11. EIRA, XANDER, DAN PENGIKUT MISTERIUS

4.5K 121 11
                                    

Tubuh Eira menegang ketika menyadari orang yang memeluknya. Tanpa berpikir dua kali ia langsung menginjak kaki Xander. Ya Xander! Orang yang sangat ingin Eira jauhi.

"Shh," ringis Xander ketika kakinya diinjak oleh Eira.

"Maksud lo apa bawa gue kesini? Lo gak puas dengan apa yang lo lakuin ke gue dan keluarga gue?" bentak Eira, emosi.

Xander tersenyum remeh lalu menarik Eira mendekat kepadanya dan menahan pinggang Eira. Posisi mereka cukup intim membuat Xander berpeluang besar melakukan hal lebih terhadap Eira.

Xander mengelus pipi Eira. "Eira gue kangen sama lo." Tubuh Eira bergidik ngeri mendapat perlakuan seperti itu.
"Gak usah sentuh-sentuh gue!" bentak Eira dengan tatapan bengis. Tanpa berbasa-basi Eira mendorong tubuh Xander lalu berjalan menuju pintu. Ia sedang sangat kesal dan lelah setrlah dipermainkan seperti ini.

Sebelum sempat meraih kenop pintu ia sudah kembali ditarik. Xander mencengkram tangannya begitu kuat hingga Eira tidak dapat berkutik.

"Jangan harap lo bisa kabur dari sini Eira!" geram Xander, matanya memerah dan rahangnya mengeras. Eira sadar bahwa ia sedang tidak dalam keadaan aman.

"Enggak! Lepasin gue sekarang!" berontak Eira, namun Xander sudah membopongnya seperti karung beras.

"Xander lepasin gue!" Xander sengaja menulikan pendengarannya. Ia membaringkan Eira diatas kasur dan mulai menindih gadis itu.

"Stop Xander! Lo gila!" bentak Eira, gila sekarang Xander mulai mengecup leher Eira dan sedikit bermain disana.
Eira tak dapat menahan air matanya yang mulai mengalir, tangannya juga tidak tinggal diam. Ia masih berusaha memukul bahu tegap Xander walau percuma. Tenaganya tidak akan sebanding dengan tenaga Xander.

Karena kesal dengan pukulan Eira, Xander kemudian menahan kedua tangan Eera keatas kepala gadis itu dan memerangkapkannya dengan satu tangan. Kemudian Xander melanjutkan aktifitasnya. Ia mencium wangi rambut eira yang sangat ia sukai.

"Udah Xander! Please!" Eira tampak memohon karena ia sudah tidak kuat saat ini. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi nantinya.

"Lo diam! Jangan sampai gue ngelakuin hal yang bakal lo sesalin nantinya!" ancam Xander.

Bagi Eira, dulu Xander adalah segalanya namun sekarang ia telah berubah menjadi monster jahat dan menjijikkan. Eira sudah pasrah menghadapi hidupnya ini dimana ia sudah kehilangan banyak hal dimasa lalunya.

"Jangan nangis sayang, gue gak mau lo lepas dari gue lagi," bisik Xander dengan suara seraknya yang terdengar sangat menjijikan.

Sebelum Xander sempat melakukan hal lebih seseorang mendobrak pintu ruangan itu. Hal itu membuat Eira merasakan sedikit bahagia karena ada yang menolongnya. Namun detik selanjutnya Eira sangat terkejut bersamaan dengan orang yang berada di bibir pintu.

"Savier," gumamnya.

Terdengar suara umpatan Savier. "Shit!"

"Bangsat lo Sav! Lo ngapain kesini hah!" maki Xander dengan penuh amarah.

Tanpa menunggu lama, Eira mendorong tubuh Xander secara paksa dengan segala tenaga yang ia punya untuk menyelamatkan diri namun sebelum itu tubuh Xander sudah terlebih dulu ditendang oleh Savier hingga tersungkur ke bawah kasur.

Eira bangkit dari kasur lalu berjalan kearah Savier tidak perduli dengan keadaannya sekarang. "Sav, tolongin gue!" Eira memohon sambil memegang lengan Savier, meminta perlindungan.

"Lo tunggu didepan pintu," perintahnya lalu kembali menerjang Xander dengan brutal. Ia sangat tidak mentolerir sebuah pelecehan terhadap wanita. Siapapun itu akan ia habisi. Apalagi masalah terbakarnya markas Gennaios membuatnya kesetanan.

          

"Brengsek lo Xander!" maki Savier.

Pukulan demi pukulan dilayangkan Savier kepada Xander sebelum sempat membalas Xander sudah kehilangan kesadarannya dengan wajar penuh memar.

Setelah melepaskan kekesalannya, Savier berbalik menatap gadis yang telah ia tolong. Lalu Savier melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Eira. Kemudian ia menggandeng tangan gadis itu keluar dari tempat itu.

"Gue antar lo pulang."

***
Motor Savier membela jalan ibukota. Angin perlahan-lahan merasuki tubuh Eira membuatnya mengeratkan jaket Savier yang membungkus tubuhnya.

"Savier, makasih udah nolongin gue," ujarnya ketika mereka berhenti di lampu merah.

Savier tidak membalas, suasana hening itu membuat Eira merasa canggung. Mungkin berbicara dengan Savier adalah hal yang salah. Apalagi setelah masalah yang telah ia perbuat diantara mereka.

Kok dia diam sih, gue jadi malu sekarang, batin Eira.

"Lo," jeda Savier, "Lo Eira?" tanya Savier.

Eira mengerutkan dahi. Maksudnya?

Aduh, mampus gue! Pasti Savier gak kenal gue. Penampilan gue dan disekolahkan beda, gerutunya dalan hati.

Jujur apa nggak ya? Aduh ngaku aja deh. Gak kuat gue, sambungnya lagi dalam hati.

"Jawab!" titahnya dengan suara yang menyeramkan.

Sorry Ser, gue takut sama Savier, batinya lagi, ia menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya.

"I-iya," cicit Eira.

Savier menjalankan motornya ketika pergantian lampu lalu lintas. Ia fokus menjalankan motornya tanpa membalas ucapan Eira.

Tiba-tiba Savier menaikkan kecepatan motornya membuat Eira mau tak mau memeluk Savier dengan kencang.

"Jangan lepasin pelukan lo," ujar Savier. Tanpa disuruh pun Eira pasti akan mengeratkan pelukannya. Ia tidak ingin jatuh dari motor.

Entah apa yang terjadi namun Eira merasa sesuatu yang aneh. Kemudian ia menoleh ke belakang. Sebuah mobil hitam memgikuti mereka.

Kok hari ini gue sial banget sih! batin Eira.

Saat berada di dekat lampu lalu lintas, Savier melesat kencang sebelum lampu kuning itu berganti menjadi warna merah. Akhirnya Savier menurunkan kecepatan motornya membuat Eira tenang.

"Savier, mereka siapa?" tanya Eira.

"Gue gak tahu," balasnya dingin. "Yang penting sekarang kita udah aman."

"Lo gak mau turun?" tanya Savier ketika mereka tiba disebuah mansion besar. Eira bergeming, kok dia bisa tahu rumah gue, batinnya.

"Ekhem, makasih Savier." Eira turun dari motor Savier. Tangannya beralih melepaskan jaket Savier namun di tahan pria itu.

"Lo simpan aja dulu," balas Savier, ia menutup kaca helmnya lalu bergegas pergi dari rumah Eira.

"Aduh, dia kok bisa tahu rumah gue ya? Mampus gue kalo ketahuan." Eira bergegas masuk ke dalam rumahnya. Untung saja kedua orang tuanya sedang di luar kota. Jadi mereka tidak akan mengetahui kejadian yang menimpanya.

Eira berjalan masuk ke kamarnya, lalu melepas pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi. Ia menghidupkan shower. Air hangat mengalir, memberikan ketenangan pada Eira.

"Masalah apalagi hari ini? Kenapa gue sial banget!" keluhnya. Mengapa banyak bahaya yang mendatanginya. Ia sudah berusaha bertahan selama ini namun mengapa masa lalunya kembali muncul.

Sesuatu terlintas dalam pikirannya, "kayaknya gue gak perlu kasih tahu Serra tentang masalah ini. Bisa parah nanti!"

Eira menganggukkan kepalanya. "Iya! Gue gak perlu kasih tahu dia untuk saat ini." Eira mematikan shower, lalu berjalan mengambilan handuk untuk mengeringkan badan dan rambutnya. Tidak lupa mengobati luka pada kakinya.

"Heuh, gue tidur aja deh. Capek banget." Eira beralih menutup lampu kamarnya lalu mulai masuk ke alam mimpi.

***
Disebuah ruangan besar yang berisi berbagai kendaraan mewah seperti mobil sport dan motor besar lainnya. Savier memarkirkan motornya setelah mengantar Eira pulang ke rumahnya.

Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Tentang Eira dan yang terjadi hari ini. Siapa Eira sebenarnya? Mengapa Eira bida berada di markas Streffon dan diruangan Xander? Dan Siapa yang mengikutinya dan Eira tadi?

Kepala Savier ingin pecah rasanya. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang tamu yang besar dan mewah milik keluarganya. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa. Tangannya merogoh ke dalam kantong celananya untuk mengambil ponselnya.

Savier mencari sebuah kontak seseorang lalu meneleponnya.

"Halo bos, ada apa?" sapa seseorang di dalam panggilan.

"Halo, Gue pengen lo cari tahu siapa yang ngikutin gue tadi, sekitar jam 6 sore!" perintah Savier.

"Lo bisa lacak dari GPS motor gue," sambungnya.

"Baik boss!"

"Hmm, bagus! Gue butuh hasilnya sesegera mungkin."

"Baik bos, segera saya kerjakan," balasnya.

Savier mematikan sambungan panggilan itu. Rahangnya mengeras, tatapanya menajam, "lihat aja nanti, bakal gue abisin lo sampe tujuh turunan."

SAVIERWhere stories live. Discover now