Transfer 28 [Memories of Secret ; The Beginning]

4.8K 362 21
                                    

Seminggu berlalu sejak ritual penyegelan. Kuro bertingkah dan berperilaku seperti sebelum dia melakukan ritual. Dia bersekolah, belajar dan bermain seperti anak kecil normal lainnya.

Bisa dikatakan tak ada perubahan berarti, namun teman temannya tak bisa berhenti merasakan aura jahat dan tak menyenangkan dari Kuro. Hal itu tentu saja membuat tak ada yang mau bermain dengannya atau menjaga jarak dari Kuro.

Meskipun tak ada teman bermain, bukan berarti Kuro sedih, kecea atau marah. Tak ada perasaan spesial seperti itu lagi di dirinya. Alasan kenapa itu terjadi, tentu karena meskipun dari luar dia adalah Kuro, namun di dalam jiwanya merupakan jiwa lain, yaitu Shiro.

Shiro bukanlah Kuro. Mereka mungkin berbagi kenangan dan perasaan, namun itu bukan berarti membuat keduanya memiliki keinginan kesukaan yang sama. Selain itu ada perbedaan besar yang membuat keduanya sangat berbeda.

Kuro adalah anak yang bertipe pendiam dan selalu memendam perasaannya, maka Shiro kebalikannya. Dia selalu mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa terlalu peduli dengan sekitarnya.

Shiro juga bisa dibilang ceroboh dalam menggunakan kekuatannya. Dia beberapa kali merusak permainan di taman dan dia tanpa ragu melompat dari lantai tiga hanya karena alasan bosan. Mungkin ini juga alasan kenapa sebagian temannya menjauhinya.

Hari ini, Kuro sendirian di taman bermain. Di kakinya sebuah bola sepak dia mainkan. Tak seperti anak kecil lain yang hanya menendang asal asalan, dia memainkannya seperti pemain sepak bola profesional.

Normalnya dia akan membuat orang disekitarnya kagum, namun yang dia tunjukkan bukanlah hal yang mengagumkan, namun menakutkan.

"...."

Kuro mengalihkan perhatiannya kepada sosok yang perlahan mendekat.

"Yo... Chi-chan. ..apa kau ingin bermain denganku?"

"..."

Chiaki masih terdiam dan hanya memeluk boneka beruangnya yang berukuran kecil. Dalam ingatan Kuro, Chiaki memang menyukai boneka Teddy Bear. Dia memiliki beberapa boneka dengan ukuran besar di kamarnya.

Tapi meskipun menyukai boneka, namun Chiaki bukanlah tipe anak kecil yang memainkan boneka untuk rumah rumahan.

"Kenapa kau menatapku dengan tatapan dingin seperti itu? Apa kau takut denganku seperti yang lainnya?"

Kuro memainkan bola dan menendangnya ke atas dengan keras. Bola itu menghilang dan Kuro kali ini menatap Chiaki dengan perhatian penuh.

"....jika dibilang takut, itu akan terdengar sangat lucu bagiku, Kuro-chan."

"Aku tak mengerti apa yang lucu disini?"

Kuro mendekat dan keduanya berhadapan satu sama lain.

"..benar, ini lucu. Daripada takut, mungkin lebih tepat jika aku saat ini marah. Kuro-chan, apa kau tahu kenapa aku marah?"

Setelah berpikir dan mengingat kembali apa yang terjadi di antara mereka, Kuro paham apa yang dirasakan Chiaki.

".....maaf karena waktu itu aku meninggalkanmu sendirian..? Aku lupa kalau kau hanya gadis kecil."

Kuro ingat meninggalkan Chiaki sendirian di hutan. Meskipun keduanya mengenal baik hutan itu, namun Chiaki tetaplah anak kecil. Dia akan ketakutan jika di tinggal sendirian di tempat seperti itu.

Kuro mengutuk dirinya di masa lalu karena tega melakukan itu kepada Chiaki.

Chiaki mendesah.

"Kau tak tak tahu kenapa aku marah? Ya ampun, sudah kuduga palsu tetaplah palsu."

Celestial Soul Online [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang