Chapter 20: Death Wish

7.3K 603 12
                                    

Pernah mendengar tentang musuh yang menjadi sahabat? Well, itulah yang terjadi pada Annabeth dan aku. Selama dua hari terakhir, kami seperti direkatkan dengan lem. Padahal belum sampai dua bulan lalu kami tidak dapat berada sejauh lima meter dari satu sama lain tanpa berkelahi. Mungkin salah satu faktornya adalah ulang tahun kami yang berbeda dua hari.

Dia bahkan memberikan kado ulang tahun untukku tadi pagi. Tidak terasa aku sudah berumur empat belas tahun. Rasanya baru kemarin aku berulang tahun yang ke tiga belas. Rasanya baru kemarin aku mendapatkan surat dari Hogwarts. Waktu benar-benar cepat berlalu.

Annabeth bilang bahwa dia akan menyiapkan sesuatu untukku, bersama Rosie dan anak-anak Athena yang lainnya. Tetapi aku tidak boleh melihatnya. Coba pikirkan, bagaimana caranya aku melihat apa yang dikerjakan oleh Annabeth jika aku tidak tahu dimana dia mengerjakannya? Menurutnya aku memiliki rasa penasaran yang besar, dan ditambah dengan EBD-ku, rasa penasaran itu menjadi dua kali lipat lebih banyak.

Teman-teman dari Perkemahan Jupiter masih tinggal disini sampai besok. Mereka ikut membantu apapun yang Annabeth siapkan. Aku dapat bertahan dari makian orang-orang, aku dapat bertahan dari physical assault yang diberikan oleh para bully. Tetapi tidak dengan kebosanan. Aku paling anti dengan kebosanan.

Hari sudah sore ketika Annabeth menghampiriku di arena. Dia menutup mataku dengan kain dan menuntunku ke suatu tempat. Aku merasakan sesuatu yang dingin dan basah—pasir.

Ketika Annabeth melepaskan kain dari mataku, aku mendapati diriku tengah memandangi matahari terbenam. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku dapat melihat kue diatas sebuah selimut yang digelar di pasir. Semua orang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, tetapi aku merasa bahwa ada seseorang yang tidak ada disini.

“Dimana Rosie?” tanyaku.

Semua orang menatapku seperti tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu. Suasana sore itu dipenuhi kecanggungan.

Annabeth menghela nafas panjang. “Rosie sedang menjalankan sebuah misi rahasia. Dia pergi setelah makan siang dan dia bersikap resah. Maafkan aku, aku tahu kau pasti kecewa,”

Ya, itu benar. Aku kecewa.

Tidak butuh waktu lama untuk aku pergi meninggalkan pantai. Sampai ulang tahunku yang ketiga belas, setiap tahun ulang tahunku memang menyebalkan. Aku sempat berpikir bahwa mulai tahun lalu, saat ulang tahunku yang ke tiga belas, semua akan berubah. Ternyata aku salah. Seperti biasanya.

Malamnya aku bermimpi tentang Rosie. Dia berada di hutan, tengah melarikan diri, itu sudah terlihat di wajahnya. Baju Perkemahan Blasteran-nya sobek-sobek. Badannya penuh dengan luka. Aku dapat mendengar geraman-geraman anjing tidak jauh di belakang Rosie. Semoga itu bukan Ceberus, atau anjing neraka.

Rosie terus berlari tetapi dia berhenti mendadak—tanahnya habis. Dia berdiri di ujung tebing. Dari kejauhan, disebelah kiri, aku melihat jalan raya yang kosong—dipinggir tebing. Langit berwarna abu-abu, udaranya sangat dingin. Suara deburan ombak terdengar di bawah dan geraman itu terdengar semakin keras. Rosie membalikkan badannya ketika tiga anjing tinggi kuda poni melompat keluar dari hutan—Rosie terkepung. Sepertinya dia punya death wish, karena dia langsung melompat ke laut bebas.

Aku ingin menolongnya, tetapi aku tidak bisa bergerak. Kemudian aku melihat seorang laki-laki berambut perunggu bergerak secepat suara, berdiri di belakang tiga anjing itu. Seketika aku tahu bahwa dia adalah vampir.

“Jika dia selamat, aku dapat memastikan bahwa dia akan ada di La Push,” kata vampir itu.

Seekor anjing menggeram dan anjing itu menerkam kearahku.

Kemudian aku terbangun. Aku duduk di tempat tidurku dengan nafas terengah-engah. Aku berani bersumpah bahwa gigi anjing itu berjarak satu senti dari leherku. Apa yang terjadi dengan Rosie?

Shadow (old ver)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang