Bab 7 : Adikasa

7.8K 814 41
                                    

"Kucoba memahami, bimbangnya nurani. Terlalu banyak cinta yang datang dan pergi namun tak akan bisa lenyapkanmu dibenakku.
Tak Lekang Oleh Waktu - Kerispatih"

Rutinitas ini sungguh membosankan. Mungkin karena tubuhku sedang kurang fit. Bahu terasa kaku dan kepalaku terus berdenyut. Padahal ini baru tengah hari dan masih ada sisa paling tidak lima jam kedepan yang harus kulalui. Aku ingin cepat-cepat pulang. Tapi mobil yang sedang dikendarai Pak Guntur membawaku bertolak ke Ciwidey.

Aku merindukan Renggani, semalam saat aku pulang dan membawakan oleh-oleh untuknya dia sangat senang sekali. Aku bersyukur, dia bisa bahagia karena sedikit perhatian kecil dariku. Mama benar, Renggani anak yang sangat pintar. Usianya masih lima tahun tapi dia sudah pandai membaca dan berhitung. Belum lagi dengan kebisaan menyanyi dan menarinya. Hobby yang sangat kuyakini diturunkan oleh Fahrani.

Kukeluarkan ponsel dari saku jasku, dengan cepat mencari nomor Mama.

"Assalamualaikum, Ma...." Ucapku saat Mama mengangkatnya.

"Wa'alaikum salam. Ada apa, Di? Kamu udah makan siang?"

"Sudah, Ma. Renggani mana? Aku mau bicara." Tanyaku, dan kudengar Mama tertawa diujung teleponnya. Tawa yang menularkan senyum untukku. Sudah kubilang bukan, aku memang menjaga jarak dengan putriku setahun ini. Dan yang saat ini Mama pasti sangat senang, karena aku yang dulu sudah mulai kembali.

"Renggani lagi asik bikin kue sama tante barunya. Mama nggak yakin dia mau diganggu kamu." Aku mengernyit. Tante baru?? "Maksud Mama, Adistia. Itu lho anak bungsunya Ibun. Kamu inget, nggak?" ralat Mama. Aku langsung berpikir cepat.

"Adiknya Kak Alena?" Tanyaku ragu. Aku hanya mengenal Alena sebagai anak Ibun, karena aku sudah bertemu dengannya. Wanita cantik yang mempunyai anak kembar laki-laki berusia dua tahun.

"Iya, sebentar, sebentar... Mama udah sampai ke rumah Ibun." Terdengar suara gemerisik di seberang sana. Mama berteriak memanggil Renggani, dan dalam waktu singkat aku mendengar suara bingung Renggani mengucap kata "ayah". Sungguh, hatiku selalu menghangat mendengar ucapan itu.

"Assalamualaikum, Ayah...." Sapa suara kecil yang membuatku tersenyum.

"Wa'alaikum salam. Renggani sedang apa?"

"Aku lagi buat kue sama Tante Adis, Ayah. Udah selesai, sih. Kuenya enak bangeet. Ayah harus coba nanti."

"Renggani buat juga untuk Ayah?"

"Nggak sih, cuma aku udah minta sedikit tadi buat Ayah. Tante Adis baiiiiik banget." Jelas putri kecilku menggebu. Aku senang mendengar nada suaranya. Setelah beberapa hari lalu ia murung. Dia kembali bersemangat. Apa mungkin karena "tante barunya"? Aku menggeleng pelan karena julukan itu.

"Ya sudah, Renggani tidak boleh nakal ya. Ayah mau kerja dulu. Nanti Ayah usahakan pulang cepat."

"Siap Ayah!"

Jangan Takut MenikahikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang