17. Yang Diperbaiki, Tidak Ada

4.1K 431 234
                                    

"Ketika semua hal terasa begitu baik hingga tidak bisa menjadi lebih baik lagi justru membuatmu bosan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ketika semua hal terasa begitu baik hingga tidak bisa menjadi lebih baik lagi justru membuatmu bosan. Ketika semua hal terlihat begitu salah hingga tak bisa diperbaiki lagi―adalah sebuah awal."

-oOo-

Rencana pernikahan. Nara tak menyangka jika dirinya sampai pada titik itu. Selama ini siklus hidupnya hanya terkait dengan pendidikan dan pekerjaan. Nara belum berpikir akan membangun komitmen dalam waktu dekat, tapi Javas membawanya pada satu sudut pandang baru. Dia menarik Nara agar naik pada fase hidup yang lain, yaitu pernikahan. Mungkin, kalau orangnya bukan Javas, Nara tidak akan sudi. Nara itu tipe wanita yang merasa jika pernikahan adalah hal yang tabu. Pernikahan diserupakan lubang hitam yang bila sekali saja dia masuk ke dalamnya tidak ada jalan kembali. Terlalu berlebihan sebenarnya, tapi bukan Nayyara namanya apabila tak berpikir sejauh itu.

Semua kepanikan dan ketakutan Nara soal pernikahan kian meningkat dari hari ke hari. Memang sih Nara berhasil merengek kepada Javas agar tidak memaksanya menikah dalam waktu dekat, paling tidak satu bulan waktu yang diperlukan Nara dalam mempersiapkan mentalnya. Sebagai gantinya, mereka bertunangan secara resmi, tepat dua minggu setelah Nara setuju menerima Javas kembali.

Pasalnya, Javas menggunakan jeda waktu itu untuk mengenalkan Nara kepada dunianya. Dia membawa Nara menemui Paman dan Bibi Mavendra, menjelaskan silsilah keluarga mereka. Puncaknya pada hari ini, Nara diundang ke Singapura berkunjung ke rumah utama Keluarga Besar Hwang. Kakek dan nenek Javas memang tinggal di sana. Nenek Javas ialah Elizabeth Hwang, satu-satunya keturunan dari Hwang Ji berdarah Korea―Amerika, pengusaha yang bergerak di bidang kuliner. Maka dari itu sebagai anak tunggal Elizabeth didaulat untuk merawat rumah utama. Sementara kakek Javas Sugiyono Mavendra adalah keturunan Jawa―Sunda yang kebetulan punya banyak usaha. Sugiyono cukup tangkas karena bisa menaklukkan Eli.

Hampir seluruh anggota keluarga Mavendra generasi ke dua, yaitu Tirtayasa, Brawijaya, Lituhaya, dan Manggala serta generasi ke tiga yaitu anak-anak dari generasi pertama takut pada Elizabeth. Bisa dibilang Eli ini memegang peran utama dalam mengendalikan anak dan cucunya. Kenyataan tersebut membuat Nara keringat dingin sepanjang perjalanan.

"Pakaian aku berlebihan nggak, Chatu?" tanya Nara pada pria yang berada di sampingnya. Nara merapikan gaun selutut sederhana bermotif bunga mawar. Cantik, kata itu mewakili Nara dan pakaiannya.

Nara dan Javas berada di mobil yang membawa mereka ke rumah kakek dan neneknya. Mereka baru sampai Singapura kemarin malam karena Nenek Eli mengundang sarapan. Iya, sarapan yang sangat pagi―jam 06.30 alasannya Nenek Eli dan Kakek Gyo akan terbang ke Italia untuk mendukung cucu kesayangan mereka si Cakrawala. Katanya Cakrawala ini ikut kompetisi ISU Grandprix of Ice Skating di Turin, Italia.

"You look gorgeous, Baby," jawab Javas sembari meraih jari-jari Nara yang terkepal. "Jangan takut, nenek dan kakekku tidak makan manusia," lanjutnya.

[Selesai] Perfectly Imperfect Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang