Tentang Tahta

15.5K 1K 26
                                    

"Anak-anak, lusa sekolah kita akan mengadakan acara camping di puncak. Kalian harus membawa barang yang benar-benar dibutuhkan. Pengumuman lebih lengkap dapat kalian baca di mading sekolah. Persiapkan diri kalian, jaga kesehatan. Sekian dari saya, terimakasih."

Tak berselang lama setelah Pak Saiful -kepala sekolah- berlalu, seluruh siswa ikut membubarkan diri dari barisan-barisan di lapangan. Aku melangkahkan kaki menuju sesosok pria yang tengah sibuk menatap bunga digenggamannya.

Gana. Ia tak berkedip menatap bunga putih rapuh itu. Aku menghampirinya sembari tersenyum. Aku berada di sampingnya, namun ia sama sekali tak menyadari kehadiranku.

Aku menatap bergantian Gana dan bunga ditangannya. Semilir angin membawa terbang serpihan bunganya. Gana berdecak sebal lalu membuang tangkai bunga tersebut.

"Kenapa ia serapuh itu? Kenapa angin sangat jahat merusak kehidupannya?" ucapnya pelan.

"Angin memang jahat menghancurkan hidupnya. Namun ketahuilah, angin juga yang membawanya hidup lagi di tempat lain."

Gana menoleh, lalu tersenyum tipis.

"Benarkah?"

Aku mengangguk, lalu berbisik, "Jangan menilai dandelion lemah, sebenarnya ia kuat. Sebesar apapun cobaan menimpa hidupnya, ia akan terus bertahan meski keadaannya sudah berbeda."

Gana menggengam tangan kananku dengan kedua tangannya. Ia menatapku dengan tatapan yang tak dapat ditafsirkan.

"Kamu juga harus seperti dandelion. Jangan pernah patah semangat. Bisa jadi hal buruk yang menghancurkan hidupmu malah membawamu ke kehidupan yang lebih baik," ucapnya.

"Baiklah, kamu juga harus seperti dandelion. Janji?"

"Janji," ucapnya kemudian disambut tawanya.

"Oh, iya, Al. Nanti sore kamu ke rumah, ya. Aku meminta bantuanmu," ucap Gana.

"Bantuan apa?"

Gana membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya di telingaku.

"Bantu aku menghabiskan kue buatan mama, sekalian kita bermain PS. Setuju?" bisiknya.

Aku tersenyum dan dengan antusiasnya mengangguk.

"Setuju, aku rindu dengan kue imut-imut buatan bunda, hehe."

"Kalau begitu nanti sore aku akan pergi menjemputmu."

"Siap, Bos."

"Kalian akan pergi kemana?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dan menampakkan ekspresi ingin tahunya, Thea.

Gana yang masih setia dengan senyumnya menatap Thea. "Tidak kemana-mana. Aku mengajak Alea pergi ke rumahku karena mama rindu Alea."

"Oh," jawab Thea dengan nada sarkastis.

Thea melemparkan tatapan tajamnya kearahku, rupanya ia tengah cemburu atau entahlah, aku kurang tahu jelasnya.

"Kenapa kamu tidak mengajakku? Kenapa harus Alea?" tanyanya sembari menekan setiap kalimatnya.

"Lo lupa atau pura-pura lupa? Alea tunangan Gana."

Aku menoleh ke sumber suara. Aldo, Rendy, dan Aruna mendekat sambil tersenyum mengejek.

"Gue nggak lupa. Apa salah gue tanya begitu?" tanya Thea sinis.

"Nggak ada salahnya, sih. Tapi bukankah Gana berhak atas Alea?"

Thea tak menjawab pertanyaan Rendy.

"Memang lo siapa Gana berhak mengatur hidup Gana? Pacar bukan, tunangan bukan," ucap Aruna pedas.

"Ingin tahu jawabannya?"

"Memang apa jawabannya?"

"Tanya pada Gana," jawab Thea singkat.

"Gana, apa jawabannya?" tanyaku sembari menunduk.

"Thea--,"

"Aku punya tahta tertinggi di hati kamu, kan, Gana?" sambar Thea.

Dengan berani, aku menatap Gana dan mata kami bertemu. Rupanya ia mengetahui air mukaku yang berubah sendu, ia tersenyum kepadaku lalu kembali menatap Thea.

"Maaf, Thea. Alea yang menempatinya, bukan kamu," ucap Gana tenang.

Aku tersenyum lega. Sekalipun cinta Gana telah terbagi, aku bersyukur karena Tuhan dengan baiknya tetap menjadikanku sebagai salah satu wanita terpenting dalam hidupnya selain mamanya.

Aku mendengar suara isakan, aku menoleh dan mendapati Thea tengah menyeka air matanya yang mengalir deras.

"Kamu jahat, Gana."

"Bukan Gana yang jahat, tapi lo. Lo udah merebut Gana dari Alea. Tetapi syukurlah, Tuhan masih menempatkan Alea menjadi bagian terpenting untuk Gana," ucap Aldo.

Mendengar penuturan Aldo, Thea berlari meninggalkan kami. Aku menatap Gana yang sepertinya akan mengejar Thea.

"Kalau kamu ingin mengejarnya, kejarlah. Aku-aku tidak apa-apa," ucapku terbata.

Gana mendekat, lalu menggenggam jariku.
"Tidak, Al. Aku tidak ingin menyakitimu lagi."

☜⭐☞

Fatamorgana | ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang