9O

3.6K 369 457
                                    

Final part, double update! Karena aku sangat mencintai kalian. Xixi🥺💚

"MAS DOYOUNG JANGAN PERGI!"

Misa terbangun dari tidurnya dengan posisi duduk dan tangannya seolah ingin menggapai Doyoung. Gadis itu berkeringat banyak. Misa membuka kedua matanya lebar. Ia meraba tubuhnya berkali-kali, merasa bingung dengan mimpi dan kenyataan sekarang.

Mark yang mendengar teriakan Misa ikut terbangun. Lelaki itu duduk kemudian mengusap matanya yang masih kelelahan, "babe, what's wrong?"

Misa menatap Mark, matanya berair, bibirnya bergetar dan pipi gembilnya memerah, setelahnya si manis mulai menangis dan memeluk tubuh tinggi suaminya dengan sangat erat. Menangis dalam pelukannya. Mark yang tidak mengerti apapun hanya mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Setelahnya ia memilih untuk balik memeluk dengan penuh erat istrinya, mengistirahatkan dagunya sendiri di bahu sempit gadisnya. Mark masih mengantuk kalian tau?

Waktu ngerasain Misa udah berhenti menangis dan yang tersisa hanya sesenggukan, Mark melepaskan pelukan keduanya. Ia genggam erat tangan istrinya, menatap si manis yang sedang menunduk dengan tatapan sedih.

Mark menghela nafasnya, ia usap wajah Misa yang basah akibat air mata itu menggunakan telapak tangannya. Mark tidak suka melihat istrinya menangis seperti ini.

"Sayang, kamu kenapa hm? Kenapa sampai nangis kayak gini? Kamu tau ngga aku terkejut setengah mati waktu denger kamu teriak kayak tadi?"

Misa mencebikkan bibirnya, "maaf, Mark. Aku.. aku cuma mimpi buruk tadi."

Mark mengusap rambut Misa yang ikut basah akibat keringat, dia angkat tubuh Misa, membawa sang gadis untuk duduk di pangkuannya. Misa memeluk erat leher Mark, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher lelaki itu, "mimpi apa? Mimpi apa sampai istriku nangis kayak gini, hm?"

"A-aku mimpiin Mas Doyi, Mark. Aku mimpi dia peluk aku, katanya jiwanya udah tenang kalo dia udah peluk aku. Kata dia juga anak perempuannya udah di titipin di panti asuhan dan dia pengen kita berdua hidup bahagia. Terus Mas Doyi mau pergi, aku larang tapi Mas Doyi gak mau denger aku terㅡ"

"Sayang?"

"Ung?"

"Kamu bilang apa? Jiwa? Jiwanya udah tenang? Anak perempuannya di titipin di panti asuhan?" Mark mengerutkan dahinya, bingung dengan pembicaraan istrinya.

Misa mengerjapkan matanya, ia remas ujung sweater yang Mark gunakan untuk tidur malam ini, "Markie, kamu jangan bercanda. Kamu kan tau semuanya, kenapa kamu malah nanya balik ke aku?"

"Sayang, Mas Doyoung sama Kak Jaerim ada di rumah. Jiwa siapa yang pergi? Dan lagi? Anak perempuannya di panti asuhan? Kamu lupa kalo Riko itu laki-laki? Kenapa kamu bilang dia perempuan? Dan gak mungkin kan kalo Mas Doyoung sama Kak Jaerim nitipin Riko di panti asuhan yang jelas-jelas aja mereka mampu buat hidupin anak itu?"

Misa melebarkan matanya. Masih mencerna semua yang Mark katakan di tengah malam ini. Tunggu.. tunggu sebentar. Jadi semuanya cuma mimpi? Misa bingung mana yang kenyataan dan mimpi sekarang.

"Markie, aku bingung mana mimpi dan mana kenyataan. Aku siapa, ini dimana? Siapa Kak Jaerim, akuㅡ"

"Sayang!" Mark masukin Misa kepelukannya. Mark harus menenangkan Misa yang mulai kelihatan panik dan kebingungan di saat yang bersamaan. Dia usap punggung sempit Misa, mulai menenangkan gadisnya dengan usapan perlahan, "calm down." Bisiknya.

Misa perlahan berhenti. Dia peluk erat tubuh Mark lagi. Dia takut sekali sekarang. Bingung mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. Takut jika dirinya melakukan kesalahan.

Pandora Box [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang