil memukul punggung Mike tanpa henti. "GUE BISA JATOH KALO KAYAK GINI CARANYA WOOY."

Alih-alih menanggapi celotehan sahabatnya itu, Mike malah makin gencar mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Jika ada spedometernya, mungkin panah sudah melewati angka 40 km/jam. Suasana taman kota yang sepi menjadikannya lebih memungkinkan untuk dijadikan arena balap sepeda liar sementara bagi Mike.

"MIIIKE! BERHENTI GAK LO?!" teriak Molly dari jok belakang.

"Apaaa? Gak denger nih. Ulang, dong." Jawab Mike sambil tertawa geli.

"BER-HEN-TI."

"Cepetin? OKE!"

"BERHENTI, DAJJAL."

Setelah puas bermain-main dengan adrenalin sahabatnya, Mike akhirnya merasa kasihan juga dan (dengan sangat terpaksa) memberhentikan laju sepedanya.

"Woy, ngapa lo diem aja di situ? Ayo jalan, cari bangku." Teriak Mike yang sudah beberapa langkah di depan Molly.

Perempuan itu tengah berdiri sambil memegangi pinggangnya dengan nafas yang belum teratur. "Bodo!"

"Gue traktir es krim."

Badannya pun tegap seketika. "Oke!"

"Enak gak?" Mike melirik Molly yang tengah asyik menikmati es krim gratisannya.

"Setelah insiden balapan liar tadi, makanan apapun yang masuk kemulut gue kayaknya enak-enak aja." Jawab Molly lalu menjilati es krimnya lagi.

Mawar birunya!

Mike baru ingat dan segera melepaskan ikatan pada stang sepedanya.

"Mawar biru buat lo. Udah rada rusak gara-gara ngebut tadi." Ia menjulurkan tangannya, memberikan setangkai bunga indah itu kepada Molly untuk yang ketiga kalinya.

Molly mengoper es krim di tangannya dan mengambil bunga dari Mike. "Kok mawarnya jadi sama jeleknya kayak yang ngasih, ya?"

"Jelek, ya? Nih," Mike mengoleskan lelehan es krim kewajah Molly. "tuh, lo juga jelek."

"ISH. LO MAH BEGONYA GAK ABIS-ABIS. CAPEK TEMENAN SAMA ELO, MICHAEL CABE TWIBOY!"

Sebenarnya, ketika Molly menerima mawar biru dari Mike, itu mengingatkannya akan kematian. Semakin cepat sahabatnya menyerahkan bunga itu, semakin cepat pula waktu itu menyusut.

Tiga hari lagi ia akan mati.

Mengapa waktu bisa secepat ini berputar?

***

WOY MANTEB BANGET YA GUE APDET

gue gak mau apdet cepet-cepet karena Molly nya udah mau mati woy gue sedih banget gak mau cepetan berakhir

apa gue ubah endingnya

yang mati jadi si Mike

HAHAHAHAHA DAH AH TAK JELAS AK

ivonne, calcutepie.

Blue RosesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang